7 Warna Pelangi #21

Pengrajin Kulit

oleh : Usep Saepullah

Iwan Kurniawan, contoh produk asli urang Sunda. Telisik saja namanya, ada pengulangan vocal ’wan’ di kedua namanya. Awalnya, kukira santri berambut landak itu keturunan chinese, karena matanya yang sipit dan kulitnya yang putih, tapi, begitu aku berkunjung ke rumahnya, prasangka itu pupus.

”Subhanallaah!!”
Sungguh, di rumah Iwan ini, telah kutemukan keajaiban, di antara keluarga yang berkulit gelap dengan rambut ikal, bahkan sebagian kriting, lahir satu sosok manusia seperti Iwan. Allah Maha Kuasa.
”Wan, Ente anak pungut ya?”

Pertanyaan sama yang ingin kusampaikan pada Iwan, tapi keduluan Purnomo. Iwan malah nyengir, seperti biasa kedua matanya merem. Tapi, di sudut sana, tanpa sepengetahuan Purnomo, lelaki berambut coklat tua berambut ikal melihat kami dengan sudut mata, ada marah di sorot mata itu. Lelaki yang akan menjemur kulit yang telah melalui proses samak, Iwan memanggilnya bapak.

* * *

Tidak seperti biasanya, barang dagangan Iwan cepat habis, hanya tinggal beberapa potong jaket kulit yang tersisa. Mungkin, karena pada liburan iedul Adha ini, Iwan memiliki waktu yang cukup panjang untuk berjualan, ia pun punya kesempatan mencari lokasi berjualan baru. Karena kesuksesan ini, aku hanya berharap ia tidak tergoda untuk memperpanjang masa libur seperti Rais, atau lebih ekstemnya ia meninggalkan bangku pesantren. Jangan sampai terjadi!.

Hari Rabu, tiga hari menjelang libur Iedul Adha usai. Iwan mengajak kami – aku dan Purnomo – ke rumahnya di kampung Sukaregang, salah satu sentra pengrajin kulit di daerah kabupaten Garut. Kesempatan ini tentu tidak kusia-siakan, jarang sekali Iwan mengajak temannya ke rumahnya. Sudah cukup lama aku ingin mengenal keluarga Iwan yang ulet ini, santri yang tidak pernah patah semangat, santri yang selalu tersenyum sambil merem.

Iwan tidaklah pandai berkisah, tidak seperti Purnomo yang selalu bercerita hampir tiap malam menjelang tidur. Cerita-cerita itu membuatku semakin mengenal sosok Purnomo, aku semakin dekat, aku semakin kagum, aku semakin sayang. Maka, benarlah adanya ungkapan ’jika tak kenal, maka tak sayang’ itu. Agaknya, Iwan akan berkisah tentang kehidupannya dengan caranya sendiri, karena Iwan tidak pandai berkisah.

Sukaregang tidaklah jauh, tidak sampai sepuluh kilometer dari pesantren. Awalnya kukira wilayah itu sangat jauh dari pesantren, hingga Iwan memilih tinggal di asrama daripada di rumahnya. Ketika hal itu kutanyakan pada Iwan.
”Waktuku habis di jalan jika bolak-balik setiap hari.”
Cerdas, di kemudian hari, ia pantas menjadi pengusaha jaket kulit yang sukses, ia sudah memiliki modal semangat, ia pun pintar memanage waktu.

”Ada satu alasan yang tidak bisa kuceritakan, tapi kalau kalian sedang mujur, kalian akan tahu.”
Lanjut Iwan kemudian, tidak ada beban pada ucapan itu. Padahal aku yakin, alasan yang tidak bisa Iwan ceritakan itu, adalah alasan utama ia memilih tinggal di asrama daripada di rumah.

Ketika Iwan mengucapkan salam, lalu kemudian masuk rumah, kukira kami sedang dibawa ke rumah tetangga. Tapi, begitu Iwan menyebut lelaki berkulit gelap itu dengan sebutan bapak, dan wanita berkulit sawo matang di sebelahnya dipanggil ibu, aku terpana.

Seperti yang kusebutkan tadi, aku dibuat takjub akan kekuasaan Allah dalam hal penciptaan. Mungkin hampir sama ketakjubanku ketika melihat pemandangan kota Tasikmalaya dari puncak gunung Galunggung.

Aku tidak bermaksud menyamakan keluarga besar Iwan dengan gunung.
Hingga keluarlah pertanyaan dari mulut Purnomo, pertanyaan yang hampir kuucapkan itu. Meskipun sudah kusenggol, Purnomo tetap saja menyerang Iwan dengan pertanyaan seputar status Iwan. Purnomo tidak tahu, lelaki yang akan menjemur kulit itu semakin marah, buktinya kulit yang dibawanya itu, ia lempar ke tempat penjemuran hingga menimbulkan suara keras. Agaknya keluarga Iwan bukan hanya pengrajin jaket kulit, tapi sekaligus pengrajin kulit. Di dalam sana, tiga orang lelaki yang dipanggil aa oleh Iwan, sedang menjahit berbagai macam produk dari kulit. Jaket salah satunya.
”Di akte lahir sih seperti itu.”

Iwan mulai ragu akan status biologisnya, maka dari itu Purnomo menghentikan pertanyaannya. Sementara aku masih terkagum-kagum akan kebesaran Sang Maha Pencipta. Aku yakin, Iwan bukan anak angkat. Menurut sejarah, sudah sejak dulu orang China menetap di pulau Jawa, berbaur dengan pribumi. Bisa saja gen yang dimiliki Iwan berasal dari gen nenek moyangnya. China.

Satu hal lagi, kalau Purnomo jeli, aku juga. Iwan mempunyai tiga orang kakak, agaknya mustahil sebuah keluarga besar dengan rumah cukup sederhana, mungkin pendapatan mereka pas-pasan, mau menjadikan Iwan sebagai anak angkat.

”Wan, bapak bilang apa? Kamu itu berbakat jadi pedagang. Lalu, untuk apa kamu sekolah di pesantren?”
Ayah Iwan mulai bersuara, dari tadi ia sibuk mengangkat kulit yang sudah disamak. Ia kini duduk istirahat di atas bangku di pojok ruangan, bersender ke dinding, tangannya mengipas-ngipas tubuhnya yang berkeringat.
”Kalian sedang mujur!”

Iwan malah cengengesan. Agaknya suara kencang ayahnya dianggap angin lalu, masuk kiri keluar kanan, atau sebaliknya.
”Mujur?”
”Kalian ingin tau alasanku tinggal di asrama? Dengarkan saja ceramah bapa!”
”Kamu mau jadi ustadz? Nggak pantes!!! Nenek moyangmu tidak ada yang pernah jadi ustadz. Kakekmu, uyutmu, semuanya pengrajin kulit. Sampai kapanpun kamu tetap pengrajin kulit, tidak akan pernah jadi ustadz!!!”

Iwan santai saja memilih produk-produk kulit untuk dijualnya.
”Sebaiknya kamu keluar dari pesantren, Wan!! Konsentrasi bisnis saja. Kitab-kitab arab gundulmu itu tidak akan membuatmu kenyang. Pesantren tidak akan membantumu menjadi kaya. Angkat martabat keluargamu!! Zaman sekarang, yang dibutuhkan cuma duit, Wan. Ingat, duiit!!”

Iwan masih santai.
”Wan! Dengerin bapak nggak?!!”
”Ya pak.”
”Aku ini bapakmu, bukan bapak angkatmu. Kamu bukan anak pungut, Wan!! Ingat itu baik-baik!!”

Purnomo agaknya tersindir. Purnomo mau angkat bicara, tapi keburu kucegah. Ini masalah keluarga Iwan, Purnomo tidak boleh ikut campur.

Harus dimaklumi, orang marah tidak bisa mengontrol mulutnya. Lelaki yang sedang marah-marah itu bukan preman pasar. Aku khawatir Purnomo memperlakukan ayah temanku itu seperti preman pasar, hingga babak belur. Lagi pula, salah sendiri, ia lebih dulu membuka zona perang dengan pertanyaan tentang status Iwan tadi. Untung bukan aku.

Wanita berkulit sawo matang itu menghampiri kami sambil menyodorkan gelas air minum, lengkap dengan sepiring gorengan. Agaknya, saking sibuknya, wanita santun itu baru sempat menjamu kami.
”Jangan dimasukin hati ya. Biasaa, bapak lagi uring-uringan. Maklum nya jang, tagihannya sedang macet. Nanti juga reda sendiri.”

Ceramah terus berlanjut hingga membahas tentang pejabat koruptor yang tidak tahu adat, pelatih sepak bola yang tidak becus, proses penyamakan kulit yang membosankan, hingga masa kecil Iwan yang imut dan lucu. Kami hampir tidak mempunyai kesempatan untuk bicara. Telinga kami benar-benar menderita.

Akhirnya, barang dagangan yang akan dibawa Iwan sudah siap. Penderitaan telinga kami pun berakhir. Ceramah pun usai, tanpa ditutup kalimat tahmid dan salam. Bapak ngeloyor ke ruang tengah. Aku dan Purnomo menarik nafas, lega. Tidak lama lelaki kekar itu kembali lagi. Kami kembali menarik nafas, kaget. Telinga kami siap menderita lagi.

”Ini oleh-oleh buat kalian.”
Ayah Iwan itu berubah santun, ia menyodorkan dua buah dompet kulit berwarna coklat. Aku riang bukan main. kenikmatan yang tidak disangka-sangka. Pertama, mendapat oleh-oleh dompet kulit asli, bukan imitasi. Kedua, telingaku tidak jadi menderita. Jika Purnomo tadi terpancing emosi, mungkin ceritanya akan lain.
”Wan, kamu belajar yang bener ya! Jangan kayak bapakmu ini! Seumur hidup jadi pengrajin kulit.”
Aku dan Purnomo berpandangan.
”Bisa kalian bayangkan, ayah berceramah seperti itu setiap aku pulang.”

Keputusan yang tepat, akupun akan memilih tinggal di asrama seperti Iwan.

Berbicara tentang suatu kepantasan. Jika dipikir-pikir, benar juga ucapan lelaki berambut ikal yang dipanggil bapak oleh Iwan itu. Agaknya Iwan memang tidak pantas menjadi seorang ustadz. Pasalnya, baru naik podium saja, badannya sudah gemetar, mukanya pucat lalu memerah, suaranya berubah gagap. Satu hal lagi, aku baru tahu, up to date sekali, bersifat sangat rahasia, ternyata Iwan tidak berniat sedikitpun menjadi ustadz.

Maka, aku semakin kagum pada temanku yang berwajah innocent ini. Ia memang pebisnis sejati, pintar membaca peluang dan memanfaatkan kesempatan. Pulang kampung kali ini, ia membawa barang dagangan dua kali lipat dari biasanya. Iwan membawa dua kantong besar, sedangkan aku dan Purnomo membawa satu kantong besar. Cukup untuk berjualan selama sebulan.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *