7 Warna Pelangi #27

Kabar dari Ayah

oleh : Usep Saepullah

Sebulan kemudian setelah liburan semester, aku sudah kembali lagi ke pesantren. Sejak aku mulai mempedulikan ranking lagi, rasanya hari-hari membosankan itu kembali lagi. Seperti waktu di pesantren lama. Belajar terasa tidak lagi menyenangkan. Aku mulai stres.

Minggu, jam dua siang, tengah hari, matahari sangat menyengat. ketika aku sedang duduk di bangku sambil membaca buku pelajaran, aku dibuat kaget. Tiba-tiba saja ayah ada di depanku. Di belakangnya Purnomo. Ia yang mengantarkan ayahku hingga ke tingkat paling atas di pesantren ini. Aku meraih tangan ayah, lalu kucium takdzim.

Tangan itu masih kasar dan akan selalu kasar, karena ayah terus bekerja keras, membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolahku.

Ayah terlihat lelah. Aku mengajaknya ke dalam ruangan kamar. Semua temanku sedang tidak ada. Iwan, seperti biasa pergi berjualan. Irvan, sepertinya ia sedang ke toko buku, mungkin ia sedang mencari novel romantis, mencari kisah yang senasib dengannya, belajar dari novel itu dalam menyelesaikan masalah cinta.

Ketika ayah duduk, kutanya kabarnya.
”Alhamdulillah, sehat.”
Jawabnya singkat, sambil melihat-lihat kondisi kamarku yang agak berantakkan. Pandangannya terpaku pada pedang Naga Puspa dan samurai yang menempel di dinding dengan posisi saling menyilang. Sepertinya ayah heran benda itu bisa berada di kamar.
”Itu hanya hiasan pak, milik Purnomo, tadi yang ngantar bapak ke atas.”
Ayah manggut-manggut.

Ketika aku beranjak dari tempat duduk untuk mengambil air minum, Purnomo sudah datang dengan teko dan dua gelas kosong, lengkap dengan sepiring makanan ringan. Aku baru menyadari alasan orang-orang menyukai Purnomo, mungkin karena tingkat kepeduliannya tinggi. Tanpa diminta, ia menjamu tamu yang seharusnya aku menjadi tanggung jawabku. Aku tahu, semua yang dibawanya itu, ia ambil dari dapur umum pesantren. Ia punya akses untuk menggunakan peralatan dapur.
”Naik apa ke sini pak?”
“Naik Vespa.”
”Vespa?”

Pantas saja ayah kelelahan, jarak Tasikmalaya Garut cukup jauh. Saat ini aku merasa pada titik penyesalan yang sangat dalam. Sementara ayah banting tulang bekerja sampai kulitnya menghitam dan tangannya menjadi semakin kasar, aku malah tidak serius dalam belajar. Ayah sudah berkorban sangat banyak. Jika tidak kubalas dengan prestasi yang bisa dibanggakan, lalu harus kubalas dengan apa?

Aku ingin mengatakan padanya, bahwa reaksi jamu agar pintar itu baru terasa akhir-akhir ini, hanya sekedar ingin membuat ayah bahagia.
”Bagaimana belajarmu?”
Aku tertunduk, aku bingung harus bilang apa. Untung aku sedang pegang kitab, coba kalau sewaktu ayah datang, aku sedang pegang koran atau majalah.
”Maaf pak, di sini mungkin Asep tidak bisa mendapat ranking pertama seperti waktu di Tasik.”
”Tidak apa-apa. Sep. “Jangan terlalu memikirkan hasil, yang penting belajar saja yang rajin.”

Aku paham. Kami terdiam. Ayah masih seperti dulu, pendiam, gennya sebagian menurun padaku. Ibarat rumus matematika. Negatif ditambah negatif sama dengan negatif, negatif ditambah positif sama dengan siapa yang paling dominan. Itulah aku, pendiam dengan pendiam hasilnya lebih banyak berdiam diri, jika aku ditambah Purnomo hasilnya sedikit berisik, karena Purnomo lebih dominan dariku.

“Sep,”
Ayah kembali membuka pembicaraan. Aku menoleh ke ayah.
“Bapak bawa kabar tentang Mang Akim.”
“Mang Akim?”
Tanyaku antusias, sudah memasuki tahun keempat sejak perpisahan terakhir itu. Aku rindu senyumnya, aku rindu petuahnya, aku rindu bualannya, aku rindu semua tentangnya.
“Mang Akim tidak kuliah lagi di Pakistan.”
“Maksud bapak?”
Aku terhenyak kaget. Aku sebenarnya berniat ingin kuliah di Pakistan, mengikuti jejak paman.
“Mang Akim menyeberang ke Afghanistan.”

Masih ingat obrolan kami tentang bidadari? Kupikir itu hanya bagian dari candaan atau bualan yang akan menjadi bahan tawaan. Ternyata paman benar-benar ingin menyunting bidadari dengan cara menyongsong syahid. Semangat Kyai Haji Zainal Mustofa merasuk jiwanya, tidak di Tasikmalaya, tapi di sana, di negeri berbahasa pashtun, sebuah negara di Asia Tengah yang berbatasan dengan Iran, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan dan China.

Menit-menit berikutnya berlalu dengan kaku. Bukan karena aku dan ayahku pendiam, aku tidak ingin menyalahkan itu. Itu karena kabar tentang paman yang baru kuterima. Aku sudah tidak konsentrasi lagi pada obrolan lainnya. Untungnya, Purnomo ikut bergabung ngobrol. Seperti yang kubilang tadi positif ditambah negatif sama dengan tergantung siapa yang paling dominan. Meskipun kami berdua, Purnomo sangat pandai bermain kata-kata. Ayah pun sangat senang dengan obrolan-obrolan Purnomo.

Setelah satu jam berlalu. Akhirnya ayah pamit pulang kembali ke Tasikmalaya, naik vespa. Kami keluar kamar, lalu berjalan menuruni tangga, hingga ke tempat motor Vespa ayah di parkir.
“Kapan-kapan main ke Tasik”
Pinta ayah pada Purnomo.
“Insya Allah, Pak”
“Sep, kamu harus seperti Purnomo”
“Insya Allah, Pak”

Padahal hatiku menolak jika harus seperti Purnomo. Ayah belum tahu sepenuhnya tentang Purnomo. Obrolan-obrolan tadi hanya sebatas bagian luar dari kepribadian Purnomo. Ayah tidak tahu kalau masa kecil Purnomo dipenuhi hal-hal mistis, ayah belum tahu kalau aku pernah ditegur ustadz Dzul Qarnain karena ajakannya nonton film, ayah belum tahu kalau setiap ulangan Purnomo selalu nyontek dariku. Satu lagi yang pasti ayah belum tahu, Purnomo takut kecoa. Jika ayah tahu semua itu, aku yakin redaksi kalimat ayah akan berubah.
“Sep, jangan sekali-kali seperti Purnomo.”
Tapi, aku akan tetap berbaik sangka. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Ayah pasti telah melihat satu sisi kelebihan Purnomo. Aku harus belajar dari kelebihan itu, dan jadikan pelajaran dari setiap kekurangan yang dimilikinya.

Kucium takdim tangan ayahku. Lalu beliau menghela motor vespa, bunyi khas motor ayahku – bep bep bep nguing nguiiing – langsung terdengar, bunyi yang dulu selalu kurindukan setiap malam, ketika ayah pulang mencari nafkah.

Ayah mengangguk pada kami, motor butut itu terkentut-kentut meninggalkan kami berdua.

Sebelum pulang, ayah sempat menyerahkan sepucuk surat untukku.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *