• 03/09/2019

7 Warna Pelangi #1

Satu Cahaya

Oleh : Usep Saepulloh

Jika kawan berkesempatan ke Garut, turunlah di terminal Guntur, dari sana naik angkot 07 jurusan Terminal Guntur-Sukawening. Ketika melewati jalan Guntur, kawan akan melihat plang Persatuan Islam No. 19 Bentar Garut, turunlah di sana, masuki jalan yang hanya selebar satu mobil truk itu, kira-kira lima puluh meter, kawan sudah berada di lingkungan pesantren kami.

Teruslah berjalan lima langkah hingga pinggir lapangan yang luasnya hanya selebar lapangan bulu tangkis. Lalu, tengoklah ke kiri, terus ke atas hingga bangunan paling atas, kawan akan melihat kamar kami yang tampak seperti kandang merpati berskala besar itu.

Jika kawan sedang mujur, pagi setelah turun hujan, maka kawan akan melihat busur spektrum besar, biasan cahaya matahari ketika melewati prisma yang terbentuk dari butir-butir air.

Itulah tujuh warna pelangi. Ujung yang mengarah ke horizon berada tepat di belakang kamar kami. Indah sekali. Jika kawan tidak melihatnya, bayangkan saja pelangi itu muncul di sana, bayangkan tujuh warna itu melesat ke angkasa membentuk spektrum, atau, bayangkanlah kami bertujuh sedang berdiri di sana, menatapmu, tersenyum padamu, melambaikan tangan padamu, kawan.

Sebagaimana tujuh warna pelangi yang berbeda-beda itu, mereka tetap berasal dari satu cahaya putih yang menyilaukan, sinar matahari. Maka kamipun tujuh santri dengan warna kulit berbeda, sifat berbeda, karakter berbeda, latar belakang berbeda, hoby berbeda, cita-cita berbeda, tapi kami punya satu tujuan, menyebarkan cahaya Islam dengan cara kami masing-masing.

Kami, ketujuh warna pelangi itu, kini melesat dari horizon ke angkasa, untuk menyongsong masa depan dan menggapai cita-cita kami, meskipun apa yang kami raih berbeda-beda, tapi ujung cahaya kami tetap berada di horizon kami, kaki kami tetap menapak pada horizon kami, pesantren.

Maka, kawan, mari kuceritakan hari-hari belajar kami yang menyenangkan itu, ketika prestasi akademik itu tidak penting lagi bagi kami, ketika berbagai macam disiplin ilmu yang semu itu kami abaikan, ketika hari-hari belajar kami isi dengan menyalurkan hobi dan bakat kami, ketika kami mengikuti kata hati kami, ketika kami dianggap bodoh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *