• 07/09/2019

7 Warna Pelangi #5

Maha Suci

oleh : Usep Saepullah

Saddam kembali tertidur pulas, setelah mimpi buruk yang dialaminya, mungkin, karena itu baru perkiraanku. Tapi, aku berharap mimpi itu memang benar terjadi, setidaknya aku bisa menjailinya di alam mimpi, karena di alam nyata aku tidak mungkin melakukannya. Di samping itu, aku sangat menghormatinya karena faktor umur, aku ingin bersaing secara sportif.

Hari belum begitu malam, kira-kira baru jam sembilan, tapi sebagian teman-temanku sudah tertidur pulas, termasuk Saddam. Kecapaian sekaligus kekenyangan, mungkin. Bisa dibayangkan, setelah shalat dhuhur tadi, kami berjalan kaki dari Cipanas wilayah Tasikmalaya, menyusuri bukit dan lembah, sebelum maghrib kami hampir mencapai puncak gunung. Perjalanan yang cukup melelahkan.

Setibanya di tempat tujuan, kira-kira dua ratus meter dari puncak, beberapa santri langsung membuat tenda, sedikit tergesa, karena akan cukup sulit memasang tenda jika malam sudah tiba, gelap. Sebagian lagi memasak nasi liwet dan mie rebus. Kami shalat maghrib dan isya berjamaah dengan cara jama’ dan qashar, karena kami dalam kondisi shafar.

Tiga lembar daun pisang berukuran besar digelar, daun pisang yang tumbuh liar di kaki gunung, tadi kami membawanya. Nasi liwet dan mie rebus ditumpahkan ke atas daun pisang. Kami makan seadanya.

Seperti dua tahun yang lalu, di gunung Galunggung, ketika gelap mulai menyelimuti bumi, ketika bintang gemintang di angkasa berkelip, ketika rembulan di balik awan mengintip, ketika alam bersuara hening, ketika udara dingin menggigit, ketika semuanya berubah. Seketika, aku dihinggapi rasa penyesalan yang sangat mendalam. Menyesal telah naik gunung. Tapi entah kenapa aku melakukannya hingga dua kali.

Seperti camping pertama. Ketika aku bersusah payah naik ke puncak, ketika aku harus waspada dari hewan melata, ketika aku harus mencabut pacet yang menghisap tubuhku, ketika aku tidur di atas pasir, ketika aku makan ala kadarnya seperti malam ini. Tiba-tiba aku dihinggapi rasa penyesalan yang sangat mendalam. Menyesal telah naik gunung. Tapi entah kenapa aku melakukannya hingga dua kali.

Tiba-tiba aku ingat rumah. Jika aku tinggal di sana, mungkin malam ini aku bisa tidur nyenyak, mungkin sedang berselimut tebal, mungkin sedang makan enak, mungkin sedang nonton TV, mungkin aku sedang menikmati malam. Kenapa aku harus bersusah payah naik gunung. Apa sebenarnya yang kucari. Seketika, aku dihinggapi rasa penyesalan yang sangat mendalam. Menyesal telah naik gunung. Tapi entah kenapa aku melakukannya hingga dua kali.
“Apakah karena lelaki berkumis baplang itu?”

Kulirik Saddam yang tertidur pulas. Mulutnya tersenyum-senyum simpul, kali ini agaknya ia mimpi indah. Mungkin sedang mimpi meminang Nurhasanah. Gadis yang ia sabotase dariku. Dan, aku benar-benar malas untuk membahas tingkahnya yang satu ini, waktu tidurpun ia masih sempat-sempatnya menutup kumis baplangnya itu dengan tangannya.

Tidak. Aku bahkan memutuskan ikut camping sebelum terpikirkan untuk mengajak Saddam. Jika karena lelaki kurus dan berkumis baplang itu aku nekad naik gunung untuk kedua kali, rasanya, alangkah ruginya aku. Persaingan kami tidak sebanding dengan penderitaan yang aku rasakan dalam menempuh perjalanan ini.
“Lalu karena apa?”

Aku belum bisa tidur, meskipun mata sudah terasa mengantuk dan lelah. Aku harus mencari jawaban pertanyaan hatiku. Alasan aku mau naik gunung hingga dua kali, alasan aku mau menempuh perjalanan yang menyengsarakan ini.

Kulihat ke luar tenda, tiga orang temanku sedang mengelillingi api unggun, sambil ngobrol, sambil tertawa, sambil ngopi, sambil membakar ubi, sambil… Aaah mereka betul-betul menikmati perjalanan ini. Aku bergegas bergabung dengan mereka.
“Sep, belum tidur?”

Syarifullah, ketua rombongan camping menyambutku dengan pertanyaan, tangan kanannya menyodorkan cangkir kopinya. Aku langsung menyambutnya dan menyeruput kopi. Segar rasanya, rasa kantukku sedikit hilang.
“Cobalah lihat ke sana!”
Agaknya Syarifullah mengetahui kegundahan hatiku.

Aku mendongak ke atas. Seketika aku terpana. Tadi, perasaan menyesal itu terlintas begitu saja. Tapi, ketika mataku kulempar ke angkasa nan luas dengan bulan purnama di balik awan, dihiasi kelap-kelip bintang gemintang, sesekali terlihat bintang jatuh. Lalu, ketika kutebar pandanganku ke bawah, ke arah kota Tasikmalaya, pemandangan yang sangat menakjubkan, kota bagaikan hamparan mutiara yang menyala. Hembusan angin malam, membuat mutiara itu terlihat kerlap kerlip. Air mataku menitik. Kiranya, inilah alasanku mau bersusah payah naik gunung hingga dua kali.

Tadi, perasaan menyesal itu terlintas begitu saja. Tapi, ketika telingaku kubuka lebar-lebar, terdengar alunan musik alam yang maha indah. Suara desing hening dengan alunan irama binatang malam yang syahdu, sesekali terdengar suara mengelegak, lalu bumi bergetar. Ketika itu, kurasakan aku sangat dekat dengan Rabbku. Air mataku kembali menitik. Inilah alasanku mau menukar kesenangan hidup untuk kesengsaraan sesaat ini.

Air mataku kembali menitik, Maha suci Engkau ya Rabb.

* * *

“Bangun, bangun, bangun!!!”
Syarifullah membangunkan semua anggota rombongan untuk siap-siap shalat shubuh. Cepat sekali ia bangun, padahal tadi malam kami menghabiskan waktu hingga hampir jam dua belas malam. Tidak terlihat kesan lelah sedikitpun dari suaranya. Ia terlihat semangat.

Cukup susah kami membebaskan diri dari kemah kecil ini. Suasana dalam kemah sangat gelap. Terus terang, dalam kondisi begini, aku tidak bisa membedakan kumis baplang Saddam dengan pacet. Melalui cahaya lampu petromak yang menorobos masuk lewat celah kemah, kami bisa keluar. Beberapa temanku sedang khusyuk mengakhiri shalat tahajud. Ternyata, Saddam sudah ada di sana. Aku kalah. Shubuh ini ia telah unggul dariku.

Ketika aku keluar tenda, kutemukan nuansa yang lebih indah dari semalam. Nun jauh di sana, di horizon timur, cahaya samar menjulang tinggi ke angkasa, seperti ekor serigala, Dalam hadits disebut fajar kidzib. Terjadi akibat pantulan cahaya matahari pada debu partikel antar planet yang terletak antara Bumi dan Mars. Beberapa menit kemudian cahaya itu menyebar di sepanjang cakrawala secara horizontal, mengikuti garis lintang ufuk timur, terjadi akibat pantulan cahaya matahari pada atmosfer. Fajar shiddiq, Rasulullah menyebutnya. Menandakan waktu shalat shubuh telah tiba.
“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar!!!”

Saddam mengumandangkan Adzan. Seber, memekakan telinga. Sebenarnya Nandang yang biasanya adzan, suaranya halus dan mendayu, hingga kadang aku terhanyut dalam suasana religi. Ngantuk. Sedangkan suara Saddam pas-pasan, tidak layak untuk jadi penyanyi kosidah sekalipun. Suaranya cenderung serak-serak seret, seperti orang belum minum sehabis makan pedas. Agaknya hari ini, ia ingin memulai segalanya dengan pertarungan melawanku. Hikmahnya, rasa kantuk berkurang. Kami pun bertayamum.

Shalat shubuh berlangsung hidmat, beralaskan hamparan pasir, beratapkan langit nan luas. Suara bacaan shalat Nandang mampu membuat sebagian dari kami menangis.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,
dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): “Ya Tuhan Kami,
Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Di sini, kami bisa merasakan betapa Agungnya Sang Maha Pencipta, dan betapa kerdilnya kami. Maha suci Engkau ya Rabb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *