7 Warna Pelangi #33

Dogma Sesat itu Bernama Ranking

oleh : Usep Saepullah

Aku masih ingat betul ketika aku duduk di kelas satu Sekolah Dasar, waktu itu pembagian raport pada catur wulan pertama. Pada halaman sebelah kanan kolom atas terdapat satu kata dengan satu angka, diiringi kalimat perintah.

Ranking 2

Tingkatkan prestasimu…!

Aku tersenyum meskipun tidak tau makna tulisan itu.

”Ranking dua itu bagus. Itu berarti kamu teh anak pinter.”

Itulah dogma yang ditekankan padaku ketika pertama kali aku menerima Raport. Ranking paling atas berarti anak pintar, anak pintar berarti anak penurut, anak penurut berarti anak baik, anak baik akan memiliki masa depan yang baik pula. Benarkah itu? Apakah sekolah bisa menjamin jika rankingku bagus, masa depanku juga akan bagus?

Anak pintar dielu-elukan, dihargai dan dipuji, sementara anak ’bodoh’ dipandang sebelah mata. Akhirnya apa yang terjadi? Sekolah akhirnya bukan tempat yang menyenangkan untuk mencari ilmu.

Sekolah jadi ajang persaingan untuk mendapatkan peringkat teratas. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan nilai terbagus. Halal dan haram tidak peduli lagi, baik dan buruk bukan masalah.

Berbagai macam teknik mencontek yang dilakukan para siswa, jual beli nilai ujian dilakukan wali murid, sogok menyogok yang terjadi di lingkungan sekolah. Tujuannya hanya satu. Agar siswa bisa menjawab ujian dengan benar, agar siswa mendapatkan ranking teratas.

”Supaya kamu ranking satu.”

Ayahku orang baik. Tidak akan menempuh jalan tidak baik agar aku bisa ranking satu. Jalan yang ia ambil agar aku menjadi ranking pertama hanyalah dengan memberiku jamu pencerdas, agar aku bisa menjawab seluruh soal ujian, agar aku mendapatkan ranking pertama.
Ayahku tidak salah, masyarakat tidak salah, guru tidak salah, yang harus disalahkan adalah dogma sesat yang telah terlanjur berkembang di masyarakat bahwa ranking adalah segalanya, bahwa hasil ujian adalah tolak ukur keberhasilan seseorang dalam menempuh pendidikan. Itu tugas berat pemerintah, wa bil khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Dogma sesat tentang ranking itu terbawa hingga aku sekolah di pesantren. Begitu aku mendapatkan ranking satu, aku berusaha keras untuk mempertahankan peringkat satu itu. Seolah duniaku hanya berkutat di pelajaran sekolah saja. Seolah sumber ilmu itu hanya yang diajarkan di bangku pendidikan. Kukekang hobiku, kubuang jauh-jauh kreatifitasku. Aku benci itu. Aku mulai stress dalam mempertahankan ranking itu. Aku lelah. Tapi aku harus tetap ranking satu.

Agaknya aku mulai setuju dengan pendapat Roem Topatimasang dalam bukunya yang menyatakan bahwa sekolah adalah candu.

Keberadaan sekolah selama ini, tidak lagi berguna. Mayoritas sekolah telah menjadi kapitalistik, lembaga komersial. Harus mengeluarkan banyak biaya jika ingin bersekolah, tetapi yang terlahir dari sekolah hanyalah generasi-generasi yang labil.

Sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan untuk belajar. Alih-alih mendidik, sekolah malah meracuni anak didik dengan berbagai macam disiplin ilmu yang semu. Karena sekolah banyak mengajarkan hal-hal yang tidak berguna untuk kehidupan masa depan para siswanya.

Seharusnya pihak sekolah membiarkan para siswanya berkreasi dengan minat dan hobi mereka masing-masing, bukan dipaksa untuk menelan mentah-mentah pelajaran yang membuat para siswa pusing.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *