7 Warna Pelangi #18

Pocoooong !!!

oleh : Usep Saepullah

Malam Jum’at Kliwon jam 11 malam.
Malam ini begitu dingin, jaket tebalku hanya mampu membuat badanku sedikit hangat. Hawa dingin sesekali terasa menembus jaketku. Aku dan Purnomo berjalan menelusuri jalan tanah. Gelap, hanya cahaya purnama yang menerangi jalan.

Setiap malam jum’at aku dan beberapa temanku berlatih beladiri di luar komplek pesantren. Entah kenapa malam ini teman-temanku yang lain malas berlatih, hingga yang tersisa hanya aku dan Purnomo saja. Ia sangat bersemangat berlatih. Gen jawara benar-benar mengalir di tubuhnya.

“Kuk…kuk…kuuuuuk!!!”
Burung hantu terus menerus mengeluarkan suara yang menakutkan. Bulu kudukku berdiri. Kurasa burung itu terus membuntuti kami berdua. Sejak melewati komplek pekuburan terluas di Tasikmalaya, burung itu seolah menyambut kami, lalu mengikuti.

Aku melirik Purnomo yang berjalan di sebelahku, ia terlihat santai-santai saja. Wajahnya tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun. Aku sedikit merasa tenang.
“Betul-betul anak jawara.” Batinku.

Kami terus melangkah menyusuri jalan setapak yang diapit pekuburan yang sangat luas di sebelah kanan, dan rel kereta api di sebelah kiri. Di seberang rel kereta api terdapat perkampungan penduduk.
Sebenarnya bisa saja kami pulang melewati jalan kampung. Tapi akan memakan waktu lebih lama. Jika melewati jalan pintas yang kami lewati sekarang, cukup setengah jam saja untuk mencapai pesantren. Sedangkan jika melewati jalan kampung, akan membutuhkan waktu lebih dari sejam.

Set!!!
Bayangan putih berkelebat tepat di depan kami berdua.
“Astaghfirullaah!!”
Pekikku kaget. Kulirik Purnomo. Aku bingung ia masih terlihat santai. Kupikir ia tidak melihat kelebat bayangan putih tadi.
“Tenang Sep”
“Kamu lihat juga?”
Purnomo mengangguk. Ia menghentikan langkahnya, akupun sama. Purnomo memutar badannya, melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru mata angin, tangannya sigap mengeluarkan pedang naga puspa. Aku heran, sejak kapan Purnomo membawa pedang yang biasanya hanya menjadi pajangan di kamar asrama.

Pedang Naga Puspa terhunus. Purnomo memasang mata dan telinga, memperhatikan seluruh pergerakan yang ada di sekelilingnya, sekecil apapun. Akupun mengikuti gerakan Purnomo. Kami saling membelakangi, mirip dua pendekar di film-film yang pernah kutonton waktu SD dulu.
“Keluar kalau berani!!!” Teriak Purnomo
“Jangan nantang begitu dong. Kalau benar-benar keluar gimana?”
Aku tidak setuju.
“Akan kubabat pake si Puspa”
Purnomo menunjukkan pedangnya.
”Naga Puspa Pur, bukan Puspa!!”
Purnomo nyengir.
“Kamu enak bawa pedang. Ane gimana nih?”
Purnomo jongkok mengambil kayu di depannya, matanya tetap tajam mengawasi sekitarnya.
“Nih, kamu pakai kayu saja”
Tadinya aku berharap Purnomo menyerahkan pedang Naga Puska padaku. Daripada tidak ada senjata sama sekali. Sebagaimana pepatah mengatakan, tidak ada pedang, kayu pun jadi.
“Kuk…kuk….kuuuukk!!”

Suara burung hantu terdengar lagi, langsung membuat bulu kudukku berdiri.
Ssssss…
Aku merasakan hawa dingin di atas kepalaku. Bau busuk pun menyeruak, menusuk-nusuk lubang hidungku. Aku dan Purnomo repleks melihat ke atas. Terlihat kain putih kapan lusuh meluncur ke bawah, tepat ke atas kepala kami.
“Awas Sep!!”

Purnomo refleks mendorong badanku hingga aku tersungkur ke depan. Ketika aku membalikkan badan.
“Waaa!!”
Sesosok makhluk putih terbungkus kain kapan putih berdiri di antara aku dan Purnomo yang masih terbaring.
“Po… po… pocoooong!!” teriakku
Sialnya lagi, makhluk itu menghadap ke arahku. Bukan Purnomo. Sebaris muka pucat terlihat di antara kain kapan yang terbuka sedikit di bagian atas. Kedua matanya bersinar hijau menatap tajam ke arahku. Makhluk itu melayang ke arahku. Bukan lompat-lompat seperti yang pernah kulihat di film-film horror. Film-film itu memang benar-benar membodohi umat.

Aku merangkak mundur. Purnomo sudah berdiri di belakang makhluk itu dengan si naga puspa terhunus. Ingat baik-baik Pur. Sebutkan nama pedangmu dengan lengkap. Naga Puspa, bukan Puspa.

Gerakanku terhenti ketika sesuatu membelit tubuhku, panjang seperti ular, kenyal berwarna putih pucat dengan lendir merah, dan…, sangat bau.
”Ueek” Aku sampai muntah.
Ketika aku berbalik.
“Waaa!!!”
Untuk kedua kalinya aku dibuat kaget.

Sesuatu yang melilit tubuhku itu ternyata usus yang terburai dari tubuh makhluk itu. Aku semakin panik. Kupukulkan kayu yang dari tadi kupegang sekuat tenaga. Bukannya mengendor, lilitan itu semakin mengencang. Aku kehabisan tenaga, dadaku sesak karena sulit bernafas. Aku Pasrah.
Tiba-tiba
Tebss!!!
Naga Puspa di tangan Purnomo menebas usus yang membentang kencang. Aku terlempar ke belakang. Lilitan usus di tubuhku merenggang, jatuh ke tanah lalu menghilang.

Makhluk itu marah. Sinar matanya menjadi merah. Ia menghadap Purnomo yang terlihat santai saja.
Sreetttt!!!
Serabut usus meluncur deras ke arah Purnomo yang langsung mengangkat kedua tangannya agar tidak terkena lilitan. Ia biarkan badannya terlilit, lalu ditarik paksa ke arah makhluk itu.

Begitu jarak mereka hanya setengah meter. Tanpa basa-basi lagi Purnomo langsung membabat, membacok, menebas tubuh makhluk itu. Darah hitam muncrat, disertai nanah kuning yang berbau busuk. Membuat kain kapan lusuh itu semakin kotor.

Purnomo betul-betul tidak memberi kesempatan pada makhluk itu untuk membalas. Berpuluh-puluh bacokan terus menghujani tubuh makhluk itu. Sampai akhirnya Purnomo menebas batang kepala makhluk itu. Kepala itu langsung terpelanting, jatuh menggelinding tepat ke arahku.
Aku tidak tinggal diam, aku ayunkan kaki kananku ke belakang, siap menendang kepala itu. Tapi, begitu kepala yang menggelinding itu berhenti tepat di depanku, yang kulihat hanyalah bongkahan batang pohon pisang sebesar kepala.

Tubuh makhluk itu sudah berubah menjadi batang pohon pisang yang tercabik-cabik. Usus yang melilit tubuhnya berubah menjadi batang daun pisang dan akar-akar pohon. Purnomo dengan santainya membersihkan tubuhnya.

Kami bermaksud melanjutkan perjalanan, tapi tiba-tiba angin kencang berhembus lagi, mengoyangkan pohon-pohon yang ada di depan kami. Anjing melolong pilu, lolongan yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri.

Purnomo merangsek satu langkah di depanku.
“Tahan Sep!”
“Ada apa?”
“Kita kedatangan jin iseng lagi”
“Maksudmu?”
“Diam! Liat rimbunan pohon itu!”
Aku melihat ke rimbunan pohon yang tadi bergerak-gerak ditempa angin kencang. Tiga bayangan putih melesat menuju kami.
“Astaghfirullah!!”

Tiba-tiba aku merasa pusing. Melawan satu saja aku sudah keteteran, sekarang sekaligus tiga makhluk. Bau busuk mulai menusuk hidung lagi. Aku berusaha menutup hidung, tapi bau itu tetap terasa. Hingga akhirnya aku tersentak bangun.
“Alhamdulillah. Ternyata mimpi”
Buku kudukku kembali merinding, karena bau busuk itu masih tercium. Ketika kulihat sebelah.
“Dasar rambut landak!!”

Kaki iwan yang cantengan hampir mendarat di wajahku. Wajahnya yang innocent membuatku tidak tega untuk menyingkirkan kaki itu dengan kasar.

Libur Iedul Adha tinggal tiga hari lagi. Setiap malam, sebelum tidur, kami selalu berbagi kisah masa kecil kami. Tapi Purnomo lah yang paling banyak berkisah tentang masa kecilnya, karena dari kami bertiga, hanya kisah Purnomo lah yang paling menarik. Merinding, adrenalin terpacu, kagum, haru, lucu, semua berbaur. Kali ini, kisah-kisah mistis Purnomo ketika masih kecil terbawa mimpi.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *