• 09/09/2019

7 Warna Pelangi #7

Makhluk Kurus Kering

oleh : Usep Saepullah

Aku menatap ufuk timur, menanti sang mentari muncul dari peraduannya.

Benar adanya seperti yang ditulis Syarifullah, dalam buku ‘Petunjuk Naik Gunung’ karangannya sendiri. Begitu indahnya horizon dengan cahaya putih sepanjang ufuk itu. Detil sekali ia menggambarkan pergerakan cahaya pagi, perlahan cahaya itu akan melebar, detik demi detik begitu menawan, jengkal demi jengkal cahaya itu merambat, lalu, langit di sekitarnya berubah menjadi kuning keemasan.

Sementara itu, cahaya-cahaya mutiara kecil di hamparan bumi Tasikmalaya satu persatu menghilang. Padam.

Perlahan, mentari muncul, malu-malu, tidak menyilaukan. Cahayanya merambat menyapu gelap, perlahan tapi pasti, sangat indah. Tapi, sedikit demi sedikit, ia mulai memperlihatkan keagungannya, cahayanya mulai menyilaukan mata. Aku berpaling. Aku tersadar kembali, tidak pantas aku menyesali keputusanku untuk naik gunung galunggung hingga dua kali. Mataku berkaca.

Bukan karena ingin mengalahkan lelaki berkumis baplang itu aku naik gunung lagi. Bukan karena persaingan di antara kami, aku ke sini lagi. Bukan karena ingin mempermalukan lelaki yang sebenarnya sangat kuhormati itu aku mau menyengsarakan diri dalam perjalanan yang melelahkan.

Melelahkan. Aku menunduk. Jika dipikir dan dirasakan, justeru persaingan kami yang melelahkan. Persaingan untuk mendapatkan nilai tertinggi di kelas, persaingan untuk menduduki kursi bintang kelas. Persaingan yang berlanjut pada hal-hal sepele. Sangat melelahkan. Aku telah kehilangan moment-moment penting dalam masa remajaku. Hobi melukisku harus kulupakan, insting bisnisku harus dikekang.
“Ayo berangkat!!!”

Teriakan Syarifullah, ketua rombongan membuyarkan lamunanku. O ya, aku sempat menanyakan tentang buku itu pada Syarifullah. Tapi sayang, beribu kali sayang, buku itu tidak bisa diterbitkan, karena belum tentu ada penerbit yang mau menerbitkan buku sepeti itu. Bahkan buku itu tidak bisa dipinjamkan lagi, karena kini, di dalam buku itu terdapat catatan-catatan pribadi yang tidak perlu orang lain tahu. Jadi semacam buku diary.

Sejak bumi tempat kami berpijak mulai samar terlihat, sejak aku bisa membedakan yang mana kumis Saddam, dan yang mana pacet, kami mulai membereskan peralatan camping kami. Karena sesuai rencana, pagi ini kami akan naik ke puncak, lalu turun ke kawah, di sana kami akan masak perbekalan kami, mengisi air untuk bekal di perjalanan pulang dan tentu saja mandi.

Aku menatap puncak gunung. Hanya dua ratus meter. Tapi, medan yang harus ditempuh cukup terjal dan menanjak, tingkat kemiringannya kira-kira lebih dari empat puluh lima derajat. Cukup membuat lutut loncer.
“Ayo Sep!”

Tepukan tangan Saddam dipundakku mengisyaratkan perlombaan sampai ke puncak. Tapi aku sadar, ini bukan saatnya berlomba, bukan seperti lomba lari di lapangan pesantren. Karena jika salah menginjak tanah, maka akan terpelanting ke bawah, kematian akibatnya. Paling ringan patah tulang kaki atau tangan.
“Silahkan, yang tua lebih dulu”

Aku berjalan di belakang Saddam. Gagah sekali ia dengan ransel besar di punggungnya itu. Semangat sekali ia untuk mengalahkan aku. Sesekali ia melirik ke belakang, ke arahku, mungkin ia takut tiba-tiba aku menyalipnya. Baru lima puluh meter, Saddam sudah kepayahan, kehabisan nafas. Akhirnya jatuh terduduk. Aku dengan mudah menyalipnya.

Sementara itu, Syarifullah yang memimpin paling depan turun kembali begitu melihat Saddam jatuh. Sebagai ketua rombongan ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan semua anggotanya. Ia duduk menemani Saddam, memandunya untuk mengatur nafas, agar kembali normal. Lalu, sayup-sayup aku mendengar petuah-petuah Syarifullah tentang mendaki dataran tinggi, persis seperti yang pernah kubaca dalam buku “Petunjuk Naik Gunung”.

Untungnya, aku sempat membaca buku catatan Syarifullah itu, lengkap dengan catatan dalam menghadapi situasi seperti itu, sedangkan Saddam tidak. Meskipun kuperaktekan cara pengaturan nafas yang baik, ternyata tetap saja menguras tenaga. Beberapa anggota rombongan yang gizinya pas-pasan, sampai-sampai harus memegang lutut yang rasanya mau copot. Semua beristirahat sejenak.
”Wooi, di bawah sana ada kemaaah!!!”
Salah seorang di antara kami teriak.

Meskipun aku pernah melewati tempat itu pada camping pertama dua tahun yang lalu, tetap saja aku terkesiap begitu melihat ke dasar kawah. Jangtungku rasanya mau copot. Jarak dari puncak ke dasar kawah benar-benar sangat jauh. Kemah yang dimaksud temanku tadi hanya terlihat sebesar satu kotak isian formulir pendaftaran, dengan empat semut berbentuk manusia yang sedang mengelilingi api.
Perlahan aku jongkok, lalu merangkak menjauh dari bibir kawah. Kawan, bisa kau bayangkan, jika terpeleset jatuh ke kawah, maka sempurnalah perjalanan camping kami. Jika mundur, lalu terjengkang ke belakang, maka khatamlah hidup ini dengan terjerembab ke bebatuan curam.

Saddam baru tiba di puncak ketika aku merangkak ke belakang. Ia tersenyum mengejekku. Tentu saja dengan tangan kanan menutup kumisnya. Bosan aku membahas itu. Tapi, begitu ia melihat ke dasar kawah. Ia langsung jatuh terduduk dengan muka pucat. Ia berpegangan erat pada kaki Syarifullah yang berdiri di belakangnya.

Setelah istirahat beberapa menit, dengan tujuan untuk menetralkan keadaan dan membiasakan mata dengan ketinggian. Kami melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan setapak yang memutar untuk mencapai dasar kawah.

Kawan, jangan bayangkan kawah gunung galunggung ketika meletus.
Dibayar satu milyarpun aku tidak sudi turun ke sana.

Sekarang kondisinya sangat berbeda, dasar kawah sudah berubah menjadi danau dengan air tawar yang dingin, seperti kolam ikan dekat rumahku. Di beberapa sisi terdapat daratan yang memungkinkan kami untuk turun dan kemah di sana. Bahkan agaknya di tengah danau akan muncul pulau kecil. Entah kapan pulau kecil itu akan muncul. Yang pasti, pergerakan di bawah kawah gunung galunggung masih terus berlangsung.

Perjalanan mencapai dasar kawah cukup jauh dan tidak melelahkan, karena jalan setapak menurun dan tidak curam, kemiringannya kira-kira dua puluh derajat saja. Justeru yang melelahkan adalah berpikir bagaimana caranya kami nanti kembali ke atas.

Setiba di dasar kawah, kami langsung berkenalan dengan rombongan camping yang sudah lebih dulu berada di dasar kawah itu. Dari empat orang itu, ada satu orang yang cukup menarik perhatianku, kusebut sesosok makhluk kurus kering. Karena benar-benar kurus kering, tidak berbaju, hanya mengenakan kaos oblong tipis. Makhluk itu memeluk lutut sambil mengigil kedinginan. Rambutnya basah, agaknya ia baru berenang di danau kawah galunggung. Di depannya, di atas batu, selembar daun pisang dengan nasi hangat menyertainya. Asyik sekali ia dengan santapan paginya itu. Meski hanya nasi saja.

Kudekati lelaki kurus kering itu, lalu kusodorkan tanganku padanya sambil mengenalkan diri dengan menyebut namaku. Lelaki itu mengosok-gosok tangan kanannya ke bajunya, ia menyambut tanganku dengan senyum. Meskipun tangannya kurus kecil, tapi genggamannya begitu kuat.
“Raisul Balad.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *