7 Warna Pelangi #28

Surat

oleh : Usep Saepullah

Surat yang dititipkan lewat ayah itu, kuselipkan di dalam lemari, di antara baju-baju yang tertata rapi. Selama aku di Garut, belum sepucuk suratpun kuterima. Sebenarnya aku mengharapkan kedatangan surat dari seseorang, meskipun itu tidak mungkin terjadi. Setidaknya aku mendapatkan surat dari Sulaeman, teman dekatku. Tapi itu juga tidak mungkin terjadi, ia bukan tipe lelaki penulis surat. Ia lebih suka berbicara seharian, daripada harus menulis selembar surat.

Tadi siang, begitu motor vespa ayah berbelok lalu menghilang dari pandanganku, sampul surat itu langsung kubaca.
From : U. Syamsuddin
To : Sobatku Asep Saepulhaq.
Surat itu langsung kulipat empat, lalu kujejalkan ke saku celanaku, berharap surat itu rusak, atau bahkan menghilang entah kemana.
U. Syamsuddin = Ujang Syamsuddin = Kumis Baplang = Ujang Saddam = Saddam Husein = Rivalku
Jelas bukan?

Aku yakin, isi suratnya tidak lebih dari basa basi, lalu pertanyaan dengan nada ejekan, dan mungkin tantangan pertarungan di arena lain. Saddam belum puas, sebelum dia bisa mengalahkanku.

”Apa Sep? Surat?”
Purnomo terlanjur mengetahui keberadaan surat itu.
”Uang.”
Uang adalah urusan sensitif, karena itu Purnomo tidak berani mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Berabe urusannya kalau Purnomo tahu jika itu surat, apalagi surat ini dari Saddam.

Tadinya surat itu akan kubuang ke sungai di belakang asrama. Tapi urung, aku berharap setelah kepindahanku, Saddam berubah dan insaf. Tidak lagi menjadi rivalku dalam segala bidang. Aku juga berharap ada kabar baik dari pesantren lamaku.

Aku terlanjur mengatakan pada Purnomo, bahwa isi amplop itu uang. Karena itu, untuk bisa membaca surat itu, aku harus menunggu seluruh penghuni kamar tertidur pulas. Aku bilang berabe urusannya, karena surat ini berasal dari Saddam, seorang cowok tulen dengan kumis baplang. Jika aku mendapat surat dari seorang wanita, mungkin aku akan percaya diri untuk membacanya di depan teman kamarku. Tengah malam nanti aku akan membaca surat itu. Malam ini aku tidur lebih cepat dari biasanya, bahkan lebih cepat dari Zaki.

* * *

Tengah malam, waktu yang dinantikan itu tiba. Aku terbangun dari tidur, lampu kamar sudah dimatikan. Sudah menjadi kebiasaan kami, lampu kamar harus dimatikan ketika sedang tidur. Otak perlu istirahat, menurut penelitian, otak kita masih terus bekerja memantau kegiatan sekeliling kita jika sekeliling kita terang menderang, meskipun kita sedang tertidur pulas.

Perlahan aku turun dari ranjang kayu atas, aku mengendap-ngendap menuju lemari, kubuka lemari dan kuambil surat yang terselip di antara baju. Si Saddam benar-benar mempermainkan aku, ia membuatku bertingkah seperti pencuri di kamarku sendiri.

Langkahku menuju pintu kamar terhenti, karena kudengar pintu kamar sebelah terbuka. Menyalakan lampu tidak mungkin, karena efek cahaya yang mendadak akan membuat Purnomo tersentak bangun. Seperti itulah pendekar. Sedangkan Iwan tidur seperti lembu, gelap ataupun terang, tidak ada pengaruh. Kumaklumi, mungkin ia kecapaian karena seharian berjualan. Sedangkan Irvan, mungkin sepertiku, setengah sadar akan menutup kepala dengan sarung.

Akhirnya aku berdiri dekat jendela, melalui cahaya lampu luar yang menerbos masuk lewat jendela, aku membuka surat itu.

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sobatku Asep Saepulhaq, bagaimana kabarmu di sana? Saya berharap baik-baik saja. Kami di sini sangat merindukanmu. Terutama aku, sejak kepergianmu, hidupku terasa monoton, tidak ada lagi orang yang membuat gairah belajarku meningkat. Tidak ada yang mau bersaing denganku.

Sobat, Apakah kamu sudah mendapatkan pesaing yang hebat-hebat? Apakah kamu di sana masih tetap ranking satu? Jika pesaingmu berat-berat, hingga peringkatmu menurun drastis menjadi sepuluh, sebaiknya kau kembali lagi ke sini. Di sini, setidaknya kau akan mendapat ranking dua. Setelahku.

O ya, Sep, ba’da ujian semester kemarin, aku mengkhitbah Nurhasanah. Aku khawatir ada pihak yang ingin mendahuluiku. 🙂 Kami telah sepakat. Insya Allah, Setelah lulus mu’allimien nanti, aku dan Nurhasanah akan menikah. Aku berharap kau datang pada waktu pernikahanku nanti.

Aku tersenyum menang. Mungkin, jika aku sedang berada di kawah gunung Galunggung, aku akan tertawa sekencang-kencangnya.
Aku mempunyai kisah tersendiri untuk kasus Nurhasanah ini, kesimpulan yang sudah pasti, Saddam kena jebakanku dan Nurhasanah.

Suatu hari, Nurhasanah datang padaku, ditemani adiknya, di rumahku. Jelas aku kaget, karena belum pernah ada seorang santri wanita pun yang datang ke rumahku. Di sana, Nurhasanah banyak bertanya padaku tentang Saddam, hingga aku mencapai pada satu kesimpulan, Nurhasanah menyukai Saddam, meskipun Nurhasanah tidak menyebutnya secara langsung, gadis jarang sekali berani berterus terang.

Muncul keinginan untuk mewujudkan impian Nurhasanah, meskipun ada sedikit yang mengganjal pikiranku. Apa yang disukai Nurhasanah dari Saddam? Apakah kumis baplangnya? Kepintarannya? Wibawanya?. Aaah itu urusan Nurhasanah. Cinta memang buta, jodoh memang rahasia Sang Pencipta.
”Aku punya ide?”

Akhirnya tercetus ide gila dariku. Skenario pertama yang berakibat fatal bagiku, menjebak Saddam. Aku membutuhkan teman untuk memuluskan rencana hebat ini, Sulaeman orangnya. Rencana apapun untuk menjaili santri berkumis baplang itu, ia selalu setuju. Bahkan, Sulaeman pernah punya rencana lebih sadis dariku. Mencampurkan obat tidur pada minuman Saddam, lalu ketika Saddam tertidur pulas, kumis baplangnya dicukur habis.

Semua santri sudah tahu persainganku dengan Saddam sudah merambah pada perbagai macam bidang, termasuk urusan wanita. Ia pasti akan mendekati setiap santri wanita yang sedang berusaha kudekati.

Skenarionya adalah aku pura-pura menyukai Nurhasanah. Tugas Sulaeman adalah menyebarkan berita bohong itu hingga ke telinga Saddam. Saddam terpancing, ia tidak mau kalah, ia pun bergerak cepat. Satu pucuk surat melayang ke pangkuan Nurhasanah. Sesuai skenario, Nurhasanah pura-pura tidak peduli.
”Kalau kang Ujang kapok bagaimana?”
Nurhasanah khawatir Saddam tidak mengirim surat lagi.

Setelah kuingatkan, cinta perlu perjuangan, biarkan Saddam memperjuangkan cinta ini, meskipun niat sebenarnya ingin menyingkirkanku dari arena ini. Jika dengan mudah Nurhasanah menerima Saddam, akan dengan mudah pula Saddam nanti melupakan Nurhasanah. Bahkan, jika tahu ini jebakan, Saddam akan berbalik membenci Nurhasanah. Tapi, jika Saddam tahu nanti setelah benih cinta benar-benar tumbuh, Saddam akan berat melepas Nur. Percayalah Nur, kejadian ini tidak akan pernah dilupakan oleh Saddam. Begitulah kira-kira ucapanku pada Nurhasanah.

Aku pura-pura mengirim surat juga. Saddam tidak mau kalah, tidak tanggung-tanggung, satu surat dalam satu minggu. Sedangkan aku, cuma satu lembar, itupun tidak ada isinya.

Setelah belasan surat, Nur akhirnya membalas surat Saddam. Itu juga dengan ijinku dan Sulaeman. Ia memohon sambil menangis agar diperbolehkan membalas surat Saddam. Ia betul-betul takut kehilangan kesempatan lagi. Ia takut kehilangan Saddam.

Saddam tersenyum, aku harus pura-pura memasang wajah murung, hingga aku pindah ke Garut. Tersiar kabar, aku pindah ke Garut gara-gara ditolak Nur. Tega sekali si Saddam itu.

Tapi, skenario hebat ini berakibat fatal bagiku, kabar tentang aku dan Nurhasanah sampai pada santri wanita yang benar-benar kusukai. Belum sempat kusampaikan kisah yang sebenarnya, santri wanita itu sudah pindah sekolah.

Pertempuran selalu menimbulkan banyak korban.

Sobat, hanya itu yang bisa aku sampaikan. Aku berharap kamu baik-baik saja. Aku berharap kamu bisa mengalahkan saingan-sainganmu di sana. Aku berharap kamu tidak merusak suasana kondusif di sini.

Salam rindu,
Sobatmu

U. Syamsuddin

Saddam memang plin-plan, di awal surat aku diminta pulang lagi, sekarang aku diminta jangan kembali karena khawatir merusak suasana kondusif.

Surat dari Saddam kulipat. Kuayunkan kakiku menuju ranjang kayu, lalu duduk di atas sana. Aku termenung. Bukan, aku bukan memikirkan surat Saddam. Aku tidak peduli dia mau ranking berapa, aku tidak peduli dia mau menikah siapa, tidak ada pengaruh bagiku. Aku hanya teringat cerita ayah tentang paman.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *