Sejarah PPI 110

Sejarah panjang Pondok Pesantren Persatuan Islam 110 Manba’ul Huda dimulai dari kehadiran seorang tokoh Persatuan Islam (PERSIS) Al-Ustadz H. Itoh Qomaruddin (Alm) sekitar tahun 1960-an di Cijawura Girang. Saat itu beliau berkeinginan membangkitkan kembali Ghiroh Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah di daerah sekitar tempat tinggalnya.

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah pengajian umum yang diselenggarakan secara rutin tiap malam Jum’at bagi masyarakat cijawura Girang dan sekitarnya yang bertempat di rumah pribadi beliau di jalan Cijawura Girang IV, dengan materi Aqidah dilaksanakan pada malam Jum’at pertama dan ketiga yang diisi oleh beliau sendiri, malam Jum’at kedua diisi oleh Al-Ustadz H. Usman Solehuddin dengan materi ibadah, malam Jum’at keempat diisi oleh Al-Ustadz H. Mahmud dengan materi Tafsir Al-Qur’an, dan untuk malam Jum’at kelima diisi oleh Al-Ustadz H. I. Shodikin.

Pahit getir perjuangan beliau rasakan, terutama penolakan dari masyarakat yang masih memegang kuat ajaran Islam yang bercampur dengan Takhayuk, Bid’ah, serta Khurafat yang masih sangat banyak pada masa itu. Namun, perlahan tapi pasti, usaha yang dilakukan beliau ternyata masih mendapat respon yang sngat mengembirakan dan sebagian besar masyarakat , terutama dari masyarakat yang memiliki pandangan yang lebih moderat dalam masalah keagamaan.

Melihat kondisi yang menggembirakan tersebut, beliau merasa perlu mendirikan sarana pendidikan yang lebih representatif, dan untuk itu, beberapa tahun setelahnya berdirilah sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Manba’ul Huda yang menyelenggarakan pendidikan tingkat Diniyyah Ula bagi anak-anak dengan lokasi belajar di mesjid Manba’ul Huda pada pagi hari dan di kediaman beliau untuk malam harinya. Status Madrasah Manba’ul Huda saat itu berada di bawah naungan Pimpinan Cabang Persatuan Islam Buah Batu, yang dipimpin oleh beliau sendiri.

Seiring perjalanan waktu, pada setiap tahunnya, santri yang beminat belajar di madrasah Manba’ul Huda semakin bertambah banyak sehingga memerlukan perhatian dan sarana yang ebih memadai. Pada tahun 1963 didirikan bangunan mdrasah dengan ukuran 10 x 8 m sebagai tempat kegiatan pendidikan yang terletak di samping Mesjid. Pada tahun 1983, Al-Ustadz H. Itoh Qomaruddin wafat. Adapun sebagai penanggung jawab kegiatan mesjid dan Madrsaha Manba’ul Huda , posisinya digantikan oleh Al-Ustadz H. Amin Al-Husaeni yang juga merupakan putra sulungnya.

Setelah pembinaan berjalan lama, maka pemahaman masyarakat semakin membaik terhadap ajaran agama Islam yang berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang berdampak kepada semakin besarnya minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di Madrsah Manba’ul Huda, Pimpinan Madrasah Mamba’ul Huda saat itu, H. Amin Al-Husaeni merasa perlu untuk mebangun sarana fisik yang lebih besar lagi, karena bangunan yang ada, dianggap sudah kurang representatif lagi.

Tahun 1989, Madrasah menerima wakaf seluas 489 m2 yang terletak disebelah selatan bangunan Mesjid dan Madrsaha lama dari Hj. Anikah yang merupkan ibu dari H. Amin Al-Husaeni. Pada tahun itu juga, dengan dana yang tersedia, maka dimulailah pembangunan gedung madrasah permanen dan terdiri dari 2 lantai yang pembangunannya dimulai pada tahun 1989 serta selesai pada tahun 1992.

Bangunan tersebut terdiri dari 2 lantai dangan 6 ruangan kelas, 1 ruangan Kator dan 4 WC dengan luas bangunan 405 m2 dan luas tanah 489 m2. Setelah bangunan baru selesai dibangun, maka kegiatan Madrasah Manba’ul Huda dipindahkan dari bangunan lama ke bangunan baru, sementara banguna lama dijadikan tambahan perluasan mesjid.

Tahun 1992, selain terjadi perpindahan kagiatan madrasah dari bangunan lama ke bangunan baru, pada tahun itu juga didirikan jenjang pendidikan tingkat Tajhiziyyah dengan jumlah santri sebanyak 7 orang, namun karena keterbatasan dalam hal tenaga pelaksana serta administrasi, jenjang pendidikan untk tingkat tajhiziyyah tidak berlanjut.

Pada tahun 1995, Pimpinan Cabang Persatuan Islam Margacinta, sebagai salah satu wilayah pemekaran dari Kotamadya Bandung., resmi terbentuk dan terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Cabang Persatuan Islam Margacinta adalah H. Amin Al-Husaeni. Program pertama yang dilakukan adalah pembenahan intern organisasi serta pengajuan peningkatan status Madrasah Manba’ul Huda menjadi Pesantren Persatuan Islam kepada Pimpinan Pusat Persatuan Islam. Pada tanggal 12 Januari 1996 bersamaan dengan peresmian pemberian nama PESANTREN PERSATUAN ISLAM 110 dari Pimpinan Pusat Persatuan Islam, diresmikan juga jenjang pendidikan tingkat Tsanawiyyah yang hingga saat ini masih terus berjalan, dan bahkan saat ini telah memiliki tingkat Mu’allimin dan Madrasah Ibtidaiyyah.

Penambahan kata Pondok dalam nama resmi pesantren dimaksudkan sebagai pemberi serta penguat identitas dimana Pesantren tersebut telah memiliki fasilitas pondokan bagi santri yang hendak mukim, sedangkan nama Manba’ul Huda ditambahkan karena memiliki sejarah yang panjang dan bermakna, sehingga nama lengkap pesantren ini adalah Pondok Pesantren Persatuan Islam 110 Manba’ul Huda.

Pesantren saat ini sedang bebenah diri, baik dari segi fisik bangunan maupun dari segi peningkatan kualitas Santri dan Asatidz. Berbagai program telah dan akan diluncurkan guna perubahan kearah yang lebih baik lagi, yang semoga hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat, khususnya Ummat Islam.