• 13/09/2019

7 Warna Pelangi #10

Pesantren Bentar

oleh : Usep Saepulloh

Usai pamit ke seluruh ustadz dan temanku, besok harinya aku melakukan perjalanan ke barat, dan terakhir kudapati diriku sudah berada di dalam bis, di sebuah terminal. Begitu terasa singkat perjalananku, aku bagai terlempar begitu saja ke sebuah terminal yang sangat sederhana ini.

Pemandangan indah sepanjang perjalanan menuju Garut tidak bisa kunikmati sedikitpun. Bahkan, aku sudah tidak peduli lagi sedang naik apa, yang penting aku sampai ke tujuan. Apakah yang kunaiki ini sepeda, beca, delman, motor, mobil pribadi, atau apapun. Maka, kenyataannya aku sedang menaiki bis yang diberi nama oleh pemiliknya dengan nama BUDIMAN.

Jika diputar ulang rekaman perjalanan hidupku, agaknya Sulaeman benar, aku ini memang bodoh, hanya berbekal informasi dari lelaki kurus kering yang kutemui di kawah gunung Galunggung, aku memutuskan pindah sekolah. Nekad sekali aku ini.

Setidaknya, aku bisa survey tempat dulu, lihat dulu kondisi pesantren baru yang akan kutempati. Setelah yakin baru kuputuskan pindah. Atau, setidaknya aku daftar dulu, setelah yakin diterima di sana baru pindah. Agaknya, sepanjang jalan aku menyesali keputusanku ini. Benar-benar keputusan bodoh. Belum tentu aku akan diterima di pesantren Bentar dan belum tentu aku betah di sana.
Tapi, ketika teringat senyum dengan kumis baplang milik Saddam itu, semangatku bangkit kembali.

Bis khusus untuk orang-orang budiman itu sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Aku masih terdiam, menyiapkan mental untuk memulai pengalaman baru, pertarungan baru di pesantren baru. Belum satu kali pun aku menginjakkan kaki di terminal ini. Kabupaten yang bertetangga dengan Tasikmalaya ini begitu asing bagiku. Pengalamanku satu-satunya memasuki wilayah Garut, hanyalah ketika aku menyusuri jalan dari gunung Galunggung menuju stasiun Cibatu.

Ketika baru beberapa langkah keluar dari bis, seseorang menghampiri.
”Mau ke pesantlren Bentalr ya?”
Seorang penjual jaket kulit keturunan China menyapa kami; aku, ayah dan ibuku. Tadinya, untuk menghemat biaya perjalanan, cukup salah seorang saja dari kedua orang tuaku yang mengantar. Ayah tentunya pilihan yang tepat, tapi ibu memaksa ikut, alasannya aku akan tinggal jauh dari rumah untuk pertama kalinya. Lalu terpikirkan ibu saja yang mengantarku, lalu siapa yang mengantarkan ibu pulang ke Tasik? Aku?.
”Benar.”

Maka kawan, jika melihat wajah pedagang itu, pasti akan muncul keinginan untuk memborong seluruh dagangannya. Sayangnya, waktu itu aku bukan orang berduit, bukan pula penderma. Aku hanyalah seorang santri bodoh yang sedang lari dari kenyataan, seorang anak sekolah yang masih dibiayai orang tua.

Bisa dibayangkan, pedagang itu berperawakan sedang sepertiku, kulitnya putih, sebagian kemerahan karena sinar matahari, berkeringat, hingga bagian depan dan belakang baju kaosnya basah, wajahnya penuh jerawat, matanya sipit, bahkan merem ketika tersenyum, rambutnya lurus menunjuk langit, aku bingung kenapa bisa ada landak di atas kepalanya. Ah, kasihan sekali, pasti ia telah menjalani hidup ini dengan penuh perjuangan. Rambutnya itu pasti manifestasi dari penderitaan hidupnya.

Sejurus aku menjadi malu pada diriku sendiri. Semakin malu lagi ketika aku teringat perjalananku kali ini. Aku memang egois. Aku pindah karena ingin lari dari masalah, tanpa memikirkan perjuangan orang tua dalam membiayaiku. Pedagang itu, untuk hidupnya saja harus berjuang sendiri.

Pedagang berwajah innocent itu masih tersenyum padaku. Sungguh, aku tidak punya cukup uang untuk membeli sepotong jaket kulitnya.
”Kalau mau ke sana, naik angkot 07 saja.”

Aku hanya bisa terpana ketika kemudian pedagang itu pergi meninggalkan kami. Ia sama sekali tidak menawarkan dagangannya pada kami. Agaknya, pedagang itu tahu kami tidak cukup banyak uang. Kamipun menuju pemberhentian angkot yang dianjurkan pedagang itu.

* * *

Jika kita menyebut Pesantren Bentar di wilayah Garut, maka orang sana, terutama supir angkot 07, sudah pasti paham tempat yang dimaksud. Pesantren Persatuan Islam No.19 Bentar. Akupun cukup menyebut dua kata itu untuk mencapai pesantren yang kutuju. Tidak perlu ilmu khusus untuk mengetahui itu, cukup memahami kebiasaan masyarakat di sana saja dalam menyebut sebuah tempat.

Sopir angkot lebih fasih lagi, ia hanya menyebut nama Bentar, maka yang dimaksud pasti Pesantren Bentar. Mobil angkot berhenti tepat di seberang sebuah papan nama.
Pesantren Persatuan Islam No. 19 Bentar Garut
Alamat : Jl. Guntur No. 156 A Garut
………………………………………………..

Maka, papan nama itu tidaklah begitu hebat, lebarnya sekitar tiga meter, hanya ditopang dua pipa besi bercat hijau tua. Beberapa bagian catnya bahkan sudah terkelupas. Tinggi tiang itu sekitar empat meter. Agaknya papan nama itu berfungsi sebagai gapura atau pintu masuk menuju pesantren Bentar.

Aku turun dari angkot, diikuti ibu, sementara ayah masih di dalam angkot menunggu kembalian dari si supir.

Sulitnya mencari nafkah zaman sekarang, persaingan usaha semakin tajam, rasa ingin berbagi semakin hilang. Coba bayangkan, dulu, ketika paman bilang kau masih bodoh, SD, setiap angkot di kampungku pasti memiliki partner kerja, kondektur. Tapi sekarang, tidak ada satupun angkot yang memiliki kondektur, seperti yang terjadi di Garut. Entahlah, apa benar keinginan berbagi itu semakin hilang? Atau tujuannya ingin menghemat biaya dan tenaga? Atau mungkin kebijakan tentang transportasi angkot? Aku tidak tahu, mungkin sebaiknya aku tanyakan nanti pada Menteri Transportasi.

Kami berdiri di seberang papan nama itu, aku mencari gedung pesantren megah yang diceritakan lelaki kurus kering itu. Bangunan kokoh dengan puluhan kelas untuk belajar, tiga gedung asrama putra, dan satu gedung asrama puteri. Tapi, aku tidak melihat satupun gedung megah itu, aku hanya melihat jalan selebar truk yang berada di antara tiang pancang papan nama berbahan plat baja itu. Di kanan kiri jalan itu berjejer rumah penduduk dan dua warung.
”Mungkin itu baru pintu masuk.”
Aku hanya ingin menghibur diriku sendiri.

Kami menyeberang jalan. Aku membawa tas ransel yang pernah menemaniku ke gunung Galunggung. Ibu, hanya membawa tas kecil yang biasa dibawanya jika ke pasar. Sedangkan ayah membawa tas koper berwarna hijau, kata ayah, umur koper yang dibawanya itu lebih tua dari umurku, ia membeli tas koper itu sejak masih bujangan, hebatnya lagi, kunci yang sangat kecil untuk membuka koper itu masih ada.

Maka, secara tersirat ayah mengamanahkan tas koper itu padaku sambil mengatakan :
”Kamu harus menjaga tas koper itu dengan sepenuh jiwamu.”
Perasaanku mulai tidak enak. Karena di ujung jalan sana sudah terlihat bangunan kelas yang sebagian catnya sudah lusuh. Terkesan tidak terurus. Kami terus berjalan kira-kira lima puluh meter, hingga melewati pintu gerbang besi yang tingginya kira-kira empat meter.
Kami sampai di depan sebuah rumah. Kulihat beberapa orang santri sedang mengantri di depan sebuah jendela dengan kusen berwarna hijau muda. Lelaki paruh baya, kurus, berkaca mata tebal, berada di balik jendela itu. Para santri itu membawa kartu iuran, agaknya ruangan di balik jendela itu semacam ruang administrasi jika di pesantren lamaku.
”Ini kantornya.”
Jawab seorang santri, ketika kutanya letak kantor Pesantren Bentar.

Aku hampir tidak percaya ketika santri itu menunjuk rumah sederhana di depanku itu. Perasaanku semakin tidak enak, pesantren Bentar sangat jauh dari bayanganku, jauh sekali dengan kantor di pesantren lamaku, bangunan kelas kokoh yang tertata rapi.

Melihat kondisi itu, aku mulai meragukan kembali pertemuanku dengan makhluk bernama Raisul Balad itu. Aku berharap itu makhluk jadi-jadian atau setidaknya orang yang kutemui di alam mimpi. Itu lebih masuk akal bagiku, daripada aku meyakini pertemuan itu betul-betul terjadi dengan cerita-ceritanya tentang pesantren Bentar begitu membuatku terkagum-kagum, tapi berbeda dengan kenyataannya.

Saat itu, timbul keinginanku untuk membatalkan kepindahanku itu. Tapi, begitu terlintas lagi kumis Saddam yang baplang itu, aku menjadi semangat lagi. Tapi, di sisi gelap hatiku, aku berharap permohonanku untuk pindah ke pesantren ini, ditolak.

Sebuah mobil berwarna putih masuk melalui jalan yang selebar mobil truk itu. Berhenti tepat di depan kami. Seseorang keluar dari mobil itu, ustadz yang sangat kukenal, ustadz Aceng Zakaria. Begitu melihat kami, beliau tersenyum dan langsung menyalami kami, lalu kemudian beliau pamit dan menghilang masuk ke dalam kantor sederhana itu. Semangatku muncul lagi. Permohonanku pada yang Maha Kuasa agar aku ditolak itu kuralat seketika. Semoga aku diterima di pesantren ini. Aku benar-benar plin-plan.

Di rumah yang disebut kantor itu, seseorang berwajah kotak berbadan kekar menyambut kami. Meski sorot mata lelaki itu tajam, tidak menghilangkan kesan ramah yang dimilikinya. Aku yakin, dari logat bicaranya, agaknya ia seorang Batak Muslim.
”Dzul Qarnain.”
Lelaki kekar itu memperkenalkan diri. Di kemudian hari, aku mengenalnya sebagai seorang ustadz yang diamanahi untuk mengurus seluruh keperluan asrama putra. Mulai dari pendaftaran santri yang akan tinggal di asrama, penempatan kamar, administrasi, ijin pulang dan semua tetek bengek yang berhubungan dengan keberadaan santri putra di asrama.

Jika menilik cerita makhluk kurus kering itu, agaknya seluruh santri di pesantren ini tinggal di asrama. Coba ingat-ingat ucapannya, tiga gedung asrama, bisa bayangkan betapa banyaknya jumlah santri yang bisa ditampung oleh tiga gedung itu. Kenyataannya, santri yang bisa ditampung oleh tiga gedung itu hanyalah seratus lebih. Aku semakin penasaran luas tiga gedung asrama yang diceritakan makhluk kurus kering yang mulai menyebalkan itu. Perasaanku semakin tidak enak.

Sebagaimana pesantren lamaku di Tasikmalaya, pesantren Bentar membebaskan seluruh santrinya untuk memilih tempat tinggal. Bisa tinggal di asrama, bisa juga ngontrak atau kost di sekitar asrama. Bedanya, masalah disiplin peraturan yang harus ditaati, jika memilih tinggal di asrama, maka harus taat dengan seluruh aturan yang berlaku di asrama. Jika memilih kost, maka santri hanya diharuskan mengikuti peraturan selama jam pelajaran berlangsung. Tentunya tetap harus menjaga nama baik pesantren. Satu tips yang harus diperhatikan untuk santri berdompet tipis sepertiku, asrama adalah pilihan yang paling tepat, karena jika dikalkulasi, biayanya sangat murah.
”Raportmu dibawa?”
Tentu saja selalu kubawa, karena raportku adalah kebangganku, di sana terukir seluruh prestasi akademisku.

Kuserahkan raportku pada lelaki yang hanya dipanggil ustadz Dzul itu. Ia membuka-buka raportku, kepalanya manggut-manggut, agaknya ia terkagum-kagum dengan isi raportku. Mungkin, karena itu hanya perkiraanku saja.

Ustadz muda itu membawa raportku ke ruangan lain di dalam kantor itu. Agaknya ustadz Dzul akan membicarakan raportku dengan ustadz Aceng Zakaria. Lalu ustadz Aceng Zakaria merekomendasikan agar aku ditempatkan di asrama VIP, karena aku santri berprestasi. Sama, itupun hanya ada di anganku saja.

Beberapa menit kemudian, ustadz Dzul Qarnain menemui kami lagi.
”Baik, antum diterima di sini.”
Ayah dan ibu tampak begitu senang. Sedangkan aku, jangan ditanya, perasaan plin-plan itu muncul lagi, agaknya aku memang belum siap untuk pindah sekolah, belum siap jauh dari orang tua.
”Antum akan ditempatkan di ruang istimewa.”
Kalimat itupun muncul di anganku.

Selanjutnya aku diantar ustadz Dzul menuju ruang asrama yang akan kutempati. Karena asrama yang akan kutempati berada di lantai tiga, ayah dan ibu dianjurkan untuk menunggu saja di kantor. Ustadz dzul menjinjing tas koper yang tadi dibawa ayah. Ringan sekali tampaknya tas itu di tangannya.

Tibalah saatnya perpisahaan. Ayah dan ibu akan pulang kembali ke Tasikmalaya, membiarkan aku sendirian di sini. Petuah-petuah singkat keluar dari mulut dua orang yang sangat kucintai itu, mulai dari jangan telat makan hingga jangan lupa minum obat kalau sakit.

Kukecup kedua tangan mereka. Mata ibu berkaca, ayah juga, aku senang bukan main, baru kali ini aku melihat ayah ekspresif seperti itu.

Akupun sama, kilatan air mata sudah mulai tampak di kedua mataku yang mulai memanas. Bahkan kalau boleh, aku ingin menangis. Bukan, bukan perpisahaan yang membuat mataku mengembun itu. Ada hal lain yang ingin kutangisi. Nanti aku ceritakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *