7 Warna Pelangi #17

Beri Aku Satu Bidadari

oleh : Usep Saepullah

”Sep, tau bidadari enggak?”
Tanya paman suatu waktu. Dulu, ketika aku masih berumur tujuh tahunan.
“Bidadari? Bidadari itu apa mang?”
Aku balik nanya. Waktu itu aku betul-betul tidak tahu. Sebelum dijelaskan paman, sempat terlintas di pikiranku bahwa bidadari itu nama suatu tempat, atau mungkin nama makanan, atau bisa jadi nama mobil keluaran terbaru.

Paman terdiam. Agaknya ia sendiri bingung tentang definisi objek yang sedang ia bicarakan. Ia berusaha mencari kalimat paling sederhana untuk menerangkan bidadari padaku, agar mudah dicerna oleh cara berpikirku yang masih lugu.
“Begini saja, menurut Asep, siapa perempuan yang paling cantik di dunia?”
Aku tertegun.
”Cantik?”
Paman mengangguk.

Yang Aku tahu, cantik itu nyaman dilihat, tidak membosankan, membuat kita tenang, rindu ketika berpisah. Persamaan kata dari indah, hanya saja kata indah sering digunakan untuk barang atau pemandangan.
Otakku lalu berputar mencari wanita dengan kriteria yang kutahu tadi. Ingatanku melayang pada teman TK ku. Dialah gadis terindah yang kutahu. Matanya hitam bening, aku merasa nyaman ketika melihatnya, aku tersipu malu ketika bertatapan, begitu juga gadis itu. Pipi tembemnya sering membuat tanganku gatal untuk mencubit, senyumnya manis sekali. Aih, aku jadi rindu untuk bertemu. Tidak salah lagi, dialah wanita paling cantik yang dimaksud.

“Fira!!”
Pekikku mantap. Tapi setelah umurku dua belas tahun. Penilaianku tentang wanita terindah di dunia berubah menjadi mbak Gina Sonia. Penyiar TVRI Bandung yang anggun dan lembut itu. Sejak ada mbak Gina di TVRI, aku dan paman tiba-tiba saja jadi suka menonton acara berita yang membosankan itu.

“Bidadari itu jauuuh lebih cantik dari Fira!”
“Wuiiihhh!!! Lebih cantik dari Fira mang?”
Aku melonjak girang, penasaran info lebih lanjut tentang Bidadari. Tiba-tiba saja aku membayangkan wajah Fira dicoret-coret dan diganti dengan wajah bidadari yang belum kukenal.
“Lebih cantik! Fira mah jauuuuh!!”
“Kalau dibanding Aisyah puteri pak RT, lebih cantik siapa mang?”
Paman tersipu malu, pipinya memerah. Aku tahu, paman naksir berat sama gadis puteri pak RT.
“Anak pak RT?”
Aku mengangguk.
“Jauuuuuuuuuh!!!”

Tanpa banyak pikir lagi ia jawab pertanyaanku. Biasanya kalau mau menjawab pertanyaanku, ia selalu tertegun sebentar. Ia mengangkat tangan kanannya lalu menepiskannya seolah membuang sesuatu yang menjijikan. Aku tau, dia menjawab begitu karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Coba kalau diterima. Pasti jawabannya lain lagi.
“Beda-beda tipis lah!”

Perbincangan tentang bidadari pun berlanjut. Tidak banyak yang kuingat dari perbincangan itu, karena pikiranku terus melayang pada teman TK ku itu, bidadari bagiku hanyalah sebuah keyakinan yang tidak pernah bisa terjangkau akal. Hanya iman untuk mempercayai keberadaannya, sebagaimana surga dan neraka. Sedangkan gadis TK itu nyata. Tapi, entah di mana ia sekarang.
“Kalau besar nanti, mamang mau nikah sama bidadari.”
Aku menatap paman, kagum dengan keyakinan dan cita-citanya. Tapi, aku belum bisa menjangkau apa yang ada di pikirannya.

* * *

Empat tahun kemudian, paman mendapatkan beasiswa kuliah di Peshawar Pakistan. Aku sangat senang, tapi sekaligus sedih. Beasiswa itu berarti aku akan berpisah cukup lama dengan paman.

Di atas boncengan motor vespa ayah, Aku menengok ke belakang. Kulihat paman sedang berdiri di depan pintu gerbang. Ia melambaikan tangannya padaku, ia tersenyum, sedangkan kedua mataku berkaca membayangkan perpisahan. Pasti akan lama. Ayah memacu motor vespanya, semakin lama paman semakin jauh, akhirnya tubuh paman menghilang ketika motor vespa ayah berbelok.

Kini, hingga tiga tahun setelah perpisahan itu, satu kalipun paman tidak pernah memberi kabar pada kami. Aku rindu paman, aku rindu candaanya, aku rindu petuah-petuah konyolnya. Aku rindu semuanya.
Ketika perbincangan tentang bidadari waktu itu, sebenarnya ada yang ingin kukatakan pada paman, tapi aku ragu.
“Paman, beri aku satu bidadari”

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *