7 Warna Pelangi #26

Ujian Semester

oleh : Usep Saepullah

Teguran ustadz Dzul Qarnain menghentakkan kesadaranku. Aku merasa seperti terlempar dari alam mimpi ke alam nyata. Purnomo, Iwan, dan semua temanku di Negeri Atap Awan bagaikan tokoh-tokoh imajinasi yang ada dalam khayal saja. Aku terhipnotis, aku merasa tersihir, tapi aku merasa bahagia sekali hidup di alam mereka. Aku harus segera bangun dari mimpi indah itu. Aku harus menyusun ulang rencana masa depanku, aku harus kembali serius belajar, agar aku menjadi orang sukses di kemudian hari, aku harus menjadi bintang kelas.

Jamu pahit pencerdas dari ayah itu yang pertama kali kuingat. Aku tidak bisa membayangkan kekecewaan ayah ketika tahu aku belajar tidak serius. Ayah pasti berpikir khasiat jamu pahit pencerdas itu akan terbuang sia-sia. Lalu, kumis baplang Saddam yang melintas di benakku. Lelaki menyebalkan ini tentu akan tertawa terbahak-bahak – bukan lagi tersenyum – ketika tahu nilaiku jatuh di pesantren ini.

Selanjutnya, pemilik hak veto itu, di manakah engkau berada?
“Sep, kamu sakit?”
Sebuah tepukan di pundak mengagetkanku.
”Aku tidak apa-apa.”

Enak saja Zaki mengira aku sakit, padahal yang sakit itu dia, penyakit tidurnya sudah akut, ia harus dibawa ke dokter, begitu juga seluruh penghuni Negeri Atap Awan ini yang masing-masing memiliki penyakit aneh ini. Kalaupun aku sakit, justeru aku sakit karena tingkah laku mereka.

”Sebentar lagi ujian semester, Zak.”
”Betul, Lalu?”
”Ya, belajar yang serius lah.”
Zaki tersenyum. Ia melihat ke barat, ke puncak kubah masjid yang membelah cakrawala itu.
”Jika belajar membuatmu stress, lalu, untuk apa kamu belajar?”
Aku menoleh ke wajah Zaki mencari makna dari ucapannya itu. Tapi ia terlanjur berdiri lalu pergi meninggalkanku begitu saja.

* * *

Ucapan Zaki waktu itu sudah kulupakan begitu saja, aku tidak tahu maknanya, dan tidak pernah ingin tahu, karena aku harus mengejar ketinggalanku.

Siang hari sehabis jam pelajaran, kuhabiskan waktu untuk membaca ulang pelajaran di kelas, padahal sebelumnya, waktu itu adalah saat yang menyenangkan ketika aku bisa membaca berbagai macam buku bacaan, koran, atau majalah. Malam hari ba’da isya pun sama, kuhabiskan waktu untuk mengulang dan menghafal pelajaran. Padahal sebelumnya, waktu itu saatnya aku tertawa riang dalam sebuah diskusi-diskusi konyol. Ritme kehidupan yang membosankan itu pun terulang lagi.

Aku sadar, aku dan teman-temanku mempunyai alam berbeda, cara pandang berbeda, dan cita-cita berbeda. Mereka tidak akan pernah terwarnai gaya belajarku, akupun tidak ingin terwarnai mereka.
”Sebentar lagi ujian semester, Pur.”

Jawaban yang sama ketika Purnomo menanyakan perubahanku. Aku sengaja merahasiakan teguran ustadz Dzul Qarnain dari semua temanku. Karena teguran itu bagai tamparan keras bagiku, aku malu. Walaupun aku cerita, mungkin aku hanya akan jadi bahan ledekan dan tertawaan.

Jika diperbolehkan, aku ingin mengusulkan pada ustadz Dzul Qarnain agar aku dipindahkan dari alam mimpi itu. Pindahkan aku ke lantai dua, atau ke asrama gedung B saja, atau jika perlu pindahkan aku ke asrama gedung C. Aku ingin memulai semuanya dari nol lagi. Tapi urung, aku tidak ingin membuat teman-temanku itu bertanya.

* * *

Ujian semester tinggal satu minggu lagi.

Tidak ada perubahan sedikitpun dari aktifitas mereka. Mereka santai saja, agaknya ujian semester bukan moment yang menakutkan bagi mereka. Buktinya, Taufik Husein masih sibuk dengan sepakbolanya, Zaki dengan tidur siangnya, Raisul Balad dengan kegiatan ekstra di luar lingkungan pesantrennya, Purnomo dengan kegiatan yang dirahasiakannya, Iwan Kurniawan dengan bisnis jaketnya, dan Irvan Permana dengan buku diarynya. Sementara aku mulai stress dengan materi pelajaran yang menumpuk.

Dari semua tingkah mereka yang ’keterlaluan’ itu, ada satu kegiatan mereka yang kukagumi, selalu mencari ilmu baru. Mereka kerap terlihat sedang membaca buku di perpustakaan, mereka pun mengoleksi buku-buku bacaan yang sesuai dengan hobby mereka. Koran dan majalah pun tidak luput mereka baca.
”Seperti inikah cara mereka menghadapi ujian semester?”

* * *

Ujian semester pun tiba.

Semua temanku masih terlihat normal, maksudku, mereka tidak stress sepertiku. Bagi mereka, hari-hari ujian layaknya hari belajar. Hanya saja bedanya, seharian mereka harus melingkari pilihan, mengisi titik-titik dan mengarang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan essai singkat.

* * *

Singkat cerita, ujian telah usai, bersamaan dengan itu, seluruh pelajaran yang pernah kuhafal pun hilang entah kemana, hilang tidak berbekas. Aneh, kenapa Departemen Pendidikan Republik Indonesia tercinta ini masih menerapkan standar ujian seperti itu. Sayang sekali.

Seminggu kemudian pembagian raport, jerih payahku berbuah peringkat tiga di kelas. Lumayan.

Meskipun kuceritakan kisah ini dengan singkat, tapi sebenarnya masa-masa itu adalah moment terpanjang dalam hidupku. Aku sengaja tidak mau bercerita lama tentang kisah persiapan ujian semester hingga pembagian raport itu. Pasti sangat membosankan.

* * *

Liburan semester pun tiba. Rencananya akan kuhabiskan libur semester di rumah saja. Aku ingin istirahat setelah hampir dua minggu menghadapi ujian. Aku benar-benar dibuat stress.

Sementara itu Irvan dan Iwan memohon, hampir memelas pada Purnomo agar mengisi libur semester ini di pesantren, seperti waktu libur iedul adha lalu. Irvan sangat penasaran dengan area di balik pintu hijau muda itu. Agaknya asrama puteri itu masih misteri baginya. Sedangkan Iwan pasti alasan bisnis.

Purnomo menolak permohonan itu karena ia ingin pulang kampung, ingin bertemu ibunya. Selain itu, libur kali ini tidak ada daging qurban, karena Iedul adha sudah lewat beberapa bulan yang lalu.

Permohonan mereka beralih padaku. Kusampaikan pada mereka, bahwa libur panjang tanpa Purnomo tidaklah seru. Selain itu, aku punya alasan yang sama dengan Purnomo, tidak ada daging qurban. Lagi pula, area di balik pintu berwarna hijau muda itu sudah tidak misteri lagi bagiku.

”Bagaimana kalau kalian berdua saja?”
Saranku pada Irvan dan Iwan, mereka berpandangan, lalu mereka menggeleng.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *