• 13/08/2019

Arah Baru Jamiyah Persatuan Islam (Jelang Muktamar Persis 2020)

Oleh : Rofik Husen

Persis didirikan tahun 1923 sebagai sebuah kelompok kajian keislaman di Bandung. Bermula dari beberapa orang, seiring waktu, kelompok kajian tersebut semakin banyak, terlebih dengan datangnya Tuan Hassan dengan segala pesona dan kharismanya.

Dalam setiap organisasi, selalu ada kelompok kecil yang memberi arah dan warna organisasi tersebut. Kelompok kecil ini bisa dalam berbagai bentuk, bisa masuk dalam pucuk pimpinan di struktur organisasi tersebut, atau bisa juga dalam bentuk badan atau lembaga yang memiliki kewenangan khusus dan sering disebut kelompok ‘elit’.

Kelompok ‘elit’ Jamiyah Persatuan Islam di masa sekarang bernama Dewan Hisbah dan sekitar tahun 90-an ditambah Dewan Tafkir, sehingga terkesan memisahkan dua kutub keilmuan, berbeda dengan masa awal Persis berdiri yang hanya memiliki 1 lembaga elit bernama Majelis Ulama, yang ternyata anggotanya bukan hanya yang berstatus anggota Persatuan Islam, namun juga ada anggota ormas lain, sebagai contoh adalah bergabungnya Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy sebagai anggota Majelis Ulama Persis padahal beliau notabene orang Al Irsyad.

Sebagai sebuah organisasi yang lahir dan berkembang dengan dasar keilmuan, maka di usianya yang hampir 1 abad ini, Persis harus memiliki arah baru agar bisa tetap eksis, syukur-syukur bisa memberi warna setidaknya ke ormas sejenis, karena harus diakui, saat ini warna yang mendominasi ormas keislaman di Indonesia hanyalah 2 : Muhamadiyah dan Nahdatul Ulama, yang lainnya tidak.

Bertitik tolak dari dominasi 2 warna tersebut, agar Persis atau ormas Islam lain bisa menghamparkan alternatif warna yang berbeda, maka mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, semua ormas Islam harus melakukan perubahan keorganisasian secara struktural, komprehensif dan sistematis, terutama dalam aspek pola pikir dan budaya organisasi.

Perubahan ini harus dilakukan segera dan gradual, agar organisasi bisa bertahan dan relevan dengan situasi masa depan. Perubahan sikap juga harus merata terhadap tiap individu yang tergabung dalam organisasi dari level atas sampai terbawah sekalipun.

Setiap jenjang pimpinan beserta anggotanya harus bersama-sama melakukan perubahan bersama dan dilakukan secara jujur dan berintegritas.

Mengutip tulisan Irfanenjo, Founder AB Com (Arah Baru Community), berikut ini perubahan yang harus dilakukan oleh Persis :

01. Perubahan pola dari Instruksi ke Diskusi

Organisasi dengan gaya-gaya instruksi yang dominan harus di tinggalkan. Organisasi yang baik, mengedapankan diskusi serta membuka luas eksplorasi ide, agar semua potensi individu dalam organisasi tumbuh dan berkembang. Libatkan semua individu dalam merancang masa depan organisasi agar organisasi kaya gagasan dan kontribusi. Jadikan individu dalam organisasi sebagai unsur kolaborasi yang kreatif bukan sekedar tentara yang menunggu komando.

02. Perubahan pola dari Previlege ke Kontribusi

Setiap individu harus di apresiasi karena kontribusinya bukan karena previlege. Kontribusi individu dalam organisasi adalah sumbangsih individu dalam organisasi, maka layak di apresiasi. Sehingga organisasi menjadi ladang “fastabiqul khoirot”, ladang berlomba berbuat terbaik untuk organisasi. Optimalisasi potensi individu berorientasi pada kontribusi.

03. Perubahan pola dari Posisi ke Fungsi

Organisasi yang baik berorientasi pada fungsi-fungsi individu dalam organisasi bukan lagi sekedar berebut posisi. Kompetensi dan fungsi yang menentukan posisi, bukan posisi yang menentukan kompetensi dan fungsi.

04. Perubahan pola dari Individual ke Kolaborasi

Organisasi yang baik adalah organisasi yang mengandalkan kolaborasi bukan individual. Organisasi yang mampu menjadi besar dan bertahan lama adalah organisasi yang lebih mengandalkan team work daripada kebintangan seseorang.

05. Perubahan pola dari Asking ke Thinking

Organisasi yang baik adalah organisasi yang senantiasa banyak berfikir dan memikirkan masa depan organisasi, bukan sekedar bertanya ini dan itu. Jika ada masalah di organisasi maka tiap individu berfikir untuk mencari solusinya bukan lagi membahas apa masalahnya. Tiap individu dalam organisasi harus terus-menerus diasah kemampuan berfikirnya agar dapat menciptakan organisasi yang produktif.

06. Perubahan pola dari Populis ke Strategis

Organisasi masa depan adalah organisasi yang memilih aktivitas strategis daripada populis. Setiap aktivitas organisasi harus strategis memberikan manfaat bagi organisasi, masyarakat dan punya efek jangka panjang. Bukan sekedar memenuhi target-target jangka pendek tapi jauh dari tujuan jangka panjang.

07. Perubahan pola dari Responsif ke Forecasting

Organisasi yang baik adalah organisasi yang mementingkan forecasting (prediksi, peramalan, perencanaan) daripada responsif. Organisasi yang terlalu responsif adalah organisasi yang akan dikendalikan oleh situasi dan kondisi. Organisasi yang terlalu responsif akan terjebak pada situasi dan kondisi yang diciptakan orang lain.

08. Perubahan pola dari Medioker ke Take Risk

Organisasi masa depan adalah organisasi yang berani ambil inisiatif dan berani ambil resiko. Organisasi yang berani meninggalkan zona nyaman dan juga punya nyali berlawanan dengan mainstream (arus utama). Bukan organisasi medioker, yang merasa nyaman di zona aman dan tidak berani mengambil tantangan.

09. Perubahan pola dari Logistik ke Kompetensi

Ada istilah yang mengatakan beri kail jangan ikan. Kail adalah alat untuk mendapatkan ikan. Organisasi yang baik adalah organisasi kail yang bisa mendapatkan banyak ikan. Kompetensi adalah kail, logistik adalah ikan.

10. Perubahan pola dari Narasi ke Gerakan

Organisasi masa depan adalah organisasi yang harus memiliki narasi yang kuat tetapi narasi itu bisa menjadi gerakan. Narasi tanpa gerakan ibarat teori tanpa praktek atau buku manual tanpa mesin. Organisasi yang baik adalah organisasi organik, bisa bergerak dan merealisasikan semua narasi menjadi kerja-kerja nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *