7 Warna Pelangi #23

Belajar dari Jet Lee

oleh : Usep Saepullah

Umumnya para kutu buku. Setiap melihat huruf, bawaannya selalu ingin mengeja, setiap melihat buku maunya ingin membuka, setiap melihat koran atau majalah nalurinya ingin membaca. Dengan catatan, hurufnya masih bisa terbaca, serta bahasanya masih bisa dimengerti. Hal itu terjadi juga padaku.

Siang ini, menjelang sore, aku melihat koran tergeletak di bangku depan kamar Taufik. Aku yakin Taufik lah yang meletakkan koran itu di sana, dialah pria tak bertanggung jawab yang menelantarkan sumber informasi itu. Koran milik pesantren, karena santri yang berani mengambil koran dari kantor pesantren salah satunya dia.

Koran itu tergeletak sangat menggoda. Kuhampiri dia. Tak lupa, kutengok ke dalam kamar melalui pintu yang sedikit terbuka. Taufik dan Rais tidak ada di sana, yang ada hanyalah Zaki, seperti biasa, sedang tertidur pulas. Sebentar lagi, pas adzan ashar dia akan terbangun.

Seperti yang biasa kulakukan, jika membaca buku, aku membaca daftar isinya dulu, sedangkan jika membaca koran, kubaca judulnya dulu. Lembar demi lembar kubuka koran itu, hingga akhirnya aku terpaku pada lembar ke tujuh, kolom paling kanan. Tanganku enggan melanjutkan membuka halaman berikutnya. Judulnya sangat menggoda.
”Jadwal Acara TV”

Maklum, sejak masuk pesantren, dan sejak terperangkap bintang kelas, aku hampir tidak memiliki waktu untuk nonton TV.

Kueja satu per satu jadwal itu dengan seksama. Hingga aku mencapai pada jadwal film yang dimulai tepat jam delapan malam.
Layar Emas : Kungfu Master

Kuhirup napas dalam-dalam lalu kuhempaskan.
Judul asli film ini Once Upon a Time in China, tapi karena mungkin judulnya kepanjangan, atau kurang komersil, film ini akhirnya judulnya disederhanakan agar mudah diingat dan tentunya menjadi lebih komersil. Kungfu Master.

Pikiranku melayang pada saat aku masih Tsanawiyyah. Setiap pulang dari pesantren, angkot yang kutumpangi selalu melewati satu poster besar di pinggir jalan, dengan tulisan besar HARI INI. Lalu dibawahnya ada gambar film.

Salah satu yang membuatku tertarik untuk menonton film ini, bercerita tentang Wong Fei Hung. Menurut informasi yang belum jelas, tokoh ini termasuk dari kalangan muslim China.

Sejak masuk pesantren, aku tidak berani lagi nonton film di bioskop, jangankan nonton, berjalan di depan bioskop pun aku tidak berani. Jika terpaksa harus lewat bioskop, aku akan berjalan cepat-cepat, atau aku akan berjalan di seberang bioskop. Tapi, diam-diam mataku melirik pada setiap poster film yang ada di sana.

Kini film itu akan diputar TV. Itu artinya film itu sudah melalui badan sensor, semua adegan tidak senonoh sudah dipangkas habis, itu artinya semua orang normal, termasuk aku, salah seorang santri yang normal, diperbolehkan menonton film itu. Tapi sayang, aku tinggal di asrama, jauh dari rumah. Aku cuma berharap, suatu saat nanti film ini akan ditayangkan ulang. Kalau perlu, aku akan mengusulkan tayangan ulang film ini lewat surat. Tapi nanti setelah aku selesai sekolah.

”Koran baru?”
Tanya Purnomo dari pintu kamar. Aku mengangguk. Ia langsung mendekatiku, lalu duduk di sebelahku. Matanya langsung tertuju pada koran yang masih kubentangkan.
Sama sepertiku, matanya langsung tertuju pada jadwal film yang akan tayang hari ini.
”Kungfu Master. Film bagus nih Sep.”

Aku hanya tersenyum rapuh. Aku tahu ini film bagus, tapi kalau tidak bisa nonton percuma saja.
”Nonton yuk!”
”Nonton di mana?”
”Ya di TV lah”
”Maksudku di TV siapa?”
Aku percaya, Purnomo bisa melakukan apapun yang tidak bisa kulakukan. Termasuk salah satunya nonton TV, sedangkan di asrama tidak ada dan tidak diperboleh memiliki TV. Menurut pantauannya, hanya ada dua TV di lingkungan pesantren, satu di ruang ustadz.
”Kita tidak mungkin nonton di sana”
TV itu khusus ustadz, tontonannya pun tersaring oleh ustadz, pasti selera kami berbeda dengan ustadz, mana mungkin mereka mau nonton film.

”Satu lagi di asrama puteri”
Aku antusias. Tapi, dengan alasan apapun tidak mungkin bisa nonton di sana. TV di asrama puteri hanya diputar pada waktu hari libur saja.

Pada saat-saat seperti ini, aku mengharapkan dimutasi ke gedung C, di luar komplek pesantren. Kalau tinggal di sana pasti bisa bebas nonton TV. Tapi, jika aku di sana, aku akan rindu dengan pintu hijau muda itu dengan semua penghuninya.
”Kita nonton di rumah Nurdin saja.”
Nurdin teman sekelas kami, rumahnya berada tidak jauh dari pesantren.

”Tapi Pur, jadwal film jam delapan sampai jam sepuluh malam. Sedangkan pintu gerbang pesantren ditutup jam sembilan, bagaimana nanti kita pulang.”
”Udah lah gampang.”
”Kamu punya kunci gerbang cadangan?”
”Bisa diatur.”

* * *

Jika santri memilih untuk tinggal di asrama, maka ia harus mengikuti peraturan yang ditetapkan pesantren. Tapi jika memilih kost atau kontrak, santri hanya diharuskan mengikuti peraturan selama jam pelajaran berlangsung saja.

Selepas shalat Isya, kira-kira jam setengah delapan, kami pergi ke luar area pesantren. Tidak akan ada yang curiga kami akan pergi ke mana. Karena tidak ada seorang ustadz pun yang mengontrol kepergian kami. Kami diperbolehkan punya kegiatan apapun di luar pesantren. Asal pulang kembali sebelum pintu gerbang ditutup. Jam sembilan malam.

Senang hati Nurdin menerima kedatangan kami, ternyata bukan cuma aku yang menyukai film ini, ternyata Nurdin juga. Jika nonton ramai-ramai akan seru.

Acara nonton bareng di rumah Nurdin selesai. Tidak seperti yang tertulis di koran. Selesai jam sepuluh malam, kenyataannya selesai film jam setengah sebelas malam.
“Pur, gimana nih?”
“Sudah menginap saja di sini.” Usul Nurdin.

Jika kami menginap di rumah Nurdin, besok pagi, sesudah shubuh akan data kajian rutin kitab tafsir Jalalain. Jika kami tidak ada di tempat kajian, maka kami akan ketahuan kami tidak ada di pesantren.

Akhirnya kami memutuskan tidak menginap. Sepanjang jalan kami membahas film yang diperankan Jet Lee itu. Jurusnya, ilmu meringankan tubuhnya, dia memang hebat.

Begitu kami masuk di jalan selebar truk itu, dari sana kami sudah bisa melihat pintu gerbang sudah tertutup. Kami berjalan menuju pintu gerbang, lampu di kanan kiri jalan tidak begitu terang. Pada beberapa bagian terlihat gelap.
“Ustadz Dzul lewat!”

Lenganku ditarik Purnomo hingga merapat ke dinding gelap. Perasaanku mulai tidak enak. Kulihat ustadz Dzul melintas di depan kelas, menuju ke ruang guru yang berdekatan dengan asrama putera gedung B.
Setelah ustadz Dzul tidak kelihatan, kami berjalan perlahan menuju pintu gerbang. Rantai berukuran cukup besar sudah membelit dua ujung gerbang besi itu. Ketika kutanyakan kuncinya pada Purnomo.
”Aku tidak bawa kunci.”
”Hah, bukannya tadi bilang kunci ada?”
”Aku bilang gampang saja.”

Purnomo tidak banyak bicara lagi, ia tidak mau banyak berdebat. ia menaiki pintu gerbang yang tingginya mencapai empat meter itu, lalu turun di seberang sana. Sangat mudah. Aku masih tertinggal di balik gerbang.

”Ayo Sep cepetan, nanti ustadz Dzul keburu lewat lagi!”
Ragu. Tapi akhirnya aku pun nekad naik pintu gerbang itu. Kali ini aku langsung mempraktekkan ilmu yang diajarkan Jet Lee.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *