• 08/09/2019

7 Warna Pelangi #6

Kreatif

oleh : Usep Saepullah

Pak Gunawan, seorang tokoh masyarakat Cimahi Bandung. Sore itu sedang membaca majalah Bina Dakwah edisi bahasa Sunda di ruang tamu. Hebatnya, ia sendiri bukan orang Sunda, ia dari Palembang.
“Bu, si Rais seharian ini bersikap baik. Bapak jadi curiga.” tanya pak Gunawan ketika isterinya menyodorkan secangkir teh hangat.
“Bapak ini kumaha. Anak bikin ulah, marah-marah, anak bersikap baik, malah curiga. Bapak itu sebenarnya mau si Rais itu seperti apa?”
Isterinya asli orang Sunda, lahir dan besar di Bandung, pusat kebudayaan urang Sunda.
“Bukan begitu bu. Biasanya, kalau dia bersikap begitu, pasti kemungkinannya ada dua. Pertama, dia sedang punya masalah. Bapak khawatir ia habis kelahi lagi sama anak orang, atau kemungkinan kedua…”
“Assalaamu’alaikum pak Gunawan!!!”

Belum kering ucapan pak Gunawan, seseorang memanggil namanya di luar pagar rumah. Pak Gunawan menurunkan kacamatanya sedikit, lalu matanya jenaka melihat keluar lewat kaca jendela, ia berdiri lalu berjalan menuju pintu yang terbuka lebar sambil menjawab salam. Ia biarkan majalah Bina Dakwah terbuka lebar di meja. Satu artikel tentang kristenisasi di Bandung disajikan dalam bahasa Sunda, penulisnya : Gunawan, hebat bukan? Putera Palembang itu menulis artikel dalam bahasa Sunda.

Pak Gunawan tertegun, perhatiannya langsung tertuju pada seorang lelaki berbadan kekar dengan kaca mata hitam milik Sylvester Stallone dalam film Cobra. Terlihat sangat jantan. Di depannya seorang lelaki paruh baya, tapi masih terlihat kekar, beda tipis dengan pemuda di belakangnya, mukanya masam. Mungkin bodyguardnya, pikir pak Gunawan. Mereka berdiri di balik pintu gerbang. Di samping mereka mobil Yaris warna hitam terparkir. Tidak biasanya artis bertamu, pikir pak Gunawan.
“Ayo masuk, masuk!”

Bawaan pak Gunawan yang ramah dan bersahabat membuat bodyguard itu terlihat sungkan. bodyguard itu mengganti wajahnya, ada sedikit senyum di sana. Mereka mengikuti langkah pak Gunawan, lalu duduk di ruang tamu. Sang bodyguard duduk dekat pak Gunawan. Belum satu kalimat pun keluar dari mulut mereka.
“Ayo, mau minum apa? Mau minum apa?”
Tanya Pak Gunawan bersahabat dengan logat Palembang, membuat bodyguard itu semakin sungkan. Sedangkan lelaki berkaca mata di sampingnya tetap terlihat tenang. Mereka menolak halus tawaran itu hanya dengan isyarat angkat tangan, tapi pak Gunawan sudah terlanjur memesan dua cangkir teh manis kepada isterinya.
“Dua teh manis bu untuk tamu istimewa kita!!”

Kedua tamu itu tidak bisa mengelak lagi. Pesanan sudah terlanjur disampaikan.
“Mirip Rano Karno.”
Pak Gunawan berbasa-basi mengomentari penampilan lelaki gagah berkaca mata hitam itu. Ia tidak pernah mengenal satu pun artis Hollywood.

Kedua lelaki itu saling berpandangan, lalu si bodyguard mengangguk memberi isyarat. Perlahan lelaki kekar itu mengangkat kedua tangannya, meraih gagang kaca mata, lalu membuka kaca mata hitam itu. Pak Gunawan tidak berkedip, menahan nafas, memperhatikan setiap detik moment menegangkan itu. Ia sangat penasaran dengan wajah sempurna di balik kaca mata itu.
“Astaghfirullah!!!”

Pekik pak Gunawan ketika kaca mata hitam itu sudah terlepas. Sampai-sampai ia tersentak ke belakang saking kagetnya. Dua bola mata lelaki kekar itu merah, begitu juga kulit di sekitar mata memerah seperti terbakar. Terlihat aneh dan unik. Setiap lima detik mata itu mengerjap.
“Ieu kalakuan si Rais!”

Jelas si bodyguard kaku membuat pak Gunawan kembali terkejut. Jangan salah paham, pak Gunawan terkejut bukan karena mata aneh itu hasil perbuatan anaknya. Ia percaya anaknya bisa melakukan itu, bahkan lebih dari itu, karena dalam urusan menjaili orang, anaknya paling kreatif. Ia terkejut karena logat Sunda yang kental itu, tadinya ia mengira dua tamunya dari Jakarta, artis dan manajernya. Ternyata masih orang Cimahi juga.
“Aah, Akang ini pasti bercanda.”
Sangkal Pak Gunawan meskipun yakin anaknya bisa melakukan itu, ia berharap terjadi kesalahan.
“Masa orang segede gini kalah sama si Rais. Anak saya itu kurus, pendek, letoy. Sedangkan anak bapak? Tinggi besar kekar seperti atlet”
“Muhun pak, ieu kelakuan putera bapak, si Rais. Saksina banyak, Pak.”

Pak Gunawan terdiam beberapa saat. Lalu.
“Gimana ceritanya?”
Tanyanya penasaran, perbuatan kreatif apa lagi yang sudah dilakukan anaknya. Pria kekar itu akhirnya unjuk bicara. Ia ceritakan kronologis sambel cabe nemplok di kedua matanya. Tapi, tentunya kejadian main mata dengan para wanita itu ia tutup-tutupi. Ceritanya tidak perlu panjang lebar, karena yang ia tahu, sambel cabe itu tiba-tiba saja sudah bersarang di kedua matanya, dan ia teriak kepanasan. Menurut saksi mata yang kebetulan sedang main mata dengan si kekar, Raislah pelakunya.
“Raiiiiiiiisss!!!”

* * *

Rais digelandang ibunya ke ruang tamu seperti pesakitan. Jika peristiwa ini terjadi sepuluh tahun yang lalu, Rais akan digelandang dengan posisi telinga lebih tinggi dari kepalanya. Dijewer. Tapi sekarang ceritanya lain, ia sudah dewasa, cukup digiring seperti seorang koruptor.

Lelaki kekar itu sangat terkejut ketika Rais duduk di seberangnya, hanya terhalang meja. Ketika berhadapan, Rais langsung renyah-renyoh mengeluarkan bahasa yang tidak dipahami. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya begini : AWAS LU!. Lelaki kekar itu menunduk, mengkerut ketakutan. Si Rais memang hebat. Lelaki sebesar itu dibuat tidak berkutik.
“Coba kamu jelaskan, kamu apakan mata anak bapak ini? Kenapa?”
Todong pak Gunawan agar Rais mengakui terus terang perbuatan kreatifnya.

“Tanya saja sama orang ini Pak.”
“Kok Begitu? Kamu yang bapak tanya!”
“Tanya sama orang ini pak,” Tangan Rais menunjuk hidung si kekar yang langsung mendongak ke belakang, menghindar “Kenapa mata Rais dioles pake balsem? Apa salah Rais?”
“Kapan?”
Kang bodyguard kaget.
“Waktu nonton pertandingan sepak bola agustusan.”
“Donny, bener eta omongan?”
Lelaki kekar itu ternyata bernama Donny, bukan Sylvester Stallone maupun Rano Karno, ia mengangguk.

Kang Bodyguard terhenyak, pak Gunawan terdiam, Ibunya Rais menarik napas lega. Si Donny semakin mengkerut takut. Si Rais? tentu saja nyengir. Mereka paham sekarang, kasus sambel cabe adalah kasus balas dendam. Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Tidak akan ada sambel cabe jika tidak ada balsem.

Akhirnya kedua keluarga itu sepakat untuk menyelesaikan kasus balsem vs sambel cabe sampai di situ saja. Masing-masing tidak akan meminta ganti rugi, apalagi sampai ke meja hijau.

* * *

Kelakuan mengkhawatirkan Rais bukan kali ini saja terjadi. Pak Gunawan tidak bisa berbuat banyak, karena alasan-alasan yang diberikan Rais membuatnya berpikir dua kali untuk menjatuhkan hukuman.

Seperti kasus tawuran misalnya, alasannya membela teman yang dipalak, padahal memang hobby berkelahi. Kasus balsem vs sambel cabe, alasannya ia merasa didzolimi, padahal ambisi balas dendam.

Kaca warung bang kumis berantakan, alasannya warung tersebut menjual miras, padahal ia kesal sama bang kumis karena ia tidak boleh ngutang, dan masih banyak kasus lainnya. Tapi, ada satu perbuatan Rais yang tidak bisa ditolelir lagi. Bolos sekolah.
“Kamu bisa bodoh kalau sering bolos. Mau jadi apa nanti?”

Rais diam, kepalanya menunduk. Untuk kesalahan yang satu ini ia tidak bisa berkutik. Ia mengaku bersalah.
“Kali ini tindakan kamu tidak bisa dimaafkan. Selesai semester ini, kamu bapak pindahkan ke Garut!”

Leave a Reply

Your email address will not be published.