• 04/09/2019

7 Warna Pelangi #2

Putera Jawara

oleh : Usep Saepulloh

Seorang anak laki-laki keluar dari hutan. Agaknya ia selesai berburu, tapi tidak satu pun hewan hasil buruan dibawanya. Wajahnya tampak kecewa. Ia tidak putus asa, mata tajamnya terus liar mengawasi sekelilingnya, berharap ada gerakan dari hewan apa saja yang akan diburunya. Tangan kanannya memegang busur, tangan kirinya memegang ujung anak panah yang menempel pada busur, siap ditarik untuk ditembakkan. Sudah seharian ia keluar masuk hutan mencari hewan untuk diburu, tapi ia tidak menemukan satu hewan pun di sana.
“Kita pulang saja!”

Agaknya ia sangat kesal. Hari sudah menjelang sore, masih saja tidak ada satu pun buruan yang ia dapat. Anak lelaki itu tampak berdebat sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Jika ada seseorang yang melihat tingkahnya, tentu orang itu akan menganggap anak kecil itu gila, karena anak kecil itu terlihat bicara sendiri. Padahal anak itu sedang berbicara dengan makhluk yang tidak terlihat orang biasa.
Anak itu berjalan menuju rumahnya dengan posisi anak panah masih menempel pada busur, hingga ia sampai ke halaman belakang rumah.
“Kijang!”
Anak itu berteriak, ia sangat gembira. Jauh-jauh ia berburu ke hutan, ternyata buruannya itu sekarang ada di pekarangan rumahnya.
“Panah saja!”
“Betul, panah saja, Pur!”

Suara-suara yang hanya terdengar oleh anak itu, terus mendesak Purnomo supaya melesatkan anak panahnya.
Ia angkat busur itu hingga bagian tengahnya sejajar dengan matanya. Tali busur ia tarik ke belakang hingga hampir mencapai matanya, limb busur melengkung lebih dalam, lalu energi gerak tarikan tali busur berubah menjadi energi potensial pegas. Anak panah itu melesat menuju sasaran.
Clep!!
Terdengar erangan kesakitan dari kijang itu, anak panah itu menembus kakinya. Hewan lemah itu berjalan tertatih-tatih, buruan itu masih hidup. Purnomo belum puas, ia mengambil anak panah kedua, tali busur ia tarik kembali ke belakang. Siap meluncurkan anak panah kedua.
“Purnomo!!!”

Suara yang sangat ia kenal mengagetkan anak lelaki yang dipanggil Purnomo itu. Anak panah itu jatuh ke tanah. Ia semakin kaget ketika melihat buruannya. Seperti bangun dari mimpi. Kijang itu telah berubah menjadi seorang wanita dengan betis tertembus anak panahnya. Wanita itu melambaikan tangan padanya agar Purnomo mendekat. Berjalan tertatih-tatih sambil menahan perih, menuju ke arahnya. Air mata wanita itu mengambang. Wajahnya tersenyum. Tidak tampak sedikitpun amarah di wajah penuh kasih sayang itu.
“Ibu?”

Purnomo melempar busur panahnya, ia melangkah maju hendak menyambut ibunya. Tapi teriakan berat berikutnya menghentikan kakinya, lelaki kekar itu mengacungkan sebatang rotan sambil berlari menuju anak yang memanah ibunya itu. Purnomo berlari kembali ke dalam hutan.
“Sudah pak! Purnomo tidak salah! Purnomo tidak salah!”
Wanita yang dipanggil ibu oleh Purnomo itu terus berteriak, meminta suaminya agar jangan menghukum Purnomo. Wanita itu tahu jika Purnomo di bawah pengaruh makhluk yang tidak terlihat. Amarah yang ada di kepala lelaki itu membuat telinganya tuli, ia terus mengejar Purnomo hingga ke tengah hutan.

* * *

Purnomo anak bapak Bahdar, salah seorang jawara di wilayah Ogan Komering Ilir. Satu-satunya anak lelaki dari tujuh bersaudara. Ia menjadi putera kesayangan. Disayangi kedua orang tua dan tiga kakak perempuannya dan sangat disegani oleh tiga orang adik perempuannya.
Bapak Bahdar terlanjur sayang pada putera satu-satunya itu, ia menurunkan ilmu yang dimilikinya pada Purnomo sejak usianya masih belia. Ilmu kanuragan yang seharusnya baru bisa dimiliki Purnomo setelah anak kecil itu aqil balig.

Purnomo memang berbakat, ia bisa dengan mudah menyerap seluruh ilmu kanuragan yang diajarkan ayahnya. Ilmu yang dipelajarinya merupakan ilmu hitam yang akan menjerumuskan penguliknya ke dalam jurang kenistaan, musyrik. Bapak Bahdar tidak mau tahu urusan itu. Yang ia tahu, dengan ilmunya itu ia bisa membela dirinya dan keluarga. Ilmu itu pun bisa ia gunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya.

Purnomo hanyalah anak kecil yang masih labil. Ia tidak pandai memilih dan memilah baik dan buruk. Ia belum layak memiliki ilmu-ilmu itu. Purnomo pun berkembang tidak terkendali. Ia mempelajari sendiri ilmu-ilmu yang seharusnya hanya boleh dimiliki orang dewasa. Puasa mutih hingga berhari-hari, semedi di hutan-hutan dan ritual tersulit pun pernah ia jalani. Hingga akhirnya suatu hari ia memiliki dua khadam, budak dari kalangan bangsa jin.

Terlambat, pak Bahdar baru menyadari kesalahannya ketika menyaksikan Purnomo memanah ibunya sendiri. Ia menyesal karena rasa sayangnya telah membutakan mata hatinya. Ia ingin mengubah semuanya, menjadikan Purnomo layaknya anak lelaki kecil yang bermain dengan anak sebayanya. Bukan anak yang mengerti ilmu santet, atau anak yang sudah bergaul berbagai macam bentuk makhluk halus. Purnomo sudah terlanjur memiliki ilmu-ilmu itu.

* * *

Purnomo tertangkap di tengah hutan, pukulan bertubi-tubi dari ayahnya mendarat di tubuhnya yang kecil, ia tidak merasakan sakit sedikitpun, bahkan hantaman rotan itu tidak berbekas sama sekali. Ia kebal. Purnomo menangis, bukan menangis karena kesakitan, tapi menangis karena telah menyakiti ibunya. Ia benar-benar tidak tahu jika yang dipanah itu adalah ibunya. Di matanya, ibunya itu terlihat seperti kijang. Ia yakin dua khadamnya itulah yang mengaburkan pandangan Purnomo.

Purnomo digelandang ke rumah. Ia dikurung di dalam kamar selama seminggu. Purnomo tidak melawan, itu ia tunjukkan sebagai bentuk penyesalan atas tindakannya. Sementara itu bapak Bahdar terus mencari jalan keluar untuk menangani masalah anaknya.
“Pesantren pak, kirim Purnomo ke pesantren.”

Pak Bahdar menatap istrinya. Agaknya ia teringat pesan adiknya yang tinggal di Karawang Jawa Barat, agar Purnomo dimasukkan ke pesanten di daerah Garut.
“Baik, kita kirim Purnomo ke pesantren.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *