7 Warna Pelangi #14

Hari Minggu bagi Kami

oleh : Usep Saepullah

Aku masih ingat betul ketika pertama kali mendaftar di pesantren setelah lulus SD. Waktu itu ayah juga yang mengantarku. Tidak ada yang memaksaku masuk pesantren, bukan pula bujuk rayu paman. Itu murni keputusanku.

Beberapa test masuk kujalani, mulai dari test membaca Al-Qur’an, menulis huruf arab, dan beberapa test lainnya. Tidak terlalu sulit bagiku, karena test-test itu merupakan bagian dari pelajaran yang kuterima setiap sore di sekolah diniyyah. Aku lulus test dengan hasil memuaskan dan diterima di tingkat Tsanawiyyah. Rupanya pesantren tidak ingin membiarkan calon santri patah semangat untuk bisa belajar di sana. Bagi yang tidak lulus test, maka disediakan kelas khusus satu tahun yang bernama Tazijiyah. Semacam sekolah persamaan untuk masuk Tsanawiyyah.

Semua berjalan normal hingga aku melihat jadwal pelajaran yang diawali dengan hari Sabtu, bukan hari Senin seperti di SD dan Diniyyah. Selanjutnya hari :
Ahad
Al-Quran
Bulughul Maram
……….. dst.
Tidak ada hari Jum’at di jadwal pelajaran itu.

Pada pelajaran diniyyah, hari Ahad yang kutahu artinya hari minggu. Itu berarti di pesantren ini hari minggu tidak libur, sebagai gantinya hari Jum’at. Aku tertegun. Rasanya akan banyak sekali yang harus kukorbankan untuk masuk pesantren.

Hari minggu bagiku adalah hari yang selalu kunanti, hari ketika aku bisa nonton televisi sepuasnya di siang hari, karena selain hari minggu, aku hanya diperbolehkan nonton televisi sore hari sebelum maghrib dan malam hari setelah shalat isya sampai jam sembilan malam, itu juga setelah aku menyelesaikan tugas dari sekolah, kata guru, PR namanya.

Hari minggu adalah hari ketika aku bisa berkumpul dengan teman sekampungku untuk bermain sepak bola, berenang di sungai, memancing ikan dan memainkan berbagai macam permainan yang tidak pernah habis. Jika aku sekolah di pesantren, maka aku tidak akan pernah bisa lagi melakukan semua itu. Seluruh teman sekampungku memilih melanjutkan sekolah ke SMP.

Aku masih tertegun. Bagiku itu pengorbanan yang berat. Terlintas di otakku untuk membatalkan masuk pesantren, lalu beralih ke SMP seperti teman-teman sekampungku itu. Tapi, ibu meyakinkan pengorbanan itu tidak akan sia-sia.

Adapun tentang nonton acara televisi itu, ibu memperbolehkan aku menonton sepuasnya pada hari Jum’at. Tapi percuma saja, karena jum’at pagi sampai sore, televisi hanya menayangkan beberapa garis lebar berwarna-warni dengan suara ’tuut’ panjang tiada henti. Sangat membosankan. Akhirnya, untuk menumpahkan rasa rinduku pada acara televisi hari minggu, maka setiap waktu istirahat, aku menyempatkan diri nonton sambil jajan di warung seberang pesantren.

Setiap hari minggu semua berjalan normal saja, seperti biasa aku belajar dari jam tujuh sampai jam sembilan, istirahat lima belas menit, nonton televisi sambil jajan di warung seberang, masuk, belajar lagi, dan seterusnya. Sangat menyenangkan.

Ketika aku mendapatkan ranking satu. Semua berubah drastis. Aku bagai kesetanan dalam belajar. Televisi kuabaikan, hobby kutinggalkan, main sepak bola kutelantarkan, santriwati cantik kuacuhkan, aku hanya fokus pada pelajaran. Aku betul-betul melupakan hari minggu yang sangat berarti bagiku itu.

Di sini, di pesantren baruku, aku menemukan sesuatu yang berbeda dalam menyikapi hari minggu. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan yang pernah kulakukan.

Taufik, misalnya. Ia hobby main bola. Ia benar-benar menggilai si kulit bundar itu lebih dari segalanya. Setiap ada kesempatan, ia selalu membawa bola dan bermain bola. Di kamar mandi, bola itu ikut mandi. Di dapur umum, bola pun ikut, tapi tidak ikut makan. Tidur pun, si kriwil itu memeluk bola. Satu lagi, menurut informasi dari orang yang sangat bisa kupercaya, Purnomo, di dompet si Taufik, terselip photo Maradona, bukan pacarnya. Sableng!

Kelakuan itu belum seberapa, itu urusan Taufik. Ada kelakuannya yang sangat menggangggu. Hampir setiap hari minggu ia bolos. Terkadang dia berangkat pagi buta sebelum Iwan bisa melek dengan benar, kembali lagi ke pesantren sekitar jam sepuluh siang. Itu artinya ia ketinggalan pelajaran dari jam tujuh pagi sampai jam sepuluh. Terkadang ia duduk imut di kelas pagi-pagi, lalu pada jam istirahat ia sudah menghilang entah kemana.
”Latihan sepak bola, Sep!”
Jawab Taufik enteng sekali ketika kutanyakan alasan kepergiannya.

Parahnya lagi, ia bisa bolos seharian demi pertandingan sepak bola. Lalu kutanyakan cita-citanya setelah lulus dari pesantren nanti. Kutebak jawabannya pasti ’menjadi pemain sepak bola professional’.
”Jadi pimpinan pesantren, Sep!”

Aku menarik nafas dalam-dalam sambil garuk-garuk kepala. Aku benar-benar tidak paham hubungan antara sepak bola dengan pimpinan pesantren.

Bukan cuma Taufik yang berkelakuan aneh itu. Rais juga, kadang ia pergi ke Bandung pada hari minggu, katanya menghadiri seminar atau bedah buku. Jujur, aku tidak percaya!. Purnomo, sebulan sekali rutin menghilang pada hari minggu, santri misterius ini tidak pernah bercerita. Iwan juga ikut-ikutan, kalau santri yang satu ini bisa kutebak, ikut bazar.

Cuma kami bertiga yang masih setia menunggu Istana Atap Awan ini. Nurrahman Zaki yang sedang tertidur pulas di kamar, Irvan yang sedang menulis kisah hari-harinya dalam buku diary, dan aku yang bingung melihat empat temanku tadi. Seperti itulah hari minggu bagi kami.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *