Pendidikan & Lingkungan

oleh : Rofik Husen

Apa yang kurang dalam sistem pendidikan kita sehingga masalah lingkungan belum tertangani secara tuntas ?

UUD 1945 mengatur masalah pendidikan dalam satu pasal khusus yaitu Pasal 31, yang berbunyi :
– Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
– Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang.

Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Sebagai implementasi dari UUD 1945, maka disusunlah UU No 20 tahun 2003, yang beberapa hal penting didalamnya diantaranya sebagai berikut :
– Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat
– Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Prinsip penyelenggaraan pendidikan :
– Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
– Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
– Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
– Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
– Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
– Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Melihat uraian di atas, maka secara normatif, sistem pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah lengkap dan mencakup berbagai aspek kehidupan, meliputi aspek kognitif, afektif, & psikomotor, dan semuanya diawali dengan kalimat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang memberi arti, semua kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh seluruh peserta didik di Indonesia selalu dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan.

Bila muncul pertanyaan, mengapa berbagai masalah muncul di Indonesia mulai dari yang bersifat lokal seperti kenakalan remaja, kecurangan saat Ujian Nasional, atau yang bersifat nasional seperti korupsi, kerusakan lingkungan, dan berbagai masalah berat lainnya, maka jawabannya akan sangat rumit dan kompleks karena ujung pangkal permasalahannya sudah susah untuk dilacak, bagaikan sebuah benang kusut.

Sebagian orang menyebut ujung pangkal permasalahannya adalah masalah ekonomi, sebagian yang lain berpendapat diakibatkan oleh lemahnya penegakkan hukum, sebagian yang lain mengatakan akibat dikurasnya kekayaan alam oleh orang asing, dan berbagai alasan lainnya.

Semua alasan itu sah-sah saja, sesuai sudut pandang masing-masing. Namun saya secara pribadi memandang bahwa semua permasalahan yang terjadi pada bangsa ini adalah karena pemerintah, dalam hal ini pemegang kekuasaan eksekutif dan legislatif tidak serius dalam menangani masalah pendidikan.

Berbagai aturan dan kebijakan tentang pendidikan sebenarnya telah dibuat cukup banyak oleh para pemangku kekuasaan, sejak dari berdirinya Republik ini sampai sekarang.

Tiap tahun selalu diterbitkan aturan yang diharapkan memperbaiki sistem yang telah ada. Namun yang terjadi adalah walaupun berbagai aturan dikeluarkan, ternyata wajah pendidikan di Indonesia tetap tidak berubah.

Karena ternyata, masalahnya bukan pada tiadanya aturan, tapi bahwa aturan yang telah ada dan tersedia lengkap itu tidak pernah diimplementasikan secara utuh dan menyeluruh.

Bahkan seringkali terjadi tatkala sebuah kebijakan baru saja diimplementasikan, dikarenakan terjadi pergantian di pucuk pimpinan yang merasa punya konsep yang berbeda dari pemangku kebijakan sebelumnya, maka kebijakan yang masih belum terimplementasikan seluruhnya itu harus diganti oleh kebijakan baru, yang tentu saja akan membingungkan obyek kebijakan.

Dalam hubungannya dengan masalah lingkungan yang belum tertangani secara tuntas, bahwa untuk menetapkan dan mengimplementasikan kebijakan yang bersifat umum saja, pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia ini masih menyisakan tugas besar guna perbaikan, apalagi kebijakan-kebijakan yang bersifat teknis seperti masalah lingkungan, mungkin belum sempat terfikir atau cuma dalam bentuk wacana saja.

Oleh karena itu, proses edukasi dan advokasi kepada masyarakat agar mulai menyadari arti penting lingkungan bagi kehidupan tidak perlu menunggu arahan atau intruksi dari atas.

Tapi masing-masing institusi dan komunitas pendidikan mulai bergerak dengan caranya sendiri disertai adat dan budaya masing-masing, mulai menggali dan menerapkan kearifan lokal dalam menangani masalah lingkungan yang ada di wilayahnya.

Dengan cara ini, sedikit demi sedikit gulungan bola kusut permalasahan pendidikan di Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan masalah lingkungan akan mulai diurai dan di tata dengan baik.

Memang semua itu butuh waktu, tapi sebagaimana penyair Kahlil Ghibran menyatakan bahwa langkah kaki yang ke-1000, diawali dari langkah kaki yang ke-1.

Oleh karenanya, carut marut masalah pendidikan dan rusaknya lingkungan yang ada di Indonesia, pada akhirnya akan terselesaikan manakala tiap diri menyadari peran dan posisi masing-masing, dan mulai bekerja secara serius di bidangnya masing-masing.

Semoga, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, Indonesia akan kembali pada track semula sebagai bangsa yang berbudaya luhur, memiliki kearifan lokal yang terimplementasikan dengan baik, sehingga alam dan kekayaan yang dimiliki bangsa ini akan terus memberi manfaat kepada generasi-generasi manusia Indonesia berikutnya.

Semoga…. (/RH)

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *