• 06/09/2019

7 Warna Pelangi #4

Main Mata

oleh : Usep Saepullah

Pertunjukan layar tancap layaknya perhelatan besar. Puluhan atau ratusan, kadang mungkin ribuan orang akan tumpah ruah di sana, tergantung jumlah penduduk tempat pertunjukan film itu diadakan. Tua muda, laki-laki perempuan berduyun-duyun menuju lokasi layar tancap, biasanya lapangan sepak bola atau sawah-sawah kering sehabis panen.

Sejak dua tiang pancang ditancapkan dan layar putih dibentangkan, puluhan pedagang sudah berjejer di pinggir lapangan dan jalan. Mulai dari tukang bakso, siomay, bakmi, gorengan, bajigur, bandrek dan semua jenis jajanan yang mendapat shift malam akan tumplek di sana.

Langkah Raisul Balad melambat di antara gerobak jualan, kedua matanya terbelalak ketika gerombolan pemuda berjalan di depannya, seolah menemukan harta karun yang selama ini ia cari. Sorot matanya tajam, jika siang hari, akan terlihat sedikit memerah. Ada marah di mata itu, ada benci di sana, ada dendam kesumat.

Pikirannya mengembara ke saat ia dan teman-temannya menonton sepak bola pada acara tujuh belasan. Tentu saja yang diadakan pada bulan Agustus. Perlakuan pemuda berjaket kulit hitam yang sedang tertawa terbahak-bahak itu tidak bisa ia maafkan.
“Aya naon Is?”
Rais tidak menjawab pertanyaan temannya. Otaknya sedang dipenuhi rencana balas dendam yang paling layak untuk lelaki kekar itu. Tangannya sibuk mencari sesuatu di saku celananya. Tapi, barang yang dicarinya tidak ada di sana. ia hanya menemukan uang lima ratus rupiah. Sisa kembalian beli kacang rebus tadi. Tanpa terasa langkah Rais mengikuti gerombolan pemuda tadi, bukan mengikuti langkah kedua temannya yang sedang berjalan di depannya.
“Rais, mau ke mana?”
Seorang temannya menepuk pundak ceking Rais.
“Uing aya urusan dulu, maneh duaan cari tempat dulu ya, nanti uing nyusul”
Kedua temannya mengangguk.
“Bawa balsem nggak?” Lanjut Rais.
Kedua temannya menggeleng. Rais terlihat kecewa. Tanpa pikir panjang Rais kembali menyusul gerombolan yang sedang dikuntitnya. Kedua temannya saling berpandangan, dahi mereka mengernyit karena tidak tahu tujuan Rais, mereka lalu kembali berjalan mencari tempat strategis untuk menonton.

Langkah gerombolan lelaki dewasa yang sedang puber itu mudah ditebak. Mereka akan memilih tempat yang banyak wanitanya, layaknya laron mencari tempat terang.

Setelah lokasi target terkunci, Rais pergi dari sana setengah berlari. Otaknya terus mencari cara paling pantas untuk memberi pelajaran lelaki bermata genit itu.

Sesampainya di pinggir lapangan, ia berhenti, lalu menatap satu persatu wajah calon penonton yang baru berdatangan. Berharap di sana ada orang yang ia kenal, lalu meminta balsem, sedikit saja.
“Yang, kita makan bakso dulu yuk!”
Ajak seorang lelaki yang berjalan di samping Rais kepada yayangnya. Romantis katanya.
“Ayo, tapi jangan pedes-pedes ya say. Nanti sakit perut lagi seperti kemarin” Balas yayangnya tak kalah romantis. Katanya.

Rais mendelik. Dua sejoli ini memang tidak punya perasaan. Berbicara mesra di samping orang yang sedang dilanda dendam kesumat.
“Enggak lah, akang mah kapok makan sambel cabe.”

Rais semakin kesal, ia meniru dan meledek ucapan terakhir lelaki sok romantis itu. Kedua sejoli itu melirik Rais. Mungkin mereka heran karena ada makhluk kurus kering di antara mereka. Lalu mereka pergi menuju tukang bakso. Tidak peduli, karena dunia memang milik mereka berdua. Sementara Rais diam tertegun, menyadari sesuatu.
“Sambel cabe!!!”

Teriak Rais girang, terjawab sudah pencariannya sekarang. Ide memang bisa didapat dari mana saja, meski dari sesuatu yang paling dibenci sekalipun, atau dari tempat terkotor sekalipun. Dendam akan terbalaskan. Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang balsem dibayar sambel cabe. Cukup setimpal karena sama-sama membuat panas. Itu prinsipnya.

Rais berlari menyusul dua sejoli itu. Jangan berprasangka baik dulu, ia berlari ke sana bukan untuk berterima kasih kepada dua sejoli itu atas inspirasi alat sambel cabe itu. Tapi ia lari ke sana untuk membeli sambal cabe dari tukang bakso. Setelah mendapatkan seplastik kecil sambal cabe dengan uang lima ratus rupiah, Rais kembali berlari menuju tempat gerombolan pemuda tadi main mata.

Film dimulai. Diawali dulu iklan obat tablet penghilang sakit kepala. Suara film dari pengeras suara dan getaran generator mulai saling berlomba. Timbul tenggelam tergantung siapa yang mengeluarkan suara paling keras. Kadang-kadang teriakan penonton lebih keras dari mereka berdua.

Judul film yang akan diputar sebentar lagi akan muncul. Jangan pernah berharap film-film impor dari hollywood yang akan diputar di layar tancap. Jangan pernah!.
‘DARAH MUDA’

Tentu saja malam ini penyelenggara hanya memutar film Rhoma Irama. Dulu, sebelum sukses dan belum naik haji, orang ini bernama Oma Irama. Film-filmnya seolah film wajib untuk film layar tancap di kampung-kampung.

Judulnya selalu terdengar gagah, sangat cocok dan menginspirasi generasi muda yang sedang mencari jati diri, serta membutuhkan seorang superstar lokal. Lihat saja judul-judulnya, Darah Muda, Berkelana, Begadang hingga Satria Bergitar.

Raisul Balad berjalan menuju sasaran. Ia berdiri di sana di antara penonton lainnya. Sesekali matanya melirik sasaran yang sedang nonton film. Bukan! sedang main mata. Menyebalkan. Sebentar lagi Rais yang akan memainkan matanya itu. Ia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya. Waktu yang tepat adalah ketika bang Rhoma sedang berkelahi dengan penjahat. Biasanya diiringi background musik yang keras menegangkan. Waktu itu seluruh mata pasti sedang tertuju ke layar putih. Tentunya kecuali si pemuda yang sedang main mata itu.

Waktu pembalasan sebentar lagi tiba, karena bang Rhoma sudah mulai memberikan isyarat. Rais membuka plastik sambel cabe, lalu menyendoknya dengan jari tangan kanannya. Hangat. Ia menjilatnya untuk meyakinkan itu benar-benar sambal cabe, bukan adukan bayam. Ia berjalan berlahan mendekati sasaran.
Tik! Tik! Tik!
Bukan bunyi hujan, tapi tetesan air sambel cabe dari jari Rais, slow motion. Rais melihat kanan kiri. Aman.
Sett!!

Tanpa pikir panjang, tanpa banyak omong, tanpa rasa belas kasihan, Rais menjadi orang tersadis malam itu, lebih kejam dari para penjahat dalam film bang Rhoma. Mereka hanya akting, sedangkan tindakan si Rais ini benar-benar terjadi. Ia mengoleskan sambal cabe ke kedua kelopak mata si pemuda yang sedang main mata.
“Panaaaaaaasss!!”

Teriakan pemuda itu membahana mengalahkan suara bang Rhoma dan para penjahat yang sedang berkelahi. Semua orang terkejut lalu mencari sumber teriakan yang menyayat hati itu. Begitu juga bang Rhoma dan rivalnya, mereka lalu melanjutkan perkelahian.

Mungkin, kalau aksi bang Rhoma itu siaran langsung, tentu ia akan menghentikan perkelahian untuk menunjukkan rasa simpati pada pemuda yang sedang melolong kesakitan sambil memegang kedua matanya itu, atau mungkin saja malah menghardik pemuda itu karena telah mengganggu aktingnya.

Raisul Balad sudah kabur menjauh dari TKP, mulutnya tersenyum puas, karena dendam kesumatnya sudah terbalaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *