7 Warna Pelangi #29

Saddam Husein

oleh : Usep Saepullah

Maka kawan, agar kawan tidak menebak-nebak siapa Saddam Husein yang sebenarnya, mari kuceritakan kisahnya.

Nama asli santri yang agak nyentrik ini Ujang Syamsuddin, kami memanggilnya Ujang Saddam, kadang Saddam Husein. Aku tidak pernah tahu, siapa nama bapaknya, ibunya, adiknya, kakaknya, apalagi om dan tantenya. Mengenal namanya saja sudah untung. Sekali lagi kusampaikan, aku ini menjadi makhluk yang tidak bisa bersosialisasi sejak menjadi bintang kelas. Ironis sekali.

Bukan tanpa alasan aku menyebutnya nyentrik. Coba saja bayangkan, ia memelihara kumis baplang dan membabat habis jenggotnya, hingga dagunya licin. Berbeda terbalik dengan kebiasaan ustadz dan santri di pesantren. Memelihara jenggot dan membabat habis kumis. Nyentrik bukan?.

Tindakan Saddam tentu saja tidak dilarang, karena itu merupakan hak asasinya kang Ujang, hanya saja terkadang ada juga ustadz yang menyarankan agar ia memelihara jenggot.

Karena kumisnya itu, kang Ujang dijuluki Saddam Husein. Kumisnya itu betul-betul mirip kumis Saddam Husein. Jika kumis kang Ujang dan Saddam Husein disandingkan, mereka akan terlihat sama persis, boleh dikatakan kembar, sangat sulit untuk dibedakan. Ingat, kumisnya saja, karena wajah dan posturnya sangat jauh berbeda. Jika Saddam Husein berwajah timur tengah, kang Ujang berwajah sunda, jika Saddam Husein berpostur tegap berisi, kang Ujang berpostur kecil pendek, bahkan cenderung kontet. Berkembang cerita yang kurang bisa dipertanggung-jawabkan, jika melihat Ujang Saddam di kejauhan, maka yang terlihat jelas hanyalah kumisnya.

Anehnya, ia senang betul dijuluki Ujang Saddam. Entahlah, apakah Saddam Husein itu idolanya, temannya, atau mungkin pamannya, atau bisa jadi tetangganya waktu dia masih kecil. Tapi, yang membuatku bingung, jika memang dia bangga dengan kumis ala Saddam Husein nya, kenapa setiap kali ia tersenyum, tangan kanannya selalu menutup kumis baplangnya. Andaikata tangan kanannya sibuk, tangan kirinya siap mengganti tugas. Andaikata kedua tangannya sibuk, ia akan menunduk, atau memalingkan muka.

Aku memanggilnya kang Ujang Saddam, di tataran Sunda, akang adalah panggilan untuk orang yang lebih tua. Umur kang Ujang memang lebih tua dariku sekitar empat atau lima tahun. Si akang ini lulusan SMA, karena tertarik untuk memperdalam agama, ia masuk pesantren pada kelas takhashush. Jadi, tidak heran jika kang Ujang menjadi saingan yang cukup berat bagiku setelah Eva Fahiroh. Sudah pasti ia sangat menguasai pelajaran umum, karena tinggal mengulang pelajaran SMA saja. Sedangkan pelajaran agama tingkat mu’allimien, kami sama-sama baru mengenal.

Ketika semester kedua dibagikan aku mendapat ranking satu, sedangkan kang Ujang Saddam berada di posisi kedua, setelahku. Aku yakin ia tidak menyangka aku bisa melampauinya. Terus terang, aku sangat menghormatinya sebagai orang yang lebih tua dan berpengalaman dalam hidup, tapi untuk urusan prestasi, aku tidak mau mengalah.

Ujang Saddam benar-benar merasa ditikam dari belakang, agaknya ia dendam karena aku mampu mengalahkannya. Di kelas dua, ia bertekad mengalahkanku dalam berbagai hal. Ia bernafsu untuk menurunkanku dari kursi singgasana bintang kelas. Bukan cuma itu, tega-teganya ia menaksir siapapun santriwati yang akan kutaksir. Ia benar-benar ingin selalu berada satu langkah di depanku.

Aku tidak mau mengalah begitu saja, sekuat apapun ia berusaha, aku akan berusaha lebih keras lagi. Jadi enggak usah heran, jika setiap les atau tambahan pelajaran yang diadakan di pesantren, pesertanya cuma aku dan Saddam.

Kerja kerasku membuahkan hasil, Ujang Saddam selalu berada di belakangku dalam berbagai hal, aku tetap selalu lebih unggul darinya. Tapi, hanya satu kekalahan telak yang harus kuakui, ia menjadi ketua Rijalul Ghad, ketua OSIS nya di pesantren. sedangkan aku harus duduk manis menjadi sekretarisnya.

Mungkin, ini baru hasil analisaku sementara pada waktu itu, ia diangkat menjadi ketua organisasi khusus santri laki-laki. karena pesona wibawa kumis baplangnya yang mirip Saddam Husein.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *