• 15/09/2019

7 Warna Pelangi #11

Negeri Atap Awan

oleh : Usep Saepullah

Ayah dan ibu sudah pulang. Di ujung jalan sana mereka ditelan angkot yang menuju Terminal. Tinggal aku sendirian menyesali perbuatanku, keputusanku untuk pindah ke pesantren ini. Benar-benar jauh dari yang kubayangkan.

Mari kuceritakan alasan sebenarnya aku ingin menangis.

Ketika kami menuju kamar yang akan kutempati, aku menyadari ada kesalahan informasi yang diberikan makhluk bernama Raisul Balad itu.

Salah satu gedung asrama yang dimaksud makhluk kurang ajar itu, ternyata hanyalah dua ruang kelas di lantai dua yang disulap menjadi ruang asrama, meja dan kursi belajar diganti menjadi ranjang kayu dan lemari pakaian, sama persis dengan asrama di pesantren lamaku, bahkan di sana lebih tertata rapi.

Tangganya, dengan tingkat kemiringan yang sangat mengkhawatirkan, lebih dari empat puluh lima derajat, membuatku harus ekstra hati-hati ketika turun atau naik melewati tangga itu. Selain curam, tangga itu selalu basah, para santri sering lalu lalang karena tepat di bawah tangga itu kamar mandi santri berada. Terpeleset sedikit, maka sempurnalah hidupku dalam kondisi membujang. Paling ringan, masuk UGD.

Aku belum tahu kamar mandi di sana seperti apa, aku belum sempat masuk ke sana. Penilaianku tentang dua ruang asrama tadi, sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan kondisi kamar mandinya.

Belum selesai, kamarku bukan di salah satu ruangan tadi. Setelah melewati tangga yang curam itu, aku masih harus naik tangga lagi, agaknya tangga berikutnya ini terasa nyaman, tingkat kemiringannya sekitar tiga puluh derajat saja. Tibalah aku di lantai atas, sebenarnya bukan lantai atas, tapi atap pesantren. Aku menempati salah satu kamar yang dibangun di atap pesantren itu. Jika dilihat dari kontur bangunan, agaknya empat kamar di atap itu, bukanlah bagian dari perencanaan rancang bangun pesantren.

Tidak ada seorang pun di lantai atap itu, mungkin para penghuninya sedang belajar di kelas masing-masing. Hari ini adalah hari kedua belajar setelah libur panjang akhir tahun pelajaran.

Masing-masing kamar hanya mampu menampung empat orang santri, kesimpulanku itu berdasarkan dua ranjang kayu tingkat yang berada di masing-masing kamar itu. Aku menempati kamar paling timur, dekat dinding setinggi sekitar dua meter yang membentang dari ujung kamar sebelah utara hingga kamar sebelah selatan. Bisa dibayangkan perjuanganku setiap hari turun naik tangga, meskipun hanya sekedar untuk buang air kecil saja.

Aku teringat pesantren lamaku. Padahal jika aku sedikit bersabar, setahun lagi aku akan lulus. Tidak perlu aku terdampar ke pesantren seperti ini. Rasanya aku ingin menangis.

* * *

Ayah dan ibu sudah pulang. Di ujung jalan sana, tepat di bawah papan nama, mereka ditelan angkot yang menuju Terminal. Aku berjalan sendirian menuju kamarku di puncak bangunan itu.

Aku menengadah, jika ditelisik, dari tempatku berdiri, kamarku itu lebih mirip kandang burung merpati daripada sebuah kamar, tapi bedanya, kandang burung merpati ini dalam skala besar. Bangunan kamar itu seperti teronggok begitu saja diatas atap. Seperti bagian terpisah dari atap beton pesantren.

Aku melanjutkan langkahku menuju kamar baruku.
“Purnomo.”
Seorang santri berperawakan pendek tapi kekar memperkenalkan diri, maksudku ia lebih pendek dariku, tinggi badanku sendiri hanya seratus enam puluh lima centimeter. Santri itu berdiri di pintu kamar, agaknya ia salah seorang penghuni kamar yang akan kutempati.

Santri itu tadi tidak ada ketika aku naik bersama ustadz Dzul.
Kusambut tangan persahabatan itu sambil menyebutkan namaku. Telapak tangannya kasar, genggamannya kuat sekali, lebih kuat dari genggaman makhluk kurus kering bernama Rais itu.

Santri lain berambut ikal gondrong sedang menulis sesuatu di buku agenda, ia duduk di salah satu ranjang bagian atas. Perawakannya tinggi kurus, kulitnya tidak putih. Aku tidak berani menyebutnya hitam, karena aku baru mengenalnya. Ketika santri itu tersenyum padaku, gigi-gigi putihnya begitu kontras terlihat. Santri itu menutup buku agendanya, lalu menyodorkan tangannya dari atas ranjang itu padaku.
”Irvan.”

Berbeda sekali dengan Purnomo, telapak tangan teman baruku yang bernama Irvan ini sedikit halus. Agaknya ia merawat kulitnya dengan baik, itu tampak dari hampir keseluruhan kulit tangannya yang bersih. Biar kutebak, dia itu pasti lelaki tipe romantis yang sedang jatuh cinta. Buku agenda yang ia pegang tadi, pasti bukan buku agenda untuk menulis materi pengajian seperti yang biasa kulakukan, tapi itu buku diary.

Sebuah pedang menempel di dinding kamar, tepat di belakang Irvan. Pedang itu agaknya disangkutkan pada dua paku yang menancap di dinding. Pedang tidak bersarung itu panjangnya kira-kira lima puluh sentimeter. Gagangnya terlihat indah dengan ukiran-ukiran sisik dengan ujungnya berbentuk kepala naga.
”Itu pedang Naga Puspa, Sep. Punyaku. Hanya koleksi saja.” Jelas Purnomo.

Sesuai info dari ustadz Dzul tadi, aku mendapat bagian ranjang tidur bagian atas, seperti Irvan. Aku menarik dua tasku ke atas ranjang. Kuperlakukan tas koper tua ayah itu bagai barang keramat, hati-hati sekali aku meletakkannya. Tas tua itu akan kujadikan lemari kecil. Prihatin sekali aku dibuatnya.
”Sep, sebagian bajumu di taruh di lemariku saja.”

Mungkin Purnomo kasihan melihat tas koper tuaku itu. Aku terharu dengan kebaikannya. Aku jadi teringat kisah Muhajirin dan Anshar ketika para shahabat muhajirin datang ke Madinah, Anshar yang merupakan orang-orang asli madinah itu langsung menawarkan berbagi dengan para muhajirin.

Tidak seperti para Muhajirin yang sebagian besar menolak halus bantuan Anshar itu. Aku tidak menyia-nyiakan tawaran Purnomo, tapi akupun tahu diri, aku hanya memakai satu bagian lemari dari empat bagian lemari. Seperti inikah indahnya persaudaraan. Purnomo belum pernah mengenalku, akupun sebaliknya.

Bukan hanya itu kebaikan Purnomo. Sore hari, ketika hari mulai teduh, Purnomo mengajakku untuk melihat-lihat lingkungan pesantren. Tawaran baik itupun tidak kutolak.
“Kami menyebut tempat ini, Negeri Atap Awan.”
Ia mulai membuka pembicaraan sambil berjalan menuju tangga. Jangan salah sebut, bukan Negeri Atas Awan, tapi Negeri Atap Awan.

Bagi Purnomo dan teman-temannya, atap pesantren itu adalah sebuah cikal bakal sebuah negeri, dari sana mereka mempersiapkan, merencanakan, dan menata masa depan. Jika berdiri di atap itu, akan serasa berdiri di atas awan, bisa melihat ke seluruh penjuru mata angin tanpa terhalang oleh apapun. Untuk melihat keseluruhan pesantren, cukup berdiri di lantai Negeri Atap Awan itu. Mengesankan.

Mari kugambarkan denah negeri atap awan itu. Tempat mengesankan itu bertengger di atas bangunan kelas dua lantai berbentuk huruf ‘L’, ujung atas ‘L’ itu ada di arah barat. Negeri kami berada di ujung bawah ‘L’ yang ada di bagian timur. Di bawah atap kami berdiri itu, dua kelas yang dijadikan asrama, mereka menyebutnya asrama gedung A, di bawahnya lagi, kamar mandi dan dapur umum.

Ada empat kamar di atas atap itu, dua kamar untuk santri di sebelah utara, dua kamar lagi di sebelah selatan, dua kamar itu disiapkan untuk ustadz bujangan yang belum punya rumah, semacam mess tipe KSS – Kamar Sangat Sederhana -. Sebelah timur ditutup dinding setinggi dua meter, mungkin sebagai tindakan antisipatisi agar kami tidak menjatuhkan diri ke bawah ketika kami pusing. Sebelah barat ditutup pagar besi setinggi satu meter yang menutupi area tempat kami menjemur pakaian.

Kami berjalan terus ke barat melewati pagar besi itu, hingga ke ujung atap gedung. Di bawah sana, terdapat satu bangunan rumah.
“Rumah itu khusus ustadz. Di belakangnya, asrama gedung B.”
Purnomo menunjuk deretan rumah yang ada di depanku. Aku tersenyum kecut. Jadi gedung asrama yang dimaksud oleh makhluk kurus menyebalkan itu ternyata hanya sebuah rumah, bukan gedung megah seperti yang kubayangkan. Aku jadi penasaran bentuk gedung asrama yang satu lagi. Kutanyakan pada Purnomo.
“Gedung C berada di luar areal pesantren, kapan-kapan kita main ke sana.”

Aku yakin, asrama gedung C pun bukanlah gedung megah, gedung itu pasti hanyalah sepetak rumah yang menyedihkan.
“Itu masjid.”
Tanpa disebutpun aku sudah tahu bangunan di sebelah kanan rumah itu pasti masjid. Karena di atas bangunan itu berdiri kokoh kubah yang membelah langit.
“Sebelahnya kanannya adalah ruang belajar.”
Agaknya ruang kelas yang ditunjuk Purnomo yang berada tepat sebelah kanan masjid, adalah ruangan belajar paling kokoh dibanding ruang belajar yang berada tepat di bawahku ini.
“O ya, jika kamu ingin membeli buku bacaan. Kamu bisa beli di koperasi.”
Purnomo menunjuk sebuah ruang kecil yang bernama koperasi. Kulihat beberapa santri keluar masuk ke ruang kecil yang menjual berbagai macam barang keperluan belajar santri.

Aku terus berjalan di atap beton gedung kelas itu, hingga ke sisi selatan gedung. Dari sini bisa kulihat jelas perkampungan penduduk yang cukup padat. Genteng beberapa rumah itu bahkan hampir merapat ke bangunan pesantren. Maka, kata Purnomo, beruntunglah jika jatuh dari atap sini, tidak akan tewas, karena tidak akan langsung terhempas ke tanah, tapi akan jatuh dulu ke genteng-genteng itu, berguling, lalu kemudian mencium tanah. Santri aneh!.
“Di sana lapangan sepak bola!”

Purnomo menunjuk ke arah tenggara. Sebuah lapangan sepak bola sangat jelas terlihat dari atas sini, lapangan itu berada di sebelah timur perkampungan penduduk. Pesantren hanya memiliki lapangan yang luasnya hanya selebar lapangan bulu tangkis. Jika santri mau bermain sepak bola, mereka akan bermain di lapangan rumput itu.

Di depan kamar kami, Purnomo mengenalkan santri penghuni kamar sebelah padaku. Taufik Husain dan Nurrahman Zaki. Hanya dua orang. Rasanya tidak adil, jika kami sekamar berempat, sedangkan mereka berdua. Apalah aku, aku hanya santri baru, belum berani protes.

* *

Menjelang maghrib, sosok yang pernah kutemui di terminal muncul membawa ransel. Aku dibuat takjub atas keuletan penjual jaket kulit keturunan China itu, ia berjualan hingga ke atap pesantren ini. Sekaligus aku heran, kenapa ustadz Dzul membiarkan pedagang itu menjajakan dagangannya hingga ke kamar kami.
”Iwan.”
Pedagang itu tersenyum cengengesan padaku, kedua matanya merem.

Seperti tadi siang sewaktu di terminal, kali inipun ia tidak menawarkan barang dagangannya padaku. Kali ini lelaki berkulit putih ini malah mengajakku berkenalan. Ragu, kuterima tangannya yang berpeluh itu.

Aku semakin dibuat heran, ketika pedagang yang bernama Iwan itu ngeloyor begitu saja masuk ke kamarku. Aku tidak berani mencegahnya, karena Purnomo pun agaknya tidak berani melarangnya. Kutanyakan pada Purnomo tentang jati diri orang itu.
”Iwan santri sini, dia tinggal sekamar sama kita.”

Aku benar-benar takjub. Tadi siang aku sempat dibuat malu pada diri sendiri. Lebih lagi sekarang, aku benar-benar malu pada diriku. Aku hanya menunggu uluran tangan orang tua untuk bisa sekolah. Tapi santri bernama Iwan itu – kali ini aku menganggapnya santri, bukan penjual jaket kulit – berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya dengan berjualan sambil nyantri di sini.

Sejak kedatangan Iwan, aku mulai menemukan berbagai benang merah yang bisa kujadikan hikmah. Pertemuan singkat kami itu cukup menghilangkan rasa kecewaku atas kondisi bangunan pesantren yang sangat jauh dari yang kubayangkan.

Makhluk yang bernama Raisul Balad itu tidak sepenuhnya salah. Aku yakin, jika ia memang santri pesantren ini, pasti ia tidak bermaksud berbohong. Bisa jadi, ia hidup di jaman batu, lalu tiba-tiba terlempar ke masa depan tepat di pesantren ini. Itu lebih masuk akal bagiku. Mungkin, jika dia melihat pesantren lamaku, ia akan terkagum-kagum dan menyebutnya istana.

Aku, di ujung bangunan asrama, bersender pada dinding di samping pagar besi, menatap ke barat, menikmati indahnya cakrawala menjelang magrib yang terbelah ujung lancip puncak kubah masjid, perlahan awan di balik kubah itu menguning keemasan, lalu berubah menjadi merah tembaga, kelelawar-kelelawar kecil mulai beterbangan menyambut gelap, beberapa santri wanita berlari-lari kecil menuju sebuah pintu berwarna hijau muda, lalu mereka hilang di balik pintu itu.

Ada yang luput dari penjelasan Purnomo. Letak asrama puteri. Ingin kutanyakan itu, tapi aku malu. Mungkinkah asrama puteri itu ada di balik pintu hijau muda itu.

Aku di sini, berdiri di suatu tempat yang Purnomo sebut ‘Negeri Atap Awan’, menunggu kedatangan makhluk kurus kering yang bernama Raisul Balad. Tapi, sampai kudengar lantunan syahdu suara adzan maghrib dari masjid pesantren, santri itu belum terlihat juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *