7 Warna Pelangi #34

Orderan Besar

oleh : Usep Saepullah

Sebelumnya, malam hari begitu kaku bagiku. Aku sering mengasingkan diri ke kelas untuk mengulang pelajaran. Malam yang sangat membosankan. Kini, malam-malamku begitu menakjubkan. Obrolan-obrolan kami yang sepintas lalu terdengar tidak tentu arah itu, ternyata sering memberikan hikmah.

Malam ini, ketika kami sedang ngobrol di lantai beralaskan karpet hijau seperti biasa, tiba-tiba Taufik muncul di pintu. Tanpa banyak omong, ia menjitak Iwan yang duduk membelakangi pintu.

Agaknya sifat iseng santri itu sedang kambuh. Tentu saja Iwan tidak terima, ia bermaksud membalas jitakan itu. Tapi, berikutnya Rais masuk, ia juga langsung menjitak kepala Iwan. Kedua tangan Iwan sibuk membalas dua jitakan sekaligus. Taufik dan Rais membela diri, menepis setiap serangan Iwan. Diperlakukan seperti itu, ia hanya tertawa, seperti biasa, matanya merem. Kami tertawa melihat tingkah mereka.

Zaki yang baru masuk langsung melerai ’pertengkaran’ tidak seimbang itu. Iwan diminta duduk di dekat Purnomo, dekat ranjang kayu. Aku dan Irvan menggeser tempat duduk agar ada ruang untuk tiga tamu tak diundang itu. Agaknya akan ada peristiwa besar yang akan terjadi.

”Mimpi apa kamu semalam, Wan?”

Tanya Zaki membuka pembicaraan. Iwan ditanya seperti itu malah cengengesan. Agaknya ia tidak mengerti tujuan pertanyaan itu.

Sejujurnya aku juga tidak mengerti.

”Ayo Fik, mulai saja.”

Pinta Zaki pada Taufik. Si tukang iseng itu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Dua lembar kertas yang terlipat rapi. Ia membuka lipatan itu. Lembaran kertas itu seperti surat resmi, ketikannya rapi menggunakan komputer. Selintas kulihat kata Order tertera pada lembar surat itu. Taufik langsung menyodorkan surat itu pada Iwan.

”Apa ini, Fik?”

”Baca aja!”

Iwan membaca surat itu, mulutnya bergerak tapi tidak keluar sedikitpun suara dari sana. Aku yakin, tujuannya untuk menghindari huruf ’R’.

”Baca judulnya yang keras, Wan!!”

Teriak Rais.

”SURAT ORDELR!”

”ORDER wan, bukan ORDEL!”

”ORDELR, LR, LR, telrselrahlah! Maksudnya apa ini?”

Agaknya kami, mungkin lebih tepatnya, aku, Iwan dan Irvan yang belum mengerti isi surat itu. Sedangkan yang lainnya tampaknya sudah paham maksud surat itu.

”Itu surat pesanan untuk produk jaket kulit kamu, Wan?”

Seperti reaksi Iwan ketika mendengar kisah Purnomo dan ibunya itu. Kali inipun ia bereaksi sangat ekspresif sekali. Kedua matanya berkaca, hidungnya memerah, lalu kembang kembis, tangisannya siap meledak. Kedua matanya terpejam, lalu butiran air mengalir dari sudut matanya. Ia menunduk.

”Kalian pasti belrcanda.”

Aku mengangkat daguku ke arah Rais dan Iwan. Sebuah isyarat dengan banyak makna, tergantung mereka mau menyimpulkan maksud isyaratku itu. Isyarat agar mereka tidak memperlakukan Iwan seperti itu.

Isyarat berupa pertanyaan tentang kebenaran surat order itu.

Isyarat bahwa aku tidak mengerti apa yang terjadi.

”Serius, Sep.”

Begitu kira-kira ucapan Rais jika dilihat dari cara dia mengggerak bibirnya. Aku pun jadi terharu.

”Katanya serius, Wan.”

Bisikku pada Iwan. Ia melihat padaku, pandangannya seolah bertanya, serius, sep?. Aku mengangguk. Iwan menangis. Agaknya, jika aku yang bicara lelaki berambut landak ini percaya.

”Wan?”

Zaki mulai bicara lagi, agaknya ia juga terharu melihat Iwan menangis. Iwan mengangkat kepalanya, matanya sedikit terbuka. Tangannya sibuk menyeka air mata, dan mungkin sebentar lagi ingusnya pun akan ikut keluar.

”Masih ingat tiga jaketmu yang hilang itu?”

Iwan mengangguk. Ada marah di wajah itu. Tapi tersapu haru.

”Si Taufik yang ngambil jaketmu itu.”

”Dasalr iseng kamu Fik!. Bikin aku pusing saja!”

Iwan melempar bantal ke muka Taufik, langsung ditangkisnya. Tidak ada marah pada lemparan itu. Karena hati iwan sedang terharu atas anugerah yang sedang ia rasakan.

”Rais membawa jaket itu ke Bandung, ia tawarkan ke beberapa perusahaan kenalan ayahnya.”

”Dasalr kamu Is!”

Iwan melempar satu bantal lagi ke muka Rais, langsung ditangkisnya pula. Sama, tidak ada marah pada lemparan itu.

”Dari sekian perusahaan, baru dua yang merespon tawaran Rais. Surat Ordernya, itu yang kamu pegang.”

Iwan menangis. Terharu memiliki teman-teman yang peduli padanya. Seperti ketika tertawa, menangispun mata Iwan terpejam. Ide jail dari manusia paling jail sepesantren itu muncul.

Rais mengedipkan mata pada kami. Aku tidak tahu maksud kedipan itu. Rais mengendap-endap keluar, diikuti Taufik, lalu Zaki, kemudian Purnomo, Irvan ikut-ikutan. Aku tidak tega meninggalkan Iwan yang sedang menangis itu. Akhirnya aku diseret keluar oleh Purnomo. Sebelum pintu ditutup, Purnomo sempatkan mematikan lampu kamar. Di luar kami menahan tawa. Baru pertama kali ini aku menjaili teman. Taufik mulai menghitung. Pada hitungan kelima Iwan baru menyadari kamar sudah sepi.

”Woiii! Kenapa jadi gelap nih!”

* * *

Rais bercerita. Sejak lama ia bersimpati pada keteguhan Iwan untuk belajar di Pesantren sambil jualan. Sejak aku belum pindah ke sana. Rais berusaha mencari jalan keluar untuk menolong temannya itu. Awalnya, diam-diam Rais membuntuti Iwan hingga ke pasar. Di sana, ia melihat Iwan sedang dipalak oleh tiga preman pasar. Waktu itu ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak ingin Iwan tahu dirinya sedang dibuntuti.

Rais mengajak Purnomo untuk melabrak preman-preman itu. Terjadi perkelahian Rais dan Purnomo melawan tiga preman yang diceritakan Irfan waktu itu. Purnomo mengancam mereka agar jangan mengganggu Iwan lagi. Agaknya itu percakapan rahasia yang Irfan lihat waktu itu.

Lalu, cerita Purnomo tentang kondisi orang tua Iwan membuat Rais semakin terenyuh. Karena sifat jailnya sudah mengakar, ditambah ia mendapatkan teman setipe dengannya, Taufik si tukang jail, maka muncullah ide jail paling brilian yang pernah mereka lakukan sekaligus tidak berperikemanusiaan itu. Rais bertugas mencari klien yang berminat pada jaket kulit Iwan, Taufik sebagai penyedia sample produk, dan Purnomo bertugas untuk menutup-nutupi kasus ini agar tidak tersebar di kalangan asrama. Benar dugaanku waktu itu, Purnomo terlibat dalam konspirasi dengan duo jail itu untuk memberikan kejutan pada Iwan.

Rais berkomentar tentang aksi pengambilan sample yang Taufik lakukan.

”Meminjam, Sep. Bukan mencuri. Hanya saja dia tidak bilang dulu.”

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *