7 Warna Pelangi #25

Teguran Pahit

oleh : Usep Saepullah

Seingatku, aku tidak pernah dipanggil satu kalipun ke ruang guru. Tapi hari ini aku dipanggil ustadz Dzul Qarnain untuk ke sana. Sebenarnya aku sering melihat beberapa santri dipanggil ke ruang guru, biasanya mereka hanya diminta tolong untuk mengerjakan sesuatu.

Meskipun aku sudah berusaha berbaik sangka, tapi tetap tidak bisa dipungkiri, jantungku terasa berdegup kencang. Aksiku bersama Purnomo ketika memanjat pintu gerbang itulah penyebabnya. Selama hampir lima tahun menjadi santri, baru pertama itu aku melakukan pelanggaran fatal.

Di ruang guru, ustadz Dzul Qarnain sudah menunggu. Aku menunduk ketika perasaanku mulai tidak enak. Aku berharap pemanggilanku ini untuk membicarakan tentang kasus pencurian jaket milik Iwan. Bukan tentang pelanggaranku.

”Tau tidak alasan ana menempatkan antum di lantai atas?”
Tanya ustadz Dzul setelah berbasa-basi menanyakan kabarku. Agaknya pemanggilanku tidak ada hubungannya dengan kasus pencurian yang telah sepakat kami rahasiakan.
“Karena kami satu kelas ustadz?”
“Betul. Tapi bukan karena itu. Beberapa teman sekelas antum ada yang ditempatkan di gedung B, bahkan ada yang di gedung C”

Ustadz Dzul Qarnain betul, empat orang temanku berada di gedung B, dan 3 teman sekelasku berada di gedung C. Sistem acak penempatan santri yang tidak pernah kupikirkan. Aku baru sadar, aku ditempatkan di lingkungan santri yang semuanya memiliki karakter yang unik. Aku menikmati ini, keingin tahuanku selalu muncul.
“Ana berharap antum memberikan pengaruh baik kepada mereka”

Sejujurnya, awalnya aku belum tahu arah pertanyaan itu akan ke mana. Aku yakin, ujung-ujungnya akan membahas tentang panjat gerbang itu.
”Memang mereka itu kenapa ustadz?”
Aku sendiri bingung dengan pertanyaanku itu, apakah aku pura-pura tidak tahu dengan karakter teman-temanku, atau aku sudah menganggap sikap mereka itu wajar-wajar saja. Jika anggapanku seperti itu, berarti aku sudah menjadi bagian dari mereka. Aku baru tersadar.

Ustadz Dzul Qornain menghela nafas, lalu,
”Kita mulai dari ruangan dekat tangga.”
Aku menggeser duduk sedikit mendekati ustadz Dzul Qarnain, keingintahuanku tentang masalah teman-temanku muncul.

”Husein. Boleh saja jika ingin menjadi pemain sepak bola. Tapi jangan sampai mengorbankan jam belajar untuk berlatih sepak bola. Antum tau ke mana perginya Husein setiap hari minggu?
Aku menggeleng. Pura-pura tidak tahu.
”Hampir setiap hari minggu dia berlatih sepak bola, dia selalu masuk kelas setengah hari, bahkan terkadang bolos kalau sedang ada pertandingan. Tapi yang sangat mengkhawatirkan, sifat isengnya”
Untuk kalimat yang terakhir ini, aku sangat setuju.

“Lalu, Zaki, sebenarnya dia anak pintar, tapi kebiasaan tidurnya dan cueknya terhadap pelajaran sangat mengkhawatirkan, saya pindahkan ke atas karena khawatir yang lain terpengaruh sama kebiasaannya”
Kuakui Zaki cerdas, aku sempat mengira ia cerdas karena porsi tidurnya yang berlebihan, bahkan tadinya aku akan mengikuti jejaknya.

“Raisul Balad, mungkin antum tidak akan pernah menemukan santri seperti dia di Tasikmalaya, pesantrenmu dulu”
Aku mengangguk, santri yang satu ini memang kebangetan untuk urusan bolos.

“Dia sekolah seenaknya. Kalo libur panjang, selalu nambah seminggu. Sakit sedikit, pulang ke Bandung. Setidaknya untuk seminggu dia izin sakit. Padahal hanya sakit flu biasa. Ketika dijenguk, ia malah sedang main layangan di atas genteng.”
Aku baru dengar cerita yang satu ini. Memang kebangetan santri yang satu ini.

”Sekarang berlanjut ke teman sekamarmu.”
“Purnomo, dia sibuk terus berlatih beladiri, pagi, siang, malam. Pelajaran tertinggal, meskipun tidak sampai ada yang merah.”

“Iwan, sibuk jualan. Setiap pulang sekolah ia langsung pergi jualan, entah ke mana, ana tidak tahu, yang pernah kudengar ia berjualan ke pasar, terminal dan tempat-tempat lain yang ramai. Ana harus gimana ya menghadapi anak ini? Mau melarang nggak tega. Karena untuk bisa sekolah di sini dia mengandalkan hasil jualan itu. Ayahnya tidak mau membiayainya jika dia masuk pesantren.”

“Irvan,”
”Nih anak, saya tidak mengerti, kenapa dia seperti itu. Selalu diam, melamun. Menurut kabar, itu terjadi karena dia punya masalah dengan wanita. Wanita yang disukainya dijodohkan dengan orang lain”
Semua simpul misteri tentang Irvan itu sudah terbuka. Aku semakin yakin dengan perkiraanku waktu itu.

“Sekarang antum tau alasan ditempatkan di sana?”
Aku menggeleng, pura-pura belum paham maksud ustadz Dzul menceritakan latar belakang teman-temanku. Meskipun di awal yakin, tapi aku masih berharap ustadz Dzul tidak mengetahui tentang pelanggaranku itu.
“Warnai mereka, bukan sebaliknya, antum diwarnai oleh mereka.”
“Maksud ustadz?”
”Ana berharap kejadian nonton TV hingga larut malam, manjat pintu gerbang tidak terulang lagi.”

Aku menunduk malu. Betul dugaanku. Akhirnya kasus panjat gerbang itu diungkap. Aku siap menerima sanksi sepahit apapun.
“Kejadian itu, bukti bahwa antum sudah mulai terwarnai oleh Purnomo. Ana khawatir yang lainpun akan segera mewarnaimu,”
Aku semakin menunduk. Malu.
”Antum paham?”
Aku mengangguk. Tidak ada sanksi apapun apalagi hukuman. Aku dibiarkan menentukan jalan hidupku sendiri.
“Bukankah ujian semester sebentar lagi?“

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *