7 Warna Pelangi #22

Kryptonite

oleh : Usep Saepullah

Hari sabtu, seminggu setelah Iedul Adha yang jatuh pada hari yang sama. Sabtu 21 Mei 1994. Tidak terasa libur yang cukup panjang sudah selesai. Santri-santri dari berbagai daerah mulai berdatangan sejak hari jum’at kemarin, bahkan santri yang berasal dari luar pulau Jawa sudah datang sejak Kamis. Pesantren kembali ramai seperti biasanya.
Rais? Jangan tanya dia kawan, dia pasti menambah masa liburannya. Kalau tidak datang hari minggu, mungkin hari senin dia baru datang. Aku sendiri tidak tahu, apa sebenarnya yang dilakukannya di Bandung sana.

Hari ini, kegiatan belajar mengajar berjalan monoton, pengaruh libur panjang masih tampak jelas di wajah para santri. Meskipun menurut teori, liburan akan membawa pengaruh positif pada peningkatan daya kerja otak, dan membuat badan sehat. Tapi, kenyataannya, libur membuat daya juang otak menurun, bahkan cenderung runtuh.

Jam-jam belajar yang membosankan akhirnya berlalu. Setelah shalat dhuhur aku kembali ke Negeri Atap Awan. Kulirik kamar terdekat dari tangga. Taufik sedang membereskan lemari pakaiannya, sedangkan Zaki sedang membenahi ranjang kayunya, bersiap untuk tidur siang. Begitu masuk kamarku, kudengar Iwan sedang bercerita tentang pengalamannya patroli di asrama puteri. Semangat sekali ia bercerita.
”Benar Sep, si Iwan ikut patroli?”
Aku mengangguk, membenarkan cerita Iwan.
”Yaa, kalau tau begitu. Aku juga mau tinggal di sini selama liburan.”
Irvan terlihat sangat kecewa.
”Sudahlah Van, tidak ada yang istimewa dengan asrama puteri.”
Iwan mau menyela, tapi kutahan. Ia tidak tahu, ceritanya akan membuat Irvan sedih. Sedikit simpul misteri tentang Irvan mulai terjawab. Aku yakin, yang membuatnya murung selama ini adalah perempuan. Salahnya, ia hanya mau berbagi kisah dengan buku kecilnya.

”Kamu pernah memperhatikan bangunan kelas di bagian barat, Van?”
Irvan mengangguk.
”Asrama puteri tidak jauh berbeda dengan bangunan itu, hanya saja terdiri dari petak-petak kamar kecil, dan di tengahnya ada taman kecil. Lebih indah taman di alun-alun daripada taman kecil itu.”
”Oo gitu ya Sep?”

Aku tidak berbohong pada Irvan atau pada siapapun. Karena yang membuat istimewa tempat itu adalah para penghuninya. Coba bayangkan jika penghuni tempat itu adalah kami, para santri putera. Tentu tempat itu akan menjadi tempat yang sangat biasa. Bahkan mungkin, dilirikpun tidak.

Kawan, bukan aku tidak bersyukur bisa patroli ke asrama puteri. Kuakui, aku beruntung sekali bisa masuk ke sana. Tapi kini, apapun yang ada di balik pintu hijau muda itu, sudah bukan misteri lagi bagiku. Sekarang, ada yang lebih membuatku penasaran. Purnomo. Aku lebih suka membicarakan sosok misterius temanku yang satu ini, daripada membicarakan asrama puteri lagi.

Kisah masa kecil Purnomo masih membuatku takjub, tapi sekaligus ragu. Harus ada orang yang memastikan ceritanya itu shahih. Walau bagaimanapun, perkelahian melawan pocong, genderowo dan makhluk halus lainnya bagiku masih asing, tidak masuk akal. Mungkin, karena aku tinggal di lingkungan yang tidak terlalu membesarkan hal-hal mistis. Tapi, jika dilihat dari karakter Purnomo yang tidak pernah berbohong, bicara apa adanya, tujuh puluh lima persen yakin, semua kisahnya itu benar adanya.
”Bener Sep, Dia memang jago berkelahi.”

Komentar Irvan ketika aku bercerita tentang Purnomo. ia sudah mulai melupakan kisah patroli kami. Iwan beranjak dari duduknya, lalu mengepak barang jualannya. Agaknya Iwan lebih tertarik membicarakan asrama puteri daripada membicarakan Purnomo. Maaf kawan, sebagai lelaki sejati, ini bukan masalah normal atau tidak normal. Aku masih normal.

Irvan lalu bercerita tentang perkelahian Purnomo melawan tiga preman pasar. Waktu itu, ia, Purnomo dan Rais sedang naik angkot, tujuan mereka pasar. Begitu tiba di pasar dan hendak turun dari mobil angkot, lima preman menghadang mereka. Dengan mata beler karena mabok, mulut bau alkohol, mereka meminta tarif turun dari angkot, tidak tanggung-tanggung lima ribu rupiah per orang. Tentu saja Purnomo tidak terima dengan tarif ilegal itu. Begitu juga Rais, ia paling tidak suka dengan ketidak adilan dan tindakan dzolim.

”Terus?”
Iwan menghentikan aktifitasnya. Ia berbalik, lalu kembali ke tempat duduknya semula. Sorot kedua matanya berubah, di balik matanya yang sipit, ada marah di sana, ada dendam yang membara. Aku tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi dengan Iwan.

Cerita berlanjut.
Purnomo turun, ia tidak mau mengeluarkan uang, ia biarkan saku baju dan celananya digerayangi para preman. Begitu juga Rais. Tidak lama, hanya hitungan detik, dua orang tumbang kesakitan, satu preman memegang ulu hatinya, satu lagi memegang, maaf, alat vitalnya.

Raisul Balad tidak mau ketinggalan, meskipun badanya kecil dengan bobot 45 kg tinggi 155 cm, nyalinya tidak bisa diragukan lagi. Ia melompat ke preman paling besar, kira-kira tingginya 170 cm dan bobotnya lebih dari 1 kwintal. Mungkin bosnya. Wajah preman itu diacak-acak dengan kukunya hingga merah-merah, beberapa bagian bahkan sampai berdarah-darah.
“Katanya jurus kunyuk ngacak sesajen.”

Finishing terakhir dilakukan Purnomo, bonus spesial untuk sang bos. Ulu hati dan, sekali lagi maaf, alat vital. Badan berotot penuh tato itu tumbang, pingsan.

Aku tertawa lepas. Iwan juga, ada rasa puas di balik tawanya. Kata Irvan selanjutnya, ada percakapan rahasia di antara mereka dengan dua preman yang belum pingsan.
”Percakapan Rahasia?”
”Ya, aku hanya melihat Purnomo menunjuk-nunjuk muka preman itu.”
Percakapan rahasia. Itu pasti sebuah ancaman. Ancaman seperti apa, aku tidak tahu. Itu rahasia mereka.
”Dulu, sudah lama sekali, aku pernah melihat Purnomo berkelahi sendirian.”

Irvan bercerita lagi. Iwan mulai mengepak barangnya lagi. Mungkin, kisah tentang tiga preman itu yang membuat Iwan tertarik bergabung dalam obrolan kami. Bukan kisah kehebatan Purnomo.
”Maksudmu?”
”Tadinya kukira dia sedang latihan. Aku yakin dia sedang berkelahi dengan sesuatu yang tidak kita lihat.”

Aku jadi teringat cerita Purnomo, ia pernah berkelahi dengan dua jin yang menjadi pelayannya. Mungkin, perkelahian dengan dua jin itu sempat dilihat Irvan. Aku dibuat terkagum-kagum dengan kisah hidup Purnomo. Hingga aku mencapai pada satu kesimpulan. Purnomo tidak takut pada apapun.

”Setiap manusia itu punya kelemahan!”
Taufik Husein sudah muncul di pintu, tangannya memegang kotak makanan. Biasanya kedatangannya tidak kami harapkan, selalu saja ada yang menjadi korban keisengannya. Tapi kali ini lain, kami sangat senang dia datang, karena tangannya memegang kardus kecil makanan oleh-oleh dari Bandung. Taufik langsung duduk bergabung dengan kami, dan menyodorkan kardus itu. Iwan kembali bergabung.

”Maksudmu?”
Tanya Iwan sambil mengambil satu kue dari dalam kardus kecil.
”Mungkin si Pur tidak pernah takut melawan apapun. Tapi, dia tetap manusia yang memiliki kelemahan.”
Betul apa yang dikatakan Taufik. Tidak ada manusia yang sempurna. Pasti Purnomo memiliki kelemahan, sesuatu yang membuatnya lari ketakutan. Manusia super macam Superman saja memiliki kelemahan. Kryptonite.

“Apa kelemahannya?” Tanyaku. Pembicaraan ini menjadi lebih menarik. Aku semakin penasaran untuk mengetahui jenis kryptonite untuk Purnomo.
“Pasti perempuan!”
“Itu mah ente, Van.”
Irvan langsung tersenyum rapuh, wajahnya memerah, lalu tertunduk malu. Satu simpul lagi terbuka. Aku semakin yakin perempuan lah yang membuat Irvan lebih banyak menyendiri, mengadukan semua masalahnya pada sebuah buku kecil.
”Bapaknya!”
”Bukan!”
”Ustadz Entang!”
”Bukan!”
”Ustadz Dzul!”
”Bukan!”
”Kucing!”
”Bukan!”
”………!”
”Bukan!”
”………!”
”Bukan!”
Tebak-tebakan berakhir.
“Terus apa kelemahan Purnomo?” Tanyaku semakin penasaran.
“Mau tau?”
Kami berpandangan, lalu mengangguk bersamaan. Kami benar-benar ingin tahu apa yang membuat Purnomo takut.
“Nanti malam akan kubuktikan”
”Yaaa…!”

* * *

Malam yang kami tunggu pun datang. Ba’da isya kami sudah berkumpul di dalam kamar, menunggu Taufik Husein membawa kryptonite buat Purnomo.

Purnomo sengaja kami tahan hingga Taufik Husein datang. Caranya sederhana, kami setengah memohon pada Purnomo agar menceritakan tentang perkelahiannya dengan preman pasar. Mengalirlah cerita pertarungan itu langsung dari mulut sang pelaku kejadian. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang membuatku penasaran, karena tadi siang Irvan sudah menceritakan kejadian itu semuanya. Kami pura-pura takjub, yang kami harapkan sekarang hanyalah Taufik Husein segera datang. Itu saja.

Taufik Husein belum datang juga. Kisah perkelahian hampir khatam. Agar Purnomo tidak beranjak pergi, aku harus mencari cara untuk mengulur waktu. Aku jadi teringat satu hal yang tadi siang belum sempat kutanyakan pada Irvan. Posisi Irvan ketika sedang terjadi perkelahian.

”Aku di dalam angkot, jadi pengamat.”
Jawab Irvan enteng. Karena jawabannya itu, ia didaulat menjadi Pembicara, sebagai orang yang mengaku pengamat, ia harus mengomentari kejadian perkelahian itu. Dengan tujuan yang sama sepertiku, mengulur waktu.

Beberapa menit penantian terasa sangat panjang, aku sudah kehilangan ide untuk menahan Purnomo agar tidak beranjak dari tempatnya.

Akhirnya santri paling jail sedunia itu nonggol di depan pintu, memegang kotak makanan yang tadi diberikan pada kami. Kali ini kotak itu diikat pakai karet gelang. Tentu saja, aku yakin isinya berbeda. Taufik langsung menaruh kotak itu di depan Purnomo.

Jantungku berdegup kencang, satu misteri lagi akan terungkap, rasa penasaran akan terpuaskan. Mungkin, misteri dan rasa penasaran yang kurasakan sekarang, sama persis dengan misteri dan rasa penasaran ketika aku ingin mengetahui isi di balik pintu warna hijau itu.

“Snack nih?”
Tanya Purnomo, tangannya cekatan melepaskan karet gelang dari kotak.
Husen mengangguk, mulutnya tersenyum culas. Kalau Purnomo melihat, ia sudah pasti tahu kalau dirinya sedang dijaili. Sayangnya pandangannya tertuju pada kotak berisi kryptonite itu.

Sementara Purnomo membuka kotak, Husen mengambil ancang-ancang lari di mulut pintu. Kami mendongakkan kepala ke arah kotak, penasaran. Tapi, kami tetap menjaga jarak, takut. Bisa saja sesuatu di dalam kotak itu, adalah sesuatu yang kami takuti juga. Bisa saja isinya ular, karena hewan itu tidak termasuk yang kami sebutkan dalam tebak-tebakan tadi siang. Kalau singa, tidak mungkin masuk kotak.

”Waaaa!!!!”
Purnomo menjerit, aku juga, Iwan juga, Irvan juga. Purnomo melemparkan kotak itu ke udara. Kami pun terjengkang ke belakang. Reaksi yang tidak pernah kuduga, Purnomo akan berteriak ketakutan seperti itu. Taufik Husein sudah hilang dari pandangan kami.
“Huseeeeeeeen!! Awas kamu!!!”

Purnomo mengepalkan tangannya. Ia berdiri, lalu mengejar Husen yang sudah pergi entah ke mana, hanya tawanya terdengar membahana. Kami tidak peduli mereka mau kejar-kejaran sampai Bandung sekalipun. Yang aku kupedulikan hanyalah kotak itu. Tentu saja isinya.

Kotak itu mendarat tepat di atas bahuku, lalu menggelinding jatuh ke tengah-tengah kami. Kami melongokkan kepala ke kotak yang sudah sedikit terbuka itu. Tetap jaga jarak, takut. Dengan pulpen, Iwan mendongkel tutup kotak hingga terbuka lebar. Seekor binatang berwarna coklat yang tidak asing lagi bagi kami, merayap keluar kotak itu, menyelinap di antara karpet, lalu menghilang ke balik lemari pakaian.

Kami berpandangan, mengerutkan dahi, tawa kami hampir meledak. Tapi Purnomo keburu berdiri di mulut pintu. Mukanya memerah, entah malu atau marah, aku tidak bisa membedakannya.

Kami berusaha menahan tawa, tapi sungguh, kami tidak bisa. Akhirnya kami tertawa lepas diiringi jitakan ringan di kepala kami satu per satu. Ternyata kryptonite itu hanya seekor kecoa.

* * *

Tadinya, yang menjadi misteri bagi kami adalah sesuatu yang membuat Purnomo ketakutan. Tapi, setelah jawabannya terkuak, kecoa, misteri itu kini berlanjut. Alasan Purnomo takut kecoa. Kami sepakat, itu menjadi rahasia kami bertiga. Jika ada kesempatan, secara diam-diam, tentunya tanpa Purnomo, kami membahas kryptonite jenis baru ini.
”Pasti kecoa itu jelmaan dari ratusan jin.”
Komentar Iwan suatu saat.
”Mungkin Purnomo pernah mengadakan perjanjian tidak tertulis dengan kecoa”
”Bisa jadi ia pernah iseng membunuh kecoa, terus dia merasa bersalah.”
”Barangkali…..”
Case closed!

Biarkan Purnomo vs kecoa tetap menjadi misteri. Hanya Purnomo dan kecoa lah yang tahu alasannya. Hanya saja aku berharap, suatu saat Purnomo mau menceritakan alasannya pada kami.

Kami tidak berani membahas kasus itu di depan Purnomo. Karena setelah kejadian itu, Purnomo marah besar, peristiwa ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Taufik Husein didiamkan hampir tiga hari, hampir mendekati batas akhir seorang muslim boleh memendam amarah. Tiga hari.

Dirayu dengan kata-kata puitis, Purnomo bukan tipe lelaki romantis, apalagi yang merayu Taufik Husein, mungkin akan lain ceritanya kalau santri wanita yang merayunya. Disogok dengan satu kotak makanan, tidak membuatnya luluh, ia tidak pernah kehabisan makanan. Hibah satu set kitab Tafsir Ibnu Katsir, tidak membuatnya bertobat. Taufik Husein tidak kehilangan akal, sebagaimana dia selalu punya ide-ide jail, dia juga selalu punya ide untuk menyelesaikan setiap masalah karena keisengannya.

“Pur, bagaimana kalau Naga Puspa mu kita sandingkan dengan samurai?”
Purnomo tersenyum.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *