Catatan Jelang Musda Persis Kota Bandung

oleh : Rofik Husen

Rabu, 28 Agustus 2019 yang akan datang, keluarga besar Persatuan Islam Kota Bandung beserta ‘istrinya’ Persistri Kota Bandung, akan melaksanakan hajat rutin 4 tahunan berupa Musyawarah Daerah yang akan dilaksanakan di Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Kota Bandung. Selain melaporkan hasil kerja selama 4 tahun ke belakang, serta merancang program kerja 4 tahun mendatang, Musda memiliki agenda penting lainnya, yaitu pemilihan Ketua PD Persis Kota Bandung

Kota Bandung memiliki tempat khusus dalam sejarah panjang pergerakan Jamiyah Persatuan Islam, karena secara de facto dan de jure, organisasi ini lahir dan berkembang di Bandung. Salah satu tokoh fenomenalnya yaitu A Hassan bahkan dikenal pula dengan sebutan Hassan Bandung, menandakan betapa lekatnya hubungan Bandung dengan organisasi Persatuan Islam atau Persis ini

Jelang seabad Persis, Bandung akan kembali tercatat dalam sejarah Persis, karena ‘kabarnya’, Muktamar Persis 2020 yang akan datang, akan dilaksanakan di Bandung, setelah pada Muktamar sebelumnya selalu dilaksanakan di luar Bandung, seperti 2010 di Tasikmalaya dan 2015 di Jakarta

Sebelum pelaksaan Muktamar 2020, di internal Kota Bandung sendiri akan segera dilaksanakan Musyawarah Daerah yang akan menjadi nahkoda Persis Kota Bandung masa jihad 2019 -2023, sekaligus akan memiliki peran penting dalam muktamar nanti karena bertindak sebagai ‘sohibul bait’ Muktamar Persis.

Dengan demikian, siapapun yang terpilih sebagai nahkoda PD Persis Kota Bandung nanti akan memiliki peran yang penting dan menantang, karena sekaligus akan menjadi aktor penting dalam keberhasilan Muktamar jelang seabad usia Persis.

Maka, tulisan ini dibuat sebagai oleh-oleh sekaligus kado pertama dari kami, sebagai anggota Persis yang berdomisili di Kota Bandung tercinta.

Sebagai ‘orang’ yang ditaqdirkan pernah mendapat amanah sebagai Bidang Garapan Pendidikan di PD Persis Kota Bandung masa jihad 2011 – 2015, kami ingin memberikan ‘catatan’. Boleh dianggap masukan, saran, rekomendasi, atau hanya igauan saja.

Catatan ini secara umum terbagi 3 hal :
1. Sumber Daya Manusia
Sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, warna penduduk Kota Bandung sangat beragam, demikian juga dengan masyarakat yang masuk menjadi anggota Persis dan Badan otonomnya.

Terdapat beberapa saran dalam hal pengelolaan SDM Persis di Kota Bandung ini, sebagai berikut :

a. Identifikasi anggota Persis secara detail, terutama dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan status sosial, hal ini penting karena Persis sebagai organisasi kemasyarakatan yang mengklaim sebagai ormas berbasis dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, tentunya harus mempunyai ‘nilai lebih’, terutama pada 3 aspek tadi
Selenggarakan forum kajian secara rutin, setidaknya 3 bulan sekali, guna membicarakan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi kegiatan yang dilaksanakan, jadi pelaksanaan program tidak lagi mengandalkan tasykil PD yang jumlahnya terbatas, tetapi berbasis anggota sesuai keahlian masing-masing

b. Selenggarakan kajian-kajian kekinian, bekerjasama dengan instansi atau ormas lain, yang bertujuan memperkenalkan Persis, baik dari sisi ideologi, konsep, ataupun program kegiatannya. Karena harus diakui, pertumbuhan keanggotaan Persis di Kota Bandung tidak begitu ‘memukau’, bahkan terkesan hanya berisi orang-orang lama saja.

c. Bagi anggota yang tidak memiliki keahlian khusus, buat peta khusus. Lakukan pembinaan secara konsisten dan sistematis, karena kami punya prinsip, semua orang pasti bisa memberi manfaat, sekecil apapun mafaat tersebut. Tidak ada yang sia-sia.

2. Optimalisasi Aset
Harus diakui, pertumbuhan jumlah anggota Persis di Kota Bandung tidaklah sepesat tetangganya, Kabupaten Bandung atau Kabupaten Garut, hal ini berdampak pada terbatasnya aset yang dimiliki Persis Kota Bandung.

Namun, walau kondisinya demikian, karena Kota Bandung adalah ibukota provinsi, sehingga ‘nilai’ aset yang ada di ‘ibukota’ provinsi tentu lebih ‘mahal’ dibanding aset yang berada di luar ibukota provinsi.
Oleh karena itu yang diperlukan adalah optimalisasi aset yang ada agar memiliki nilai yang sepadan dengan posisinya di ibukota provinsi.

Sarannya adalah sebagai berikut :
a. Terletak di ibukota provinsi, apalagi Kota Bandung juga merupakan ibukota Persis, sudah seharusnya PD Persis Kota Bandung setidaknya memiliki 1 media elektronik seperti TV lokal atau Radio, yang bisa dijadikan percontohan bagi daerah lainnya dalam mengelola media elektronik berbasis dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Lahan sangat memungkinkan, karena beberapa lahan terletak di posisi yang strategis dan di pusat kota seperti Pesantren Pajagalan dan Kantor PD Persis Kota Bandung

b. Di Kota Bandung terdapat 5 Pesantren yang selama ini perannya hanya sebatas fungsi pendidikan, belum merambah pada aspek lainnya, padahal Pondok Pesantren, bila dioptimalkan bisa berperan pada berbagai aspek, seperti ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Bahkan lebih jauh lagi, lembaga pendidikan sebenarnya bisa menjadi Badan Usaha Milik Jamiyah bila segalanya disiapkan secara profesional

c. Ratusan Masjid, Madrasah, dan lahan wakaf yang dimiliki PD Persis Kota Bandung saat ini, hanya berfungsi sebagaimana fungsi tradisional masjid dan madrasah pada umumnya, belum tergali secara optimal. Padahal bila mau melihat peran masjid-masjid lain di sekitar Bandung saja, fungsinya sudah lebih dari itu, seperti Masjid Salman ITB, Istiqomah, Habiburohman, Al Latief, dan berbagai contoh masjid masyarakat lainnya yang mampu mengupgrade fungsi masjid dari sekedar tempat ibadah ritual, naik fungsi menjadi tempat ibadah yang memiliki peran sosial bahkan ekonomi. Ini semua masalah konsep, gagasan, dan inovasi. Apakah masjid-masjid Persis selamanya akan menjadi tempat ibadah ritual semata, atau akan meningkatkan fungsinya menjadi tempat ibadah sosial ekonomi. Keputusan ada di tangan Ketua PD Persis terpilih nanti

3. Perubahan Paradigma Kegiatan Kejam’iyahan
Muhamadiyah sudah sangat dikenal dengan amal usahanya. Ratusan rumah sakit, ribuan sekolah telah didirikan. Keberadaan itu semua telah dirasakan langsung oleh masyarakat. Tidak perlu malu untuk mencontoh orang lain kalau memang baik.

Sudah saatnya paradigma kegiatan Persis bertambah, dari dakwah yang hanya berorientasi ukhrowi, ditambah dakwah yang menyentuh kebutuhan duniawi. Bidang apa yang akan dirambah, bisa dibicarakan bersama.

Bila selama ini Persis sudah berhasil mendirikan Pesantren Persis sebagai bukti sumbangsih Jamiyah di bidang pendidikan, maka sudah saatnya merambah bidang lain, agar keberadaan organisasi ini tidak bersifat ekslusif bagai menara gading, tetapi diharapkan mampu memberi kontribusi yang lebih luas pada masyarakat. Syaratnya, semua doktrin yang selama ini melekat dan berdampak pada sifat ‘ananiyah’ harus dikikis habis, digantikan oleh semangat Islam sebagai rohmatan lil ‘alamin

Semoga Ketua PD Persis Kota Bandung terpilih bisa mewujudkan mimpi-mimpi kami, agar kelak Persis dikenang karena memiliki sumbangan nyata bagi bangsa dan negara, dan bukan dikenang sebagai fosil sejarah masa lalu yang hanya bisa dinikmati di museum. (/RH)

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *