7 Warna Pelangi #37

Sang Pencinta

oleh :Usep Saepullah

Tema acara perpisahan besok adalah ‘Kalian adalah umat terbaik’, ustadz Entang Muchtar yang akan menyampaikan pidatonya dalam acara perpisahan itu.

Aku tersenyum, wajah sangar tapi berhati lembut, kubayangkan Umar Ibn Khattab dulu pasti seperti beliau.

Ustadz Entang selalu berceramah dengan bahasa Sunda, diselingi celetukan-celetukan humor yang membuat hadirin tersenyum, bahkan tertawa.

Pada bagian ini aku tidak jadi mensejajarkannya dengan Umar, karena Umar tidak mungkin bicara bahasa Sunda.

“Huaaaah”

Tanganku reflek menutup mulutku ketika menguap, mataku mulai terasa panas dan mengeluarkan air mata, ngantuk tapi otak melek, itulah pengaruh kopi.

Sirkuit mirror neuron system di otak Irvan bereaksi terhadap kantukku, ikut menguap.

Kucing yang sedang lewat dan melihat kami menguappun ikut-ikutan menguap. Aku yakin, kawan sekarang sedang menguap. Efek berantai yang sangat sulit dihindari.

Aku dan Irvan terus berpacu dengan waktu, karyaku ini akan menjadi background acara perpisahan.

Karya kaligrafiku sudah cukup banyak, tapi ini adalah karya perdana yang akan menjadi incaran kamera dan menjadi background photo kenangan teman-temanku.

‘Kuntum khaira ummah, ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuuna billah’

Satu baris kaligrafi Arab sudah tersusun di atas lantai kamar.

Aku berdiri, lalu melihatnya dari atas.

Kaligrafi Arab bergaya Farisi, pilihan yang tepat untuk karya yang sedang dikejar deadline.

Khat jenis ini sangat sederhana, sama seperti Riq’ah.

Tidak perlu diberi harakat apalagi pernak-pernik hiasan.

Bedanya, khat Riq’ah mudah dibaca, sedangkan Farisi agak sulit dibaca, hanya orang yang mengerti kaidah penulisan kaligrafi Arab saja yang bisa membaca khat jenis ini.

Warna kuning emas pilihan Irvan memang tepat, karena background layar tempat kaligrafi ini nanti ditempelkan, berwarna hijau tua.

Irvan memang ahlinya memadankan dan memadukan warna-warna. Tapi sayang, ia tidak bisa memadankan warna kulitnya.

Tugasku berikutnya adalah melapisi kaligrafi Arab itu dengan styrofoam, agar huruf menjadi tebal dan terlihat effect tiga dimensi.

Lembar demi lembar huruf dari kertas scotlite tersusun hingga membentuk kata, lalu kata demi kata disusun menjadi sebaris kalimat. Dengan guntingnya Irvan memang mahir mengkeluk kertas menjadi barang bernilai seni.

Bersamaan dengan itu, potong demi potong kisah hidupnya pun mengalir dari mulutnya.

Ternyata, ia tidak hanya pintar bercerita dalam diary, ia pun pintar dalam menceritakan kisah hidupnya, sepintar ia menggunting, menyusun dan merangkai kertas. Kadang aku dibuat tersenyum, lalu sedih, lalu tergelak mentertawakan kelakuan bodohnya, lalu sedih kembali, hingga mataku berair. Entah, aku tidak tahu, apakah ini air mata duka, haru atau air mata lelah karena tertawa.

“Sep, hidup adalah seni memainkan peran.”

Ungkapnya dengan senyum, tapi ada kilasan air mata di situ.

Kukatupkan bibirku, menghentikan komentar dan tawaku.

Aku ingin berbagi kisah denganmu kawan, pernahkah engkau mendengar kisah cinta paling menyedihkan abad ini.

Kisah cinta Irvan dan Lulu.

Kisah cinta mereka tidak seperti kisah Zainuddin dan Hayati dalam novel HAMKA, mereka dipaksa putus karena perbedaan status, harta benda atau adat istiadat, atau kisah Romeo dan Juliet.

Tidak pula seperti kisah Qais dan Laila dalam kisah Laila Majnun.

Bukan pula kisah cinta monyet yang hanya menjadi kenangan manis seperti cintaku pada Fira waktu TK, atau kisah cinta bertepuk sebelah tangan seperti cinta pamanku pada Aisyah puteri pak RT yang cantik jelita.

“Aku ditolak orang tua Lulu, karena kulitku tidak putih Sep.”

Aku tersentak tidak percaya. Otakku langsung terhubung dengan beberapa kejadian sebelumnya. Pantas sekali ia tidak pernah mau diajak main sepakbola, badminton dan seluruh aktifitas yang berpanas-panasan. Pastas saja ia selalu merawat kulitnya layaknya seorang gadis perawan. Pantas saja ia selalu membeli juice pepaya tanpa es, lalu berlama-lama di kamar mandi. Mungkin ia luluran di sana. Pantas saja dia sering mandi pakai air hangat, lalu dibilas dengan air dingin. Segala macam cara untuk memutihkan kulit sudah dia coba. Tapi kalau pigment dasarnya tidak putih, ya tetap saja gelap. Kasihan dia, di saat orang-orang bule sana ingin berkulit gelap, orang gelap berusaha menjadi kulit putih.

Kisah cinta Irvan Lulu sangat berbeda dengan seluruh kisah cinta yang ada di dunia.

Irvan dipaksa putus oleh orang tua Lulu, karena Irvan berkulit, maaf, tidak putih. Jangan bilang hitam, nanti dia marah. Kisah cinta yang unik bukan? Sebenarnya aku sendiri bingung, haruskah aku bersedih atau tertawa menanggapi kisah cinta aneh ini, tapi begitu adanya. Hingga membuatku terlihat gila, karena tertawa sambil menangis. Entah, aku juga bingung, apakah aku mesti tertawa atau menangis.

Kulit hitam. Alasan yang sangat tendesius, terlalu mengada-ada. Ini sudah masuk kategori SARA. Rasulullah saja tidak suka mengbedakan manusia berdasarkan ras dan warna kulit. Karena yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa.

“Apa aku harus operasi plastik?”

Tanyanya padaku. Aku terdiam menghentikan gerakan gunting. Pertanyaan ini sulit sekali untuk kujawab. Mengiyakan, berarti aku menyetujui praktek kufur terhadap karunia Allah. Tindakan bodoh, padahal dia pasti tahu, hitam, putih, kuning langsat, sawo matang, sawo busuk, semua adalah karunia Allah. Kenapa harus operasi plastik segala? Tapi, jika aku melarangnya, berarti aku tidak sensitif dengan masalah warna kulitnya.

“Operasi plastik itu sangat mahal Van.”

Akhirnya aku menemukan jawaban yang tepat, agaknya kalimat itu lebih cocok untuk orang yang tidak berduit.

“Iya juga sih.”

Timpalnya, ia terlihat kecewa dan sedih. Seperti itukah cinta jika sudah menginfeksi, seperti virus, membuat seseorang merasa kepanasan di tengah hujan salju atau merasa kedinginan di terik padang pasir. Kisah Irvan hampir sama denganku, tapi alasan penolakannya saja yang berbeda. Aku…, sudahlah kita bahas lain waktu saja.

Penolakan Irvan ini karena ibunya Lulu trauma berat dengan orang berkulit hitam. Ketika ibunya melahirkannya, ayahnya mencampakkan mereka berdua, dia kawin lagi dengan wanita yang lebih muda dan bahenol. Ayahnya Lulu itu berkulit hitam. Kisah lainnya, ibunya pernah rugi besar dalam berbisnis karena dikhianati temannya, teman ibunya itu berkulit hitam juga. Serta masih banyak lagi kisah orang yang menyakiti hatinya, semuanya punya satu kesamaan, berkulit hitam. Akhirnya ibunya mengambil satu kesimpulan :
“Katakan tidak pada kulit hitam!”

Tega, temanku disejajarkan dengan narkoba.

Lulu terlahir bagai mutiara dengan kulit kuning langsat, cantik, manis dengan kerudung warna pink. Itu kesan pertamaku ketika kulihat photonya di dompet hitam kumel si Irvan. Menurutku kalau memang ia berniat ingin ganti kulit, seharusnya dimulai dari warna dompet, jangan hitam.

Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika Lulu terlahir berkulit hitam seperti ayahnya. Apakah ia akan dicampakkan ibunya karena dianggap pembawa sial? Apakah drama cinta ini tidak akan terjadi? Serta pertanyaan yang paling fundamental adalah, apakah Irvan akan mencintai Lulu jika berkulit hitam? Ketika kutanyakan hal itu pada Irvan, ia menjawab :
“Aku akan mencintai Lulu apa adanya.”

Irvan memang pencinta sejati. Ia berdiri lalu melangkah ke pintu kamar yang kami biarkan sedikit terbuka. Di sana, ia tuangkan ampas kopi ke dalam tempat sampah.

“Lulu sendiri bagaimana?”

“Maksudmu?”

“Apakah ia mencintaimu apa adanya?”

“Ya, tapi,”

“Tapi bagaimana Van?”

“Ia wanita shalihah, itu yang membuatku semakin mencintainya”

“Maksudmu?”

“Ia lebih memilih mengikuti keputusan ibunya.”

Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Cinta memang aneh, semakin susah diraih, maka perasaan itu semakin dalam. Kuambil gelas kopiku, lalu menyeruputnya, pahit-pahit manis, rasa kantuk sedikit terobati.

Kulirik jam tanganku. Jam dua dini hari. Aku tersenyum, aku sudah memecahkan record begadangku sendiri. Memecahkan record begadang Irvan? Naudzubillaah!!

“Kenapa enggak cari wanita lain saja Van?”

Saran dalam pertanyaan basi yang sangat tidak berperasaan keluar dari mulutku. Sangat mudah diucapkan tapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Pertanyaan sama yang pernah dilontarkan Eman Sulaeman padaku.

“Cinta itu adanya di sini, Sep.” Irvan menunjuk dadanya

“Cinta itu bukan barang yang bisa dengan mudah dialihkan begitu saja ke sembarang tempat. Ketika kuserahkan cinta pada seseorang, maka selamanya cinta itu akan melekat padanya, tidak akan pernah bisa diambil kembali. Jika cinta berubah menjadi benci, justeru itulah bukti dalamnya cinta.”

Jawab Irvan panjang lebar, aku mengangguk-angguk setuju dengan pendapatnya, karena akupun pernah merasakanya. Irvan adalah sang pencinta, ia layak disejajarkan dengan Qais, Zainuddin, Romeo dan tentu saja aku.

“Hoooy!!! Malah pada curhat, udah selesai belum!? Teman-teman pada nunggu tuh di gedung, semua sudah beres tinggal kerjaan kalian!”

Teriakan Taufik Husein di pintu kamar mengagetkan kami berdua.

“Sedikit lagi, bawa saja yang sudah. Nanti saya dan Asep nyusul ke sana!”

Taufik Husein mengambil huruf-huruf yang berjejer di lantai kamar, lalu memasukkannya ke tas ranselnya. Ia bergegas pergi lagi.

Agar pekerjaan dekorasi cepat selesai, kami melakukan tugas ini secara estafet, Irfan dan aku yang membuat kaligrafi. Setiap selesai satu baris kalimat, Taufik Husein dan Raisul Balad bergantian mengantar jemput karya kami, karena jarak asrama ke gedung cukup jauh, mereka menggunakan motor, sedangkan Purnomo dan beberapa teman kami lainnya yang memasang huruf-huruf itu di bentangan layar background. Tapi, khusus untuk huruf Arab, aku dan Irvan sendiri yang harus datang ke sana. Karena hanya kami yang tahu cara menyusun huruf-huruf Arab itu. Sementara Iwan tertidur pulas di samping kami sejak jam sepuluh malam, di atas ranjang kayu kesayangan kami, ia tidur sambil tersenyum, agaknya ia sedang mimpi menghitung laba. Masih sempatnya ia berjualan sehari sebelum hari perpisahan kami. Zaki? Agaknya ia tengah shalat tahajjud.
“Sampai di mana tadi Sep?”

Tanya Irvan sambil menyendok kopi, lalu menuangkannya ke dalam gelas, begitu juga dengan gula pasirnya. Setelah ia rasa cukup, ia tuangkan air panas dari termos. Asap mengepul dari gelas itu, wangi khas kopi kembali memenuhi ruangan kecil kami. Itu adalah gelas kopi panas yang keempat, sedangkan aku, yang kedua saja belum habis.

“Sekarang giliranmu cerita Sep.”
Pintanya, karena aku tidak menjawab pertanyaannya yang pertama tadi.

Bayangan paman berkelebat, tatapan matanya tajam bagai elang, mulutnya menyeringai galak, siap menelanjangi otakku yang masih lugu. Jika ini terjadi di hadapan paman ketika umurku belum genap lima tahun, maka akan muncul percakapan berikut :
“Pelajaran kesekian. Cinta, cinta itu apa ya?”

“Cinta itu apa mang?” Tanyaku penasaran.

Dia tertegun, mikir sambil garuk-garuk dagu.

“Hmmm. Mamang bingung, ada yang bilang cinta itu anugerah, tapi ada juga yang bilang cinta itu musibah. Tapi yang pasti, mamang yakin cinta itu isi pulpen.”

Paman bagaimana kabarmu sekarang. Aku merindukanmu.

manbaul-huda.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *