• 16/09/2019

7 Warna Pelangi #12

Puncak Kecewa

oleh : Usep Saepullah

Agaknya kekecewaanku terus berlanjut. Setelah tata letak gedung yang tidak beraturan, aku masih berharap kondisi di dalam kelas tidak seperti tampilan luar yang kusam dan tidak terawat.

Ternyata di dalam kelas pun tidak jauh berbeda.

Pintu kelas selalu berderit ketika ditutup dan dibuka. Meja dan kayu berwarna coklat, sudah lusuh dimakan usia, penuh dengan coretan pulpen.

Tidak hanya di sana, di dinding pun penuh dengan kreasi santri itu. Pembatas antar ruang kelas hanyalah papan kayu dengan engselnya yang sudah rusak. Di beberapa bagian malah tidak bisa tertutup rapat. Sehingga suara dari kelas sebelah masih terdengar. Sangat berisik.

Aku ragu bisa belajar dengan serius jika kondisinya seperti itu.

Tidak hanya itu, jendela hanya berada di bagian utara kelas, sehingga hanya sedikit sinar matahari yang bisa menerobos masuk ke kelas.

Hari ini, hari ketiga belajar di pesantren ini, hari pertama aku mulai belajar dan beradaptasi dengan teman-teman baruku. Jam pelajaran pertama sudah lewat,seorang ustadz pun belum masuk untuk mengajar kami. Aku kecewa, benar-benar kecewa. Tidak pernah terjadi seperti ini di pesantren lamaku. Selalu saja ada ustadz pengganti yang mengisi kelas kosong.

Taufik, penghuni kamar sebelah di Negeri Atap Awan itu berinisiatif mengisi kekosongan jam pelajaran itu dengan diskusi, sebenarnya isinya hanya ngobrol tidak karuan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan pelajaran. Seperti inikah cara belajar santri-santri di pesantren impianku itu.

Melihat aku loyo, Taufik mendaulatku maju ke depan untuk mengenalkan diri. Aku terpaksa maju. Aku diminta menceritakan tentang pesantren lamaku di Tasikmalaya. Sesi tanya jawab dimulai. Berbagai pertanyaan muncul, hingga ke pelajaran-pelajaran tertentu yang tidak ada di Bentar. Aku teringat ucapan pimpinan pesantren tentang ilmu falaq, ilmu untuk menghitung penanggalan Hijriah.
”Ilmu palak, ilmu untuk memalak orang ya?”
Seorang santri agaknya tidak paham ilmu falaq yang kumaksud. Seisi kelas tergelak.
”Bukan! Ilmu falaq itu ilmu hisab, ilmu yang …”
Ucapanku belum habis, tapi sudah ditimpali suara lain.
”Hebat euy ente! Punya ilmu untuk menghisab orang!”
”Waah ilmu sesat itu! Mana boleh manusia menghisab orang lain!”
Mereka tergelak lagi.
”Bukan, bukan hisab itu maksudku. Ilmu hisab yang kumaksud adalah ….”
Serius, agaknya semakin banyak santri yang tidak mengerti ilmu falaq. Kukira hanya satu santri saja. Kujelaskan maksud ilmu falaq yang kupelajari, fungsinya, tujuannya, hasilnya. Serius sekali aku menjelaskan. Tetapi mereka tetap tergelak. Belakangan aku baru tahu, jika aku sedang dikerjai. Sebenarnya mereka tahu ilmu falaq yang kumaksud. Mungkin karena aku santri baru, mereka agaknya sepakat untuk menjailiku.

Di pojok sana, seorang santri tidak peduli dengan hiruk pikuk kelas yang laksana pasar ini. Ia menelengkupkan dua tangannya di atas meja, lalu membenamkan wajahnya ke dalam dua tangan itu. Hebat, ia bisa tertidur pulas di tengah suara bising.

* * *

Dua jam pelajaran sudah berlalu tanpa ustadz. Akhirnya pada jam pelajaran ke tiga seorang ustadz muncul. Berdasarkan informasi dari Purnomo yang duduk sebangku denganku, ustadz itu wali kelas tiga mu’allimien, kelasku. Setelah berbasa basi denganku sebagai anak baru, ustadz muda itu bersender ke meja. Santai sekali.
”Tutup kitab kalian! Kitab bisa kapan saja kalian baca. Sebaiknya manfaatkan pertemuan kita ini sebaik mungkin.”

Aku menutup kitab pelajaran, teman-teman yang lain pun sama. Melihat gayanya mengajar, agaknya teman sekelasku sangat suka. Kelas yang mirip pasar itu tiba-tiba senyap siap mendengarkan ’pelajaran’.
”Ayo kita membicarakan hal lain saja.”
Lanjut ustadz, tapi ternyata setali tiga uang dengan Taufik. Obrolan ustadz yang riang ini pun melantur kemana-mana, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Mulai dari penjajahan Afghanistan oleh Uni Soviet, pembantaian muslim Bosnia oleh Serbia, sampai pemerintahan Orde Baru yang korup. Mulutnya bagaikan sebuah lubang sumber informasi nasional dan internasional terkini. Sesekali dilontarkan pertanyaan-pertanyaan menukik yang membuat kami harus berpikir keras, lalu kami tergelak karena gayanya yang asik. Aku menikmati obrolan itu. Tapi tetap, aku belum bisa menemukan hubungan obrolannya itu dengan pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Sirah Nabawi.

Setengah jam yang terasa singkat itu diakhiri dengan perbincangan tentang ranking. Sebagai wali kelas, pada awal semester ini ia berpesan pada seluruh santri di kelas kami agar belajar yang serius tanpa mempedulikan ranking.
”Ranking itu tidak penting!”

Aku terhenyak. Aku tidak sependapat dengan wali kelasku itu. Hatiku seperti membuat benteng pertahanan siap menolak seluruh argumen yang menganggap ranking itu tidak penting.
”Jika antum ranking satu, apa bisa menjamin antum akan sukses?”
Aku terdiam, agaknya satu per satu benteng itu mulai runtuh. Benar. Siapa yang berani menjamin akan sukses di kemudian hari.
”Ente!”
Ustadz penuh energik itu menunjuk Iwan yang duduk di belakangku. Iwan hanya tersenyum dengan mata setengah merem.
”Ranking berapapun yang ente mau, akan ane kasih.”
Rasanya aku tersindir. Aku memang menginginkan ranking, tapi tidak dengan cara mudah meminta begitu saja. Akan kubuktikan aku bisa meraih ranking atas dengan usahaku sendiri. Aku tidak sependapat jika ranking dianggap tidak penting. Ranking tentu akan menempati posisi tersendiri dalam prestasi santri.

Sementara itu, santri yang tertidur pulas di pojok kelas itu masih asyik dengan mimpinya. Agaknya aku mengenal santri itu. Ia penghuni kamar sebelah lainnya, Nurrahman Zaki.

* * *

Hari pertama belajar, aku sudah mengutuk diri, menyesali kepindahanku ke pesantren yang aneh ini. Siapa lagi yang harus bertanggung jawab atas kekacauan ini selain makhluk kurus kering bernama Raisul Balad yang bertemu denganku di kawah gunung Galunggung. Kutanyakan keberadaan makhluk bernama itu pada Purnomo. Ia malah tergelak, begitu juga Iwan yang menguping pertanyaanku.
”Ada. Dia tinggal di kamar sebelah.”
”Ada? Lalu di mana dia sekarang?”

Aku tersenyum, ternyata orang yang kucari itu memang benar santri Bentar. Aku juga heran, jika memang tinggal di kamar sebelah, kenapa hingga sekarang aku belum pernah bertemu.
”Jum’at besok pasti dia datang.”
”Jum’at besok?”
”Ya. Setiap libur panjang, Rais selalu menambah waktu liburnya setidaknya selama seminggu.”
”Seminggu? Maksudmu dia bolos seminggu?”

Purnomo mengangguk sambil tergelak. Iwan juga ikut-ikutan. Sementara aku menepuk dahiku menyesali keputusan pindah ini. Aku diperdaya makhluk kurus kering tukang bolos. Aku benar-benar merasa berada di puncak kekecewaan. Aku kecewaaaa!!!

* * *

Benar apa yang Purnomo bilang, hari Jum’at Raisul Balad muncul di tangga menuju Negeri Atap Awan. Lelaki kurus itu jalan terbungkuk-bungkuk karena ransel besar bertengger di punggungnya. Lelaki supel itu menyapa setiap santri yang berpas-pasan dengannya. Lelaki kurus kering kurang ajar tukang bolos itu tiba di depanku. Aku mengulurkan tangan sambil berusaha tersenyum, memendam amarah. Rais tersenyum menyambut tanganku.
”Sepertinya kita pernah ketemu, dimana ya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *