7 Warna Pelangi #30

Bayangan Hitam

oleh : Usep Saepullah

Jam dua dini hari, itu kutahu dari jam dinding milik Purnomo yang menempel tepat di dinding atas pintu. Hebat, dalam gelap jarum jam itu seperti terlihat menyala. Jarum jam itu pasti terbuat dari bahan penyerap cahaya, jika sekeliling gelap, maka cahaya itu akan dilepas kembali. Purnomo memang selalu memiliki barang-barang mahal.

Malam kian larut, mataku masih belum bisa terpejam. Udara dingin mulai merayap melalui lubang angin di atas jendela. Sunyi, hanya suara jengkrik yang timbul tenggelam di luar sana. Entah apa jadinya Purnomo, jika yang ditakutinya jengkrik, bukan kecoa. Apakah ia bisa tertidur pulas?

Purnomo, meskipun sudah disediakan ranjang kayu, ia lebih sering tidur di lantai kamar, beralaskan kardus bekas. Entah darimana kardus itu ia peroleh, ia selalu punya akses untuk mendapatkan barang-barang yang cukup sulit kami dapatkan. Purnomo tidur sangat tenang, tapi jangan coba-coba mengagetkan atau melangkahi badannya secara mendadak, tangan atau kakinya akan reflek menghalau setiap makhluk hidup yang melewati daerah jangkauan tangan dan kakinya. Telinganya pun sangat sensitif dengan suara-suara di sekitarnya.
Iwan tidur sambil memeluk ransel dagangannya. Sejak beberapa jaket kulit dagangannya hilang, ia menjadi paranoid. Tega sekali orang yang mencuri dagangannya itu. Sejujurnya aku masih menaruh curiga pada duo iseng itu.

Jika ada pertandingan tidur paling ekpresif, Irvan lah pemenangnya, terkadang ia tersenyum, manis sekali, lalu berubah sedih. Kasihan Irvan, aku belum punya kesempatan untuk mengenal lebih jauh santri berkulit gelap ini.

Kulipat surat dari Saddam itu. Aku kembali mengendap-endap seperti pencuri, membuka lemari, lalu menyelipkan surat itu di antara pakaianku.

Kurebahkan kembali badanku di ranjang kayu, tapi kedua mataku belum bisa kupejamkan. Begitulah aku, jika sudah terbangun dari tidur, lalu beraktifitas, maka akan kesulitan untuk tertidur lagi.
Purnama ketujuh sudah berlalu, tidak terasa sudah tujuh bulan aku tinggal di Pesantren ini. Kuputuskan untuk keluar kamar sejenak, melihat kembali suasana malam dari tempat paling tinggi di pesantren ini.
Kreett!!!
Entah sudah berapa tahun pintu tua ini menemani para penghuninya. Sudah tidak kokoh lagi. Bagian bawahnya telah menyentuh lantai, hingga menimbulkan bunyi berderit setiap kali dibuka. Seperti yang kubilang tadi, Purnomo sangat sensitif dengan suara-suara. Ia memang tidak terbangun, tapi ia langsung mengubah posisi tidurnya pada posisi siap bertarung.

Sudah menjadi semacam default bagiku, setiap aku keluar kamar, aku akan melangkah lima langkah ke arah barat, lalu pandanganku akan langsung tertuju pada pintu hijau muda sebesar korek api itu. Tidak ada siapapun di pintu yang hanya diterangi lampu lima belas watt itu. Akupun tidak akan pernah berharap ada seseorang muncul di balik itu lalu memanggilku. Tengah malam begini. Bahkan, jika itu terjadi, mungkin aku akan kembali ke kamar, membangunkan Purnomo.
Sebuah kitab tergeletak di atas bangku yang ada di depan kamar Taufik. Kudekati bangku itu lalu kuambil kitab. Kubaca sampul depannya, Tafsir Aayaatul Ahkam susunan Muhammad Ali Ashshabuni. Di halaman depan kitab itu, kutemukan nama pemilik kitab itu dengan tulisan Arab.
Nurrahman Zaki

Aku tersenyum, mungkin saking ngantuknya ia lupa pada kitabnya sehingga tertinggal di bangku. Ada-ada saja santri itu. Ia benar-benar harus dibawa ke dokter untuk di periksa tentang kondisi matanya yang mudah ngantuk. Kuletakkan kembali kitab itu pada tempatnya semula.

Aku masih berdiri di sana. Siluet kubah masjid berlatar bintang gemintang laksana kerlipan mutiara di angkasa. Sesekali terlihat bintang jatuh. Angin malam menerpa badanku yang terbalut sweter. Kudekapkan kedua tanganku. Sungguh, aku pernah merasakan nuansa itu. Nuansa ketika aku meneteskan air mata mengagumi karya Sang Pencipta. Gunung Galunggung. Besok harinya aku bertemu makhluk kurus kering yang bernama Raisual Balad yang menyeretku hingga ke pesantren ini. Moment itu rasanya baru kemarin terjadi.

Purnama ketujuh sudah berlalu lima hari yang lalu. Jika aku keluar pada waktu Purnama itu, tentu aku akan menyaksikan pemandangan luar biasa dari atap ini. Sekarang, bumi hanya mengandalkan cahaya dari bintang yang berkerlip kecil. Tidak akan cukup menembus pekatnya malam dan awan nan gelap. Kulangkahkan kaki terus ke barat mendekati pagar besi itu. Aku ingin berdiri di sana untuk menikmati malam.
Langkahku terhenti. Sesosok siluet bayangan tiba-tiba berdiri di ujung atap bangunan. Sosok itu bejalan ke arahku, kepalanya botak dan tidak berleher, agaknya tertutup otot pundak yang besar. Makhluk itu terus menuju ke arahku, tangannya tidak terlihat, kakinya aneh tidak seperti makhluk manapun yang kukenal. Sosok mistis yang pernah diceritakan Purnomo melintas di pikiranku. Kutepis pikiran itu. Aku tetap mundur hingga ke area yang tersinari lampu. Bayangan itu terus menuju ke arahku, menuju cahaya temaram dari lampu di depan kamar kami.
Pertama kulihat kakinya.
“Sandal jepit? “
Makhluk itu pakai sandal jepit.
“Sarung?”
Makhluk itu pakai sarung.
“Baju koko?”
Makhluk itu ternyata pakai baju koko dilapasi jaket tebal.
“Zaki?“

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *