7 Warna Pelangi #24

Pencurian Jaket

oleh : Usep Saepullah

Kami pura-pura memeriksa gembok pintu gerbang ketika kulihat seorang santri lewat menuju masjid. Tindakan kami tidak mencurigakan, karena Purnomo memang sudah terbiasa melakukan patroli. Semoga malam itu kami disangka sedang patroli dan sedang mengecek pintu gerbang.

Kami berjalan sangat santai, seolah tidak terjadi apa-apa, obrolan kami yang ketika di luar gerbang masih tentang kehebatan Jet Lee, seketika berubah menjadi obrolan tentang pelajaran. Aku cukup belajar banyak tentang teknik berkamuflase dari Purnomo. Jantungku tetap berdetak kencang, khawatir ada yang tahu aktifitas kami tadi.

Purnomo masih di lantai bawah ketika aku sampai di depan kamar kami, kulihat pintu kamar sedikit terbuka. Aku mengira Iwan atau irvan masih belum tidur. Tapi begitu aku masuk kamar, ternyata mereka sudah tertidur pulas. Tidak seperti biasanya mereka tertidur pulas dengan pintu kamar terbuka.

* * *

Besoknya, setelah makan siang.
Ketika aku masuk kamar, kulihat wajah Iwan pucat. Ia duduk di ranjang kayu. Matanya menerawang seperti mengingat-ingat sesuatu. Lemarinya terbuka lebar, ransel yang biasa digunakan untuk jualan itu tergeletak begitu saja di sampingnya, isinya berserakan di lantai. Pada jam setengah dua ini biasanya ia sudah berangkat berjualan. Awalnya kupikir Iwan salah minum obat, hingga akhirnya ia angkat bicara.
”Sep, jaket hilang.”

Aku terkejut bercampur heran. Aku menghampirinya.
”Masa hilang? Itu jaketmu.”
Aku menunjuk jaket jualannya yang berserakan di lantai.
”Bukan, maksudku tiga potong jaketku hilang.”
”Mungkin kamu lupa ngitung, Wan.”
”Tidak. Aku yakin ada yang hilang. Semua tercatat di sini.”

Iwan memperlihatkan bukunya. Maka kawan, jika Iwan sudah menunjukkan buku catatannya itu, aku yakin ucapannya pasti benar. Dalam pencatatan bisnis, ia memang handal. Tidak ada yang luput satupun dari catatannya.
”Sudah coba diperiksa ulang?”
”Belum.”

Kami pun memeriksa semua bagian kamar kami yang munggil itu. Tidak lama, Irvan datang. Kusampaikan musibah yang menimpa Iwan itu. Irvan pun akhirnya ikut bergabung mencari jaket. Kami memeriksa setiap jengkal bagian kamar, termasuk lemari kami. Tidak terkecuali tempat-tempat yang tidak mungkin benda itu ada di sana, di bawah keset dan tempat sepatu.
”Aku yakin, ini kelakuan si duo jail itu!”
Umpat Iwan di sela-sela pencariannya. Aku sebenarnya setuju dengan pendapat Iwan itu. Terkadang kelakuan kedua orang itu kadang tidak berprikemanusiaan.
”Jangan buruk sangka begitu Wan, belum tentu mereka.”
Irvan tidak setuju.
”Lalu siapa?”

Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Kami pun hanyut dalam pikiran masing-masing sambil terus mencari keberadaan tiga jaket itu. Tiga benda yang sangat berharga bagi Iwan itu benar-benar raib.

Aku ingat, semalam pintu kamar agak terbuka. Mungkin waktu itu seseorang masuk mengambil tiga potong jaket milik Iwan. Ingin kusampaikan kejadian itu, tapi urung. Jika kulakukan, maka pertanyaan berikutnya malah akan mengarah padaku. Apa yang aku lakukan malam itu. Meskipun aku tidak mungkin jadi tertuduh dalam kasus hilangnya jaket Iwan. Setidaknya aksi nekadku dan Purnomo memanjat pintu gerbang itu akan ketahuan. Karena itu kutahan informasi itu.

”Ada apa ini?”
Purnomo datang, baru saja di depan pintu, ia tersentak melihat kamar berantakan. Tapi menurutku reaksinya terlalu berlebihan. Reaksi kaget Purnomo bukan seperti itu. Jika kaget, ia tidak bersuara, apalagi bertanya. Biasanya ia akan melihat sekeliling dengan seksama, setelah yakin ada yang tidak beres, baru ia bertanya. Aku tidak peduli dengan reaksi tidak alami itu. Mau salto pun terserah dia. Itu hak Purnomo.

Serempak kami melihat Purnomo. Lalu kami berpandangan. Agaknya pikiran kami sama, pasti ini kelakuan mantan khadam Purnomo. Dua jin dari masa lalunya yang selalu disuruh mencuri itu. Pasti isengnya sedang kumat.

Purnomo yang kami lihat seperti itu menjadi risih. Ia pun bertanya untuk kedua kalinya. Seperti biasa, di antara bertiga, aku yang paling pintar bercerita. Iwan selalu ribet dengan urusan huruf ’R’, sedangkan Irvan lebih suka bercerita dalam buku diarynya. Aku yakin, kasus hilangnya jaket ini, akan masuk diarynya.
”Tiga potong jaket milik Iwan, hilang.”
Cukup seperti aku bercerita.
Lalu ketika kutanya kabar tentang dua khadam itu, Purnomo langsung tahu arah pembicaraanku. Menuduh mantan dua khadam nya itu sebagai pelakunya.

”Sembarang kalau nuduh!”
Beberapa menit kemudian pencarian dihentikan. Setiap sudut, bahkan setiap jengkal bagian kamar sudah kami periksa. Tiga potong jaket Iwan benar-benar raib tidak berbekas. Kami pun duduk di ranjang kayu.

”Apa kamar sebelah perlu kita periksa?”
Pertanyaanku itu sebenarnya untuk Purnomo, karena ia santri yang paling cocok untuk melakukan itu. Jika ia yang bertindak, tidak ada yang berani menghalanginya selain kecoa.
”Tidak perlu.”
”Kenapa?”
Iwan tidak puas dengan jawaban Purnomo.
”Harus ada alasan yang tepat untuk memeriksa kamar sebelah. Aku khawatir malah akan menyinggung perasaan mereka. Karena pencurian itu masalah serius.”

Alasan yang masuk akal. Jika kami tiba-tiba memeriksa, secara tidak langsung, lima puluh persen kami telah menuduh salah seorang penghuni kamar sebelah sebagai pelakunya. Mungkin, jika mereka mempersilahkan diri untuk diperiksa, itu beda lagi.

Otak kami terus berputar mencari solusi untuk kasus hilangnya jaket milik Iwan ini. Kami belum berani menyebutnya kasus pencurian. Karena belum tentu dicuri. Bisa saja Iwan melindur, tidur sambil jalan, membawa tiga potong jaketnya, lalu ia lempar ke balik tembok sebelah timur itu. Jaket itu akan langsung hilang terbawa arus sungai yang deras.
”Lalu bagaimana?”
”Bagaimana kalau kita laporkan ke ustadz Dzul.”
Usul Irvan.
”Jangan! Aku khawatir ustadz Dzul malah melarang Iwan menyimpan barang dagangannya di asrama.”
”Betul, jangan Van. Aku malah tidak enak sama ustadz Dzul.”

Kami terdiam kembali, terus mencari solusi untuk kasus ini.
Aku mencium bau konspirasi dalam kasus ini. Purnomo agaknya terlibat dalam kasus ini, reaksi yang tidak alami itu membuktikan ia sudah tahu jika jaket Iwan hilang. Lalu, ia berusaha agar kami tidak mencari di kamar sebelah. Alasan Purnomo bagiku tidak begitu kuat.

Bisa saja bicara baik-baik untuk memeriksa kamar itu. Selanjutnya, ia berusaha agar kasus ini tidak bocor ke luar, apalagi sampai ke ustadz Dzul. Jika ustadz Dzul tahu, bukan cuma kamar sebelah yang diperiksa, tapi seluruh sudut asrama gedung A akan diperiksa.
Kutepis prasangka itu. Kuyakinkan Purnomo tidak terlibat dalam kasus ini.

* * *

Malam harinya, kami membicarakan lagi kasus hilangnya jaket itu. Kali ini penghuni kamar sebelah ikut berkumpul. Agaknya Purnomo sudah menyampaikan musibah yang menimpa Iwan itu pada mereka.
Taufik, anak orang kaya yang suka usil itu, kali ini bertindak bak malaikat penolong, ia menawarkan ganti rugi, tapi Iwan menolak.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *