7 Warna Pelangi #16

Taman Surgawi

oleh : Usep Saepullah

Setiap kali keluar kamar asrama, aku selalu melangkah ke samping kanan kamar, sekitar lima langkah, lalu pandanganku akan langsung kutebar ke arah barat. Bukan, jangan berprasangka baik dulu, kawan. Pandanganku bukan langsung tertuju ke bangunan masjid yang berdiri kokoh di sana. Bukan pula ujung lancip puncak kubah masjid yang kerap membelah cakrawala merah tembaga ketika menjelang maghrib. Atau, bukan pula bangunan koperasi sebelah masjid, satu bangunan di pesantren yang selalu menyediakan berbagai macam buku bacaan untuk mengusir rasa hausku akan ilmu.

Mataku selalu tertuju pada satu pintu di ujung barat, persis sebelah kanan masjid, hanya satu atau dua meter dari dinding bangunan tempat kami khusyu berdu’a itu. Pintu itu berwarna hijau muda, dengan kusen warna hijau muda pula. Dari tempatku berdiri, pintu itu hanya terlihat sebesar korek api. Bagiku, pintu itu dan apapun yang ada di balik itu adalah sebuah misteri, misteri yang harus dipecahkan, membuatku sangat penasaran.
“Di balik pintu itu, asrama puteri, Sep.”
Jawab Purnomo ketika kutanya tentang pintu itu.
“Aku tau, di sana asrama puteri. Maksudku, seperti apakah asrama puteri itu, Pur?”

Iwan berhenti mengepak barang dagangannya, Irvan berhenti mengisi diarynya. Agaknya mereka pun sama sepertiku. Sangat penasaran dengan segala sesuatu yang ada di balik pintu berwarna hijau muda itu.
“Di dalam sana, tidak ada yang istimewa, seperti umumnya sebuah asrama dengan belasan kamar tidur.”
“Cuma itu?” Irvan kecewa.
“O ya, di tengah komplek asrama terdapat sebuah taman.” Lanjut Purnomo.
”Taman Pur?”
”Betul, di tengah-tengah komplek itu ada taman.”
”Taman surgawi, taman yang dikelilingi bidadari nan cantik.” Batinku.

Hari ini, liburan hari ketiga, tepat jam sembilan pagi, disaksikan mentari dan Iwan, kutagih janji Purnomo untuk patroli ke dalam komplek asrama puteri. Untuk moment ini, Iwan sengaja mereschedule jadwal berjualannya.
”Lets go!”

Aku, Purnomo, dan Iwan berjalan berjajar, laksana tiga cowboy yang akan menggerebek sarang penjahat. Purnomo memutar-mutar gantungan kunci asrama dalam telunjuknya. Berdebar keras jantungku, mungkin Iwan juga. Menunggu moment yang paling bersejarah dalam hidup. Masuk taman surgawi yang selama ini hanyalah misteri.

Begitu sampai pintu itu, Purnomo langsung memasukkan anak kunci ke dalam lubang kunci yang berada dalam daun pintu hijau muda itu.
Crek, crek!!!
Sunyi sekali, suara anak kunci ketika bergerak itu terasa bergema.
Agaknya Iwan tidak ingin menyia-nyiakan moment ini. Ia pegang daun pintu itu, lalu mengusapnya. ia lalu menatapnya dari atas hingga bawah, matanya tidak berkedip. Ia tersenyum. Pintu yang selama ini hanya bisa dilihatnya sebesar korek api, sekarang ia bisa puas memandangnya, sesuai ukuran aslinya. Bukan cuma itu, iapun bisa memegang dan mengusapnya dengan lembut.
Aku ingin melakukan itu, tapi sudah keduluan Iwan.

Asal tahu saja, kawan. Setiap sore, di pintu ini, beberapa orang santri puteri sering terlihat berdiri, mereka bersender di daun pintu ini, pandangan mereka selalu tertuju ke arahku yang berdiri di atas sana. Maaf, aku terlalu percaya diri, maksudku, pandangan mereka langsung tertuju ke asrama gedung A tempatku berdiri. Karena bangunan asrama gedung A ini berhadapan langsung dengan pintu hijau muda itu. Sedangkan aku, hanyalah remeh yang tak pernah dilirik mereka.

Aku selalu tersenyum menyambut wajah-wajah cerah mereka, meskipun aku tahu, senyumku tidak akan berarti apa-apa bagi mereka, jaraknya cukup jauh, senyum ataupun cemberut sama saja bagi mereka, wajahku akan terlihat samar oleh mereka, begitu juga sebaliknya. Tapi, bagiku wajah mereka terlihat selalu tersenyum.

Asal tahu saja, kawan. Aku selalu setia berdiri di sana, menunggu mereka melambaikan tangan memanggilku. Meskipun aku tahu. semua itu tidak akan pernah terjadi. Hanya laki-laki beruntung yang mendapat lambaian tangan dari wanita-wanita cantik di depan pintu ini.

Purnomo lah salah satu lelaki beruntung itu, ia sering dipanggil menuju pintu ini. Wajah cerianya langsung terlihat jelas mengiringi langkah ringannya. Setelah sampai di depan pintu, terkadang ia masuk ke dalam sana, atau terkadang pula ia pergi ke suatu tempat untuk mengemban tugas.

Lelaki beruntung lainnya yang sering dipanggil adalah penghuni kamar sebelah, Raisul Balad, Nurrahman Zaki dan Taufik Husein. Seperti Purnomo, Taufik Husein selalu berjalan tergesa dengan muka ceria. Anehnya, Raisul Balad dan Nurrahman Zaki terlihat biasa-biasa saja.

Apapun reaksi mereka, tetap saja semua itu selalu membuatku iri.
Aku, Irvan dan Iwan bukanlah lelaki yang beruntung. Satu kalipun kami tidak pernah mendapat lambaian tangan untuk mendekati pintu itu. Kondisiku masih bisa dimaklumi, karena aku baru tinggal beberapa bulan di sini. Tapi Irvan dan Iwan? Mereka sudah lebih dari dua tahun tinggal di bangunan pesantren ini, tidak pernah sekalipun mendapatkan kesempatan mendekati pintu yang diam-diam sedang kuusap dengan lembut ini.
Krrrrtttttt!!!

Daun pintu hijau muda itu terbuka lebar. Aku dan Iwan berebutan masuk, sampai-sampai Purnomo hampir jatuh tersenggol bahu Iwan. Mata kami terbelalak. Purnomo benar tentang taman itu. Begitu masuk komplek asrama, aku disuguhi pemandangan taman yang indah. Berbagai macam jenis pohon dan bunga tertata rapi. Ada tiga bangku di tengah taman itu. Eksotis sekali.

Kami melangkah ke tengah taman. Purnomo mengikuti kami dengan langkah gontai, agaknya ia mentertawakan tindakan kekanak-kanakan kami. Biarlah ia berpikir begitu. Ia belum tahu, bagaimana rasanya memendam rasa penasaran sampai berbulan-bulan. Bisa bisul aku dibuatnya.

Dari taman, kami bisa leluasa melayangkan pandangan ke seluruh penjuru mata angin. Melihat seluruh isi komplek asrama puteri. Di bagian selatan taman, berdiri kokoh bangunan asrama puteri dua lantai dengan beberapa kamar yang cukup luas, kusen pintunya berwarna hijau muda, begitu juga dengan jendelanya, ada mading di beberapa bagian dinding, berisi pengumuman atau coretan karya santri puteri. Begitu pula kamar-kamar di bagian barat. Di sebelah utara, terdapat dapur umum bersebelahan dengan kamar mandi yang berjejer. Sedangkan di bagian timur, bangunan kelas yang dindingnya menempel dengan masjid. Terjawab sudah misteri di balik pintu warna hijau muda ini.
”Matipun aku tidak akan penasalran.” Gumam Iwan.

Berbeda sekali dengan asrama putera gedung A, hanya dua bangunan kelas yang diisi dengan ranjang kayu dan lemari pakaian, plus dua kamar di Negeri Atap Awan, jika dilihat dari jauh, lebih mirip kandang burung merpati daripada kamar. Gedung B lebih tidak nyaman lagi, bangunanya hanyalah beberapa petak kamar yang tidak pernah tersentuh sinar matahari. Lembab, gelap, karena itu sepanjang hari lampu harus selalu menyala. Sedangkan gedung C berada di luar komplek pesantren, lebih mirip rumah kontrakan daripada sebuah asrama.

Iwan melirik ke arahku.
“Aya nu kulrang nya Sep.”
“Bener, Wan. Aya nu kurang.”
Ada yang kurang di komplek ini, penghuninya. Tempat seindah ini tidak akan istimewa jika tidak ada penghuninya. Seandainya, sekarang, detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, bulan ini, tahun ini, di tempat ini ada penghuninya, tentu kami akan menjadi tiga lelaki paling beruntung sedunia. Kami berdiri di tengah taman ini, dikelilingi wanita-wanita cantik. Siulan dan sapaan menggoda kami – tapi siulan agaknya tidak mungkin – hingga wajah kami memerah menahan malu. Kami betul-betul menjadi tiga lelaki tertampan di dunia. Aku dan Iwan tersenyum. Aku dan Iwan telah bertemu di alam khayal. Agaknya aku dan Iwan sepakat meskipun tidak pernah kami ungkapkan.
“Selesai!”

Sayangnya Purnomo tidak sepakat. Tega sekali.
“Patrolinya selesai. Asrama puteri akan kukunci kembali.”
“Yaaaaa!!”
Iwan sangat kecewa. Aku juga.
”Pur, bukankah kita harus patroli?”
Aku mengingatkan Purnomo akan tugasnya.
”Tidak perlu.”
“Tidak perlu? Kenapa?”
”Kamu lihat pintu itu?”

Purnomo menunjuk pintu masuk berwarna hijau muda itu. Kami serempak menoleh ke arah pintu.
”Tidak ada satu orang pun bisa masuk ke sini, selain melalui pintu itu. Jika tidak ada apa-apa dengan pintu, berarti kondisi asrama puteri aman-aman saja.”

Purnomo memang benar. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa masuk asrama puteri selain melalui pintu itu. Bangunan-bangunan dalam asrama ini mengelilingi taman surgawi ini. Semuanya berlantai dua. Jikalau ada yang berani masuk asrama puteri lewat atas, lewat genteng. Berarti orang itu sudah bosan hidup.

Aku dan Iwan terdiam. Purnomo benar-benar egois, kami menemaninya menghabiskan liburan selama seminggu di pesantren, masa kami hanya diberi kesempatan beberapa menit saja untuk menikmati indahnya taman yang hanya ada dalam impian kami.
“Pulr, belum tentu aman-aman saja.”
“Maksudmu?”
“Bagaimana kalau ada bagian-bagian aslrama yang digelrogoti tikus? Misalnya kabel. Itu sangat belrbahaya.”
Agaknya Iwan sedang membicarakan kondisi di rumahnya.
Purnomo tertegun, ia mulai terpengaruh.
“Bukankah kamu diamanahi untuk patroli di asrama puteri?”
Purnomo mengangguk.
“Iwan, inikah yang namanya patroli?”
Aku mengedipkan sebelah mata, tanpa ketahuan Purnomo tentunya. Iwan mengerti maksudku. Ia menggelang cepat.
“Bukan, bukan, bukan. Ini bukan patlroli.”
“Jika amanah dilanggar, orang itu disebut apa Wan?”
“Mu…..”
“Oke, oke, oke. Kita patroli!!”

Kami akhirnya memeriksa setiap sudut bagian luar kamar asrama. Kami coba membuka pintu dan jendela kamar satu per satu, memastikan pintu dan jendela itu tertutup dengan benar. Aku yakin, Purnomo berharap semua terkunci rapat, agar tugas patroli cepat selesai. Sedangkan aku dan Iwan berharap sebaliknya, agar tugas kami bertambah, kalau begitu kami bisa berlama-lama di sana. Tapi kenyataannya, seluruh pintu dan jendela kamar tertutup rapat.

Setengah jam kemudian kami selesai patroli.
“Pur, besok patroli lagi kan?”
“Cukup sekali saja.”
“Ingat Pur, ini amanah.”
“Baik, baik, baik. Besok ke sini lagi.”
Sebelum melangkah meninggalkan komplek asrama, kusempatkan sekali lagi untuk melihat ke sekeliling. Kubisikkan satu kalimat.
“Tunggu aku, besok aku kembali.”
Purnomo menutup kembali pintu kayu berwarna hijau itu, lalu menguncinya. Taman surgawi itu kini terkunci lagi.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *