• 10/09/2019

7 Warna Pelangi #8

Pesantren Impian

oleh : Usep Saepullah

Pertemuan di kawah gunung Galunggung itu mengingatkanku pada dua pesantren yang menjadi impianku waktu SD. Salah satunya pesantren yang diceritakan lelaki kurus kering yang bernama Raisul Balad itu.
”Aku santri dari Pesantren Bentar.”

Pengakuannya waktu itu. Cukup dengan menyebut Pesantren Bentar, semua orang yang ada di sana akan mafhum, yang dimaksud pasti Pesantren Persatuan Islam No. 19 Bentar Garut.
”Bangunan kokoh, dengan puluhan kelas.”

Hebat bukan main. Kubayangkan Pesantren Bentar seperti pondok asrama haji di Pondok Gede Jakarta. Aku tahu tempat itu ketika masih SD mengantar tetanggaku naik haji, calon jamaah haji biasanya dikumpulkan di sana.

Aku terkesima, pikiranku mulai membandingkan pesantrenku dengan pesantren bentar. Pesantrenku pasti tidak sebanding dengan kehebatan Pesantren Bentar.
”Tiga gedung asrama untuk santri laki-laki, dan satu komplek asrama untuk santri wanita.”
Benar-benar pesantren impian, sangat fantastis.

Asrama di pesantrenku, hanya satu ruang kelas kosong yang disulap menjadi asrama, meja dan kursi belajar diganti menjadi ranjang kayu dan lemari pakaian, sangat memprihatinkan. Sedangkan asrama wanita, aku tidak pernah tahu.
”Santri-santrinya dari berbagai wilayah nusantara…”

Santri-santri di pesantrenku hampir sembilan puluh persen berasal dari sekitar Tasikmalaya. Jika aku nyantri di sana, aku akan memiliki banyak teman dari berbagai daerah.
”Kamu kenal ustadz Aceng Zakaria dan ustadz Entang Muchtar?”
Aku mengangguk.
”Mereka mengajar di sana.”

Mataku berbinar, sejak SD aku telah mengenal sosok kedua ustadz tersebut, mereka kerap diundang untuk memberikan ceramah di masjid-masjid Tasikmalaya.

Ustadz Aceng Zakaria, terkenal dengan kajian fiqihnya yang membuat setiap orang yang ngerti ilmu fiqh berdecak kagum. Aku tidak pernah berdecak kagum waktu itu, karena aku belum ngerti ilmu fiqh. Sedangkan ustadz Entang Muchtar, terkenal dengan bayolan-bayolan khas sundanya yang langsung mengenai sasaran, tapi tidak membuat orang sakit hati. Keinginanku untuk digembleng langsung oleh mereka berdua mulai muncul.
”Melahirkan lulusan-lulusan yang hebat.”

Menurut kabar yang kuterima, lulusan dari Pesantren Bentar memang hebat-hebat, mereka menyebar ke berbagai pelosok daerah dengan membawa misi Islam rahmatan lil ’aalamiin. Mereka mendirikan pesantren-pesantren. Aku percaya pada lelaki itu di depanku itu, tapi yang menjadi pertanyaanku. Akan jadinya lelaki kurus kering di masa yang akan datang?

Sepanjang jalan pulang dari gunung galunggung aku termenung, memikirkan omongan-omongan lelaki itu. Betul-betul sangat menggoda. Hingga mencapai pada kesimpulan bodoh. Pindah.

Suara keputus asaan mulai mengompori.
”Sebaiknya pindah saja, daripada dikejar-kejar terus oleh si Saddam Husein”
”Keenakan si Saddam dooong!!” bela hatiku yang selalu optimis.
”Pindah saja, ini tantangan buat kamu, kamu harus bisa menjadi bintang kelas di sana!!” Suara hatiku yang angkuh dan sombong mulai unjuk gigi.

Suara terakhir yang kuambil, aku akan membuktikan pada si Saddam, bahwa aku bukan jago kandang, jadi bintang kelas di Tasikmalaya, tapi aku bisa jadi bintang kelas di Pesantren Bentar yang memiliki santri dari berbagai wilayah nusantara itu.

Gelar bintang kelas terasa sangat berat, merupakan salah satu alasan untuk pindah juga. Setidaknya, jika aku pindah dan peringkat menurun tajam, tidak akan jadi masalah bagiku. Tapi, yang mendorongku untuk pindah bukan cuma itu. Ada satu lagi alasan tapi sulit kuungkapkan.

Oh ya, satu lagi pesantren impianku. Sebenarnya bukan impianku, tapi impian paman, terus terang aku fanatik padanya, apapun yang paman suka, aku suka, termasuk pesantren impiannya. Tapi, tidak semua yang disukai paman, akan kusuka, salah satunya putri pak RT, paman menyukainya, aku ogah.

Pesantren Al-Mukmin Ngruki, pesantren yang dikenal berani bersuara vokal terhadap pemerintahan Orde Baru waktu itu. Pimpinan pesantrennya termasuk orang yang paling dicari pemerintah saat itu, hingga beliau harus hijrah ke Malaysia. Menurut kabar dari paman, pesantren itu pernah dikepung tentara, tapi mereka kocar-kacir, karena menurut pengakuan para pengepung itu, mereka melihat pasukan berseragam putih-putih di atas genteng pesantren, lengkap dengan berbagai macam senjata canggih, siap menyerang mereka.
”Itu namanya Karomah, Sep!”
Kata paman waktu itu. Aku terpesona, tapi tidak mengerti maksudnya.
”Karomah itu seperti mukjizat, Sep. Jika mukjizat diberikan pada Nabi dan Rasul, sedangkan karomah hanya diberikan pada orang-orang sholeh.”
Aku baru mengerti.
Tapi sayangnya, paman tidak pernah nyantri di sana. Karena, ketika ia menceritakan kejadian itu, ia sudah duduk di kelas tiga aliyyah Muhammadiyyah. Dan sayangnya lagi, aku pun tidak pernah mau nyantri di sana, karena aku masih takut jika harus dikepung tentara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *